
Repelita Tel Aviv - Suasana mencekam menyelimuti Israel di hari ke-13 perang melawan Iran dengan warga mengalami tekanan psikologis berat.
Koresponden BBC di Tel Aviv mengungkapkan bahwa warga Israel tidak bisa tidur karena tekanan psikologis dan kelelahan yang jelas terlihat di wajah mereka.
Roket-roket Hizbullah dilaporkan mampu menembus semua sistem pertahanan dengan cepat, menyebabkan kerusakan material tanpa memicu sirene peringatan.
Laporan dari koresponden BBC di Tel Aviv, Hugo Bachega, menggambarkan situasi yang semakin mencekam di Israel.
"Warga Israel tidak bisa tidur karena tekanan psikologis dan kelelahan yang jelas terlihat di wajah mereka," tulis Bachega dalam laporannya sebagaimana dikutip, Kamis, 12 Maret 2026.
Seorang warga Israel bernama Tom Dan mengungkapkan perasaannya setelah keluar dari tempat perlindungan bom.
"Sudah lima tahun penuh gejolak terus-menerus. Itu adalah reformasi peradilan, kemudian 7 Oktober, setahun yang lalu. Sekarang kita mengalami ini, dan kita juga mengalami Lebanon di tengah-tengahnya," katanya.
Di sisi lain, seorang warga Tel Aviv yang memiliki kedai kopi di pusat kota menyuarakan kritiknya terhadap perang.
"Saya merasa sedih, takut, dan frustrasi, dan ini adalah saat yang buruk bagi Israel. Israel tidak boleh menyerang Iran - itu bukan polisi dunia. Tidak ada hak berdasarkan hukum internasional. Anda tidak berhak menyerang negara yang jauh dari sini," ujarnya.
CNN juga melaporkan bahwa Israel bersiap menghadapi kemungkinan eskalasi besar peluncuran roket dan rudal oleh Iran dan Hizbullah malam ini.
CNN menyebut Benjamin Netanyahu telah memanggil pertemuan para pejabat politik dan keamanan tingkat tinggi untuk menilai situasi tersebut.
Kekhawatiran ini muncul setelah Iran dan Hizbullah melancarkan serangan gabungan yang menargetkan lebih dari 50 sasaran di wilayah Israel.
Sasaran tersebut termasuk pangkalan militer di Haifa, Tel Aviv, dan Beersheba yang menjadi pusat kekuatan Zionis.
Serangan gabungan ini melibatkan rudal dari Iran yang dilaksanakan bersamaan dengan tembakan rudal dan drone Hizbullah dari Lebanon.
Media Israel melaporkan bahwa militer Israel sedang bersiap menghadapi kemungkinan eskalasi besar yang akan melibatkan gelombang rudal baru dari Iran.
Pertemuan darurat yang dipanggil Netanyahu membahas langkah-langkah antisipasi terhadap serangan yang diperkirakan akan lebih dahsyat dari sebelumnya.
Sementara itu, Brigadir Jenderal Ali Fadavi, wakil komandan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) mengatakan bahwa jika musuh memenangkan perang, mereka tidak akan membutuhkan seluruh dunia untuk menengahi.
"Kami memiliki rudal yang diluncurkan dari bawah air dengan kecepatan (100 meter per detik), dan tidak ada seorang pun di dunia yang memiliki teknologi ini kecuali kami dan Rusia, dan kami mungkin akan menggunakannya dalam beberapa hari mendatang," kata Fadavi seperti dikutip en.iz.ru.
Pernyataan ini menjadi ancaman serius bagi armada laut Amerika Serikat dan sekutunya di kawasan Timur Tengah.
Rudal bawah air dengan kecepatan 100 meter per detik sangat sulit dideteksi dan dicegat oleh sistem pertahanan konvensional.
Fadavi mengungkapkan jika rakyat Amerika mengetahui jumlah pajak yang dihabiskan untuk membangun pangkalan militer di Timur Tengah, mereka akan memberontak hari ini.
Menurutnya, tidak ada kapal angkatan laut Amerika dalam radius 700 kilometer dari Iran saat ini.
"Angkatan Laut AS melarikan diri karena menyadari bahwa kami memiliki rencana khusus untuk menenggelamkan kapal induk mereka," katanya.
Klaim lain yang beredar adalah keberhasilan menembak jatuh pesawat tempur F-15 Amerika di selatan Teheran.
Pada 5 Maret 2026, Kantor Berita Mehran melaporkan bahwa pasukan pertahanan udara Republik Islam berhasil menembak jatuh sebuah jet tempur F-15E Amerika di atas wilayah udara Iran.
Namun, Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) membantah klaim tersebut dan menyebutnya tidak berdasar.
Menurut laporan, pesawat tersebut ditembak jatuh di wilayah Pegunungan Alborz, selatan Teheran.
Beberapa sumber menyebutkan bahwa kedua pilot berhasil menyelamatkan diri dengan kursi lontar.
Hingga saat ini, militer Amerika belum memberikan konfirmasi resmi terkait insiden tersebut.
Perang antara Iran melawan koalisi Amerika-Israel yang dimulai sejak 28 Februari 2026 kini memasuki fase baru.
Teheran mengumumkan perubahan strategi dengan hanya akan menggunakan rudal berhulu ledak minimal satu ton ke depan.
Komandan IRGC Hossein Majid menegaskan kepada media Iran, Republik Islam tidak akan lagi menggunakan rudal dengan hulu peledak kurang dari satu ton.
Iran akan memakai semua stok rudalnya yang memiliki hulu ledak minimal satu ton untuk melancarkan gempuran masif ke Israel.
IRGC juga membantah klaim Presiden Trump bahwa perang akan segera berakhir sesuai keinginan Amerika.
"Kamilah yang akan menentukan akhir perang," demikian pernyataan IRGC pada Selasa, 10 Maret, seperti dikutip AFP.
"Situasi dan status masa depan kawasan ini sekarang berada di tangan angkatan bersenjata kami. Pasukan Amerika tidak akan mengakhiri perang," lanjut IRGC.
Di Lebanon, warga sipil juga merasakan dampak berat dari perang yang meluas ini.
Seorang ibu dengan bayi berusia dua bulan yang diwawancarai BBC mengaku hanya membawa popok saat mengungsi.
"Saya bahkan tidak membawa susu," katanya, sambil mengungkapkan kekhawatirannya tentang apa yang akan terjadi malam ini.
Sementara itu, warga Iran di berbagai kota menggambarkan campuran antara kesedihan dan harapan.
Seorang penduduk di Teheran timur mengatakan kepada BBC Persia bahwa mereka terbangun oleh suara ledakan dan jendela yang bergetar.
"Saya sangat berduka bahwa dengan setiap ledakan, sebagian dari modal manusia dan material negara lenyap ke udara tipis, dan dengan setiap hari perang berlanjut, kita tertinggal satu tahun lagi dalam pembangunan ekonomi," kata Amir, seorang penduduk Teheran.
Warga Israel alami tekanan psikologis berat dan kelelahan akibat perang yang berkepanjangan dengan rudal Hizbullah mampu menembus sistem pertahanan tanpa memicu sirene.
Iran dan Hizbullah siap luncurkan eskalasi besar dengan rudal bawah air berkecepatan 100 meter per detik yang hanya dimiliki Iran dan Rusia.
Netanyahu menggelar rapat darurat pejabat tinggi untuk menilai situasi dan bersiap menghadapi kemungkinan eskalasi besar peluncuran roket dan rudal oleh Iran dan Hizbullah malam ini.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok

