Repelita Jakarta - Polemik seputar program Makan Bergizi Gratis semakin memanas setelah Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Gadjah Mada Tiyo Ardianto menyampaikan kritik tajam terhadap tata kelola program tersebut.
Tiyo menyoroti potensi kerawanan dalam pengelolaan dapur atau Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi yang dinilai masih membutuhkan pengawasan ketat agar tidak membuka celah penyalahgunaan anggaran.
Kritik tersebut langsung mendapat tanggapan dari Kepala Badan Gizi Nasional yang menilai gaya penyampaian Tiyo mirip dengan tokoh aktivis reformasi Budiman Sudjatmiko.
Menurut Kepala BGN gaya bicara Tiyo tetap menjaga etika meskipun tegas karena tidak menggunakan kata-kata kasar seperti menyebut presiden bodoh atau sejenisnya.
Ia menegaskan bahwa kritik dari kalangan mahasiswa tetap memiliki tempat penting dalam demokrasi Indonesia.
Kampus selama ini sering menjadi sumber kritik konstruktif terhadap kebijakan pemerintah ketika dianggap menyimpang dari kepentingan rakyat.
Program Makan Bergizi Gratis yang digagas pemerintahan Prabowo Subianto memang menjadi salah satu kebijakan paling besar sekaligus paling kontroversial sejak awal pelaksanaan.
Perdebatan publik terus berlanjut karena menyangkut pengelolaan anggaran besar serta dampaknya terhadap pemenuhan gizi masyarakat.
Kepala Badan Gizi Nasional juga menyampaikan apresiasi kepada berbagai mitra di daerah yang menjalankan program tersebut di lapangan.
Menurutnya keberhasilan program tidak hanya bergantung pada pemerintah pusat melainkan juga pada keterlibatan aktif berbagai pihak terkait.
Pihak berwenang menekankan pentingnya pengawasan bersama agar program dapat berjalan optimal tanpa penyimpangan.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok

