Repelita Jakarta - Ketegangan geopolitik global semakin memuncak seiring eskalasi perang antara Iran melawan pasukan gabungan Amerika Serikat serta Israel yang terus meluas ke berbagai wilayah.
Presiden China Xi Jinping mengeluarkan pernyataan tegas yang mendesak Tentara Pembebasan Rakyat meningkatkan kesiapan tempur menghadapi kemungkinan konflik besar.
Pernyataan tersebut disampaikan pada Jumat enam Maret dua ribu dua puluh enam sebagaimana dikutip dari media China Army di tengah dinamika internasional yang berubah cepat.
Xi Jinping menekankan perlunya militer China bersiap melawan Barat yang sedang mengalami kemunduran strategis.
Banyak pengamat menilai pernyataan ini sebagai salah satu sinyal paling serius dari Beijing terkait potensi keterlibatan dalam konflik Timur Tengah.
Korea Utara menyatakan dukungan terbuka penuh terhadap Iran dalam menghadapi tekanan militer dari Amerika Serikat dan Israel.
Pyongyang bahkan menyatakan kesiapan bergabung dalam perang melawan AS serta Israel untuk mendukung Teheran.
Kim Jong Un melontarkan pernyataan provokatif bahwa entitas Zionis akan lenyap ketika waktunya tiba seperti dikutip pada Kamis lima Maret dua ribu dua puluh enam.
Sebagai bentuk keseriusan Korea Utara melakukan demonstrasi kekuatan melalui peluncuran tiga rudal balistik antarbenua Hwasong 20 nuklir di tengah kondisi cuaca ekstrem.
Uji coba tersebut dipandang sebagai pesan deterensi keras kepada Barat agar tidak memperluas konflik global lebih jauh.
Rusia turut mengambil sikap tegas melalui Menteri Luar Negeri Sergey Lavrov yang menegaskan akan memastikan invasi AS serta Israel terhadap Iran segera dihentikan.
Pernyataan Lavrov disampaikan ketika perang memasuki hari keenam sejak serangan gabungan pada dua puluh delapan Februari dua ribu dua puluh enam.
Rusia bersama negara-negara pencinta damai lainnya berjanji melakukan segala upaya agar operasi militer tersebut menjadi mustahil dilakukan.
Presiden Vladimir Putin mengancam akan menghentikan pasokan gas ke negara-negara Eropa yang mendukung Amerika Serikat dalam menyerang Iran.
Putin menjelaskan bahwa Rusia akan beralih ke pasar baru yang lebih menguntungkan karena Eropa terus mengurangi ketergantungan pada energi Rusia.
Ancaman tersebut berpotensi menciptakan guncangan ekonomi besar mengingat banyak negara Eropa masih bergantung pada pasokan gas Rusia untuk kebutuhan industri serta rumah tangga.
Konflik yang awalnya regional kini menjadi arena persaingan kekuatan besar dunia sehingga dunia memantau perkembangan dengan penuh kewaspadaan tinggi.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok

