Repelita Jakarta - Situasi memilukan melanda Bandara Ben Gurion sebagai pintu gerbang utama Israel di tengah eskalasi perang dengan Iran.
Ribuan warga sipil memadati terminal bukan untuk bepergian melainkan untuk segera melarikan diri dari konflik yang semakin memburuk.
Sejak pecahnya perang pada tanggal dua puluh delapan Februari dua ribu dua puluh enam bandara tersebut berubah menjadi tempat penantian penuh ketegangan.
Otoritas Israel terpaksa menutup bandara serta seluruh wilayah udara negara setelah Iran melancarkan serangan rudal balistik besar-besaran sebagai balasan atas agresi gabungan Amerika Serikat dan Israel.
Serangan tersebut menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Sayyid Ali Khamenei sehingga memicu respons keras dari Teheran.
Akibat penutupan tersebut sekitar empat puluh dua ribu penumpang yang dijadwalkan tiba di Israel dalam dua hari pertama perang tidak dapat melanjutkan perjalanan.
Dari jumlah itu tiga puluh lima ribu di antaranya merupakan warga negara Israel yang terjebak di dalam negeri.
Kepanikan semakin memuncak ketika Korps Garda Revolusi Islam Iran mengumumkan peluncuran rudal balistik Khorramshahr 4 menuju Bandara Ben Gurion pada Kamis dini hari lima Maret dua ribu dua puluh enam.
Rudal dengan hulu ledak berat satu hingga satu koma delapan ton itu ditargetkan ke pusat kota Tel Aviv serta markas Skuadron ke dua puluh tujuh Angkatan Udara Israel di kompleks bandara.
IRGC menyatakan rudal tersebut berhasil menembus beberapa lapisan pertahanan udara dan menciptakan kondisi sulit bagi para agresor.
Video yang beredar menunjukkan warga Tel Aviv berlarian menuju tempat perlindungan diiringi suara sirene meraung-raung di seluruh kota.
Sekitar dua ratus sembilan puluh satu ribu warga Israel yang sedang berada di luar negeri juga terjebak dan tidak dapat kembali ke tanah air mereka.
Kementerian Luar Negeri Israel mencatat tujuh puluh empat penerbangan dibatalkan pada dua puluh delapan Februari dan seratus sembilan puluh satu penerbangan lainnya batal pada satu Maret.
Jika penutupan berlanjut hingga empat Maret jumlah penumpang terdampak diperkirakan mencapai seratus tiga puluh tiga ribu orang.
Pemerintah Israel akhirnya membuka kembali bandara secara terbatas mulai Rabu malam empat Maret untuk memulangkan sekitar seratus ribu warga yang terjebak di luar negeri.
Menteri Perhubungan Miri Regev mengumumkan operasional dua puluh empat jam dengan pembatasan ketat demi keamanan.
Dalam dua puluh empat jam pertama hanya satu pesawat per jam yang diizinkan mendarat dengan kapasitas sekitar dua ratus orang per pesawat.
Tidak ada penumpang yang diperbolehkan meninggalkan Israel sehingga semua penerbangan inbound khusus untuk repatriasi warga.
Maskapai El Al menjadwalkan penerbangan penyelamatan dari berbagai kota seperti New York Miami Los Angeles Bangkok Athena London Paris dan Roma.
Seorang peziarah asal Rumania Mariana Muicaru menceritakan kepanikan ekstrem saat terjebak di Israel.
Ia menyebut menelepon anak-anaknya jam tiga pagi untuk meminta maaf karena merasa akan mati dan menyampaikan cinta terakhir.
Warga Inggris Adam Barton yang berhasil dievakuasi dari Abu Dhabi mengaku lega setelah menerima peringatan rudal di ponselnya.
Pemerintah Amerika Serikat mengimbau warganya segera meninggalkan lebih dari selusin negara Timur Tengah termasuk Israel.
Duta Besar AS untuk Israel Mike Huckabee menyarankan warga AS menggunakan bus ke resor Mesir di Sharm el-Sheikh dan Taba karena bandara belum sepenuhnya dibuka.
Italia Jerman Prancis dan Inggris juga melakukan upaya evakuasi besar-besaran untuk warganya yang terjebak di kawasan konflik.
Pemandangan ribuan warga berebut keluar dari Bandara Ben Gurion menjadi simbol ironi atas narasi Tanah yang Dijanjikan yang selama ini dipromosikan.
Ketika rudal mulai berjatuhan tempat yang dijanjikan sebagai surga aman berubah menjadi sumber ketakutan dan pelarian massal.
Mantan penerbang tempur TNI AU Marsekal Pertama TNI Purn Agung Sasongkojati menilai mitos keunggulan udara Israel telah runtuh secara permanen.
Keunggulan pesawat tempur menjadi tidak relevan ketika pangkalan pendukung seperti landasan pacu dan depot bahan bakar lumpuh akibat serangan rudal.
Bandara Ben Gurion yang dulu menjadi simbol konektivitas dan kekuatan kini hanya menjadi latar kepanikan dan ketakutan warganya sendiri.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok

