
Repelita Teheran - Amerika dan Israel nampaknya benar-benar salah perhitungan karena serangan yang menewaskan Ayatollah Ali Khamenei nyatanya justru membuat Iran makin ganas dan beringas.
Negara tersebut seakan masuk ke dalam mode autopilot yang lebih agresif dengan Korps Garda Revolusi Islam atau IRGC menggempur berbagai lokasi yang terafiliasi dengan Amerika Serikat dan Israel di Timur Tengah.
IRGC juga menutup total Selat Hormuz dan tentara Amerika Serikat mulai menjadi korban jiwa dalam konflik yang kian tak terkendali di kawasan.
Ambisi Presiden Donald Trump meraih kemenangan kilat layaknya di Venezuela seketika gagal total karena seluruh pangkalan militer AS kini menjadi target hujan rudal Teheran.
Kondisi serupa dirasakan warga Israel karena sejak balasan pertama mereka tidak ada yang berani keluar rumah dan memilih bertahan di dalam bunker.
Bahkan pesawat kenegaraan Israel Wing of Zion telah diungsikan ke Berlin Jerman guna menghindari serangan dari pasukan Iran.
Lantas mengapa Iran justru semakin beringas setelah kepergian Ayatollah Ali Khamenei dari panggung politik.
Amerika Serikat kini harus menghadapi kenyataan pahit bahwa Iran bukanlah sebuah piramida tunggal dengan satu orang di puncaknya.
Iran adalah negara hirarki yang saling terhubung dengan pusat-pusat kekuasaan yang saling tumpang tindih mulai dari kantor pemimpin tertinggi hingga intelijen dan penjaga gerbang ulama.
Dalam sistem seperti ini menghilangkan satu simpul bahkan yang paling simbolis sekalipun tidak serta merta meruntuhkan seluruh struktur pemerintahan.
Redundansi dan rantai komando pengganti adalah ciri khas dari desain pemerintahan teokrasi Iran yang telah dibangun puluhan tahun.
Oleh karena itu narasi pemenggalan kepala rezim yang dianggap sukses oleh Trump di Venezuela kini lebih seperti pertaruhan pada kekacauan ketika dilakukan terhadap Ayatollah.
Teheran telah bergerak cepat dengan membentuk dewan sementara yang terdiri dari tiga orang untuk mengambil alih kekuasaan eksekutif.
Berdasarkan konstitusi Iran pemilihan pemimpin tertinggi baru menjadi wewenang majelis pakar yang beranggotakan 88 orang dan dipilih lewat pemilihan umum untuk masa jabatan 8 tahun.
Dengan mengacu pada mekanisme konstitusional dan mengaktifkan pengaturan pemerintahan sementara Iran bertujuan memberi sinyal bahwa sistem tetap utuh meskipun kehilangan tokoh puncaknya.
Sejarah menunjukkan bahwa serangan eksternal justru cenderung memperkuat rezim dan bukan menggulingkannya karena serangan membuat nasionalisme akan muncul dan perbedaan pendapat akan dicap sebagai pengkhianatan.
Dari sisi militer Iran kini menerapkan taktik perang tanpa kepala yang merupakan operasionalisasi langsung dari doktrin mosaic defense atau pertahanan mosaik.
Doktrin ini dirancang khusus oleh IRGC untuk menghadapi skenario pemenggalan pucuk pimpinan oleh militer yang lebih superior seperti Amerika Serikat.
Cara kerjanya adalah dengan melakukan desentralisasi di mana struktur komando IRGC terbagi menjadi 31 unit independen satu untuk Teheran dan 30 untuk provinsi lainnya.
Komandan di tiap daerah punya otonomi penuh untuk memutuskan kapan harus meluncurkan rudal drone atau melakukan taktik gerilya tanpa perlu izin dari pusat.
Hal ini membuat Amerika Serikat dan Israel mustahil meraih kemenangan cepat karena meskipun markas besar di Teheran telah dihancurkan 30 pusat komando lainnya tetap aktif dan terus melawan.
Ancaman paling konstan terjadi di Selat Hormuz di mana Angkatan laut IRGC terus menebar ranjau laut dan menggunakan taktik guna menyandera 20 persen pasokan minyak dunia.
Struktur yang terdesentralisasi ini menciptakan faktor ketidakpastian yang tinggi bagi Washington karena Amerika Serikat tidak tahu harus bernegosiasi dengan siapa.
Para petinggi Iran dilaporkan jauh lebih takut menyerah daripada takut berperang karena Financial Times melaporkan Teheran percaya bisa bertahan dalam pertempuran jangka panjang.
Pejabat senior Iran Ali Larijani secara tegas telah menutup pintu negosiasi dengan Amerika Serikat dengan menuding Donald Trump telah menjerumuskan kawasan ke dalam kekacauan.
Ia juga menyebut bahwa rakyat Iran hanya sedang membela diri dan tidak melancarkan invasi ke negara mana pun.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi juga menolak peringatan Trump agar tidak membalas serangan besar besaran tersebut pada Minggu 1 Maret 2026.
Strategi Iran saat ini adalah menimbulkan kerusakan sebesar mungkin pada ekonomi global dan pasukan AS agar biaya perang ini menjadi terlalu mahal bagi Trump.
Kenaikan harga minyak dan bertambahnya korban jiwa di pihak Amerika akan jadi pukulan telak bagi Trump menjelang pemilihan paruh waktu.
Tewasnya Ayatollah Ali Khamenei ternyata tidak membuat Teheran berlutut karena kematiannya justru membuka kotak pandora peperangan asimetris yang sangat sulit dihentikan.
Dengan sistem pemerintahan berlapis dan doktrin pertahanan mosaik Teheran telah membuktikan bahwa mereka adalah lawan yang jauh lebih tangguh dibandingkan Venezuela.
IRGC terus melancarkan aksi balasan ke sejumlah pangkalan militer Amerika di Timur Tengah dan kawasan Israel melalui Operasi Janji Setia 4.
Serangan dengan sandi Operasi Janji Setia 4 ini menjangkau lebih banyak target musuh dengan kekuatan besar dari pasukan militer Iran.
"Angkatan bersenjata Iran memberikan pukulan berat dan telak kepada pangkalan musuh dan pusat-pusat sensitif dan strategis di wilayah tersebut," kata seorang juru bicara Markas Besar Pusat Khatam al-Anbiya pada Rabu 4 Maret 2026.
Sebelumnya Korps Garda Revolusi Islam juga mengumumkan peluncuran gelombang ke-16 operasi tersebut.
Angkatan Udara IRGC melakukan serangan rudal dan drone besar-besaran terhadap target di wilayah yang diduduki zionis Israel.
Operasi True Promise 4 atau Janji Setia 4 menandai respons signifikan dari pasukan militer Teheran terhadap agresi berkelanjutan rezim Zionis dan AS terhadap rakyat Iran.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengaku kaget dengan serangan balasan dari Teheran karena konflik dan adu rudal jadi menyebar ke beberapa negara.
Ia mengaku tidak menyangka bahwa Iran berani melakukan serangan sampai membuat konflik melebar ke negara-negara tetangga.
"Sebut saja mereka neutral kan mereka hidup bersama untuk waktu yang lama saya pikir mereka terkejut saya juga terkejut saya pikir begitu dan sekarang negara-negara itu semua berperang melawan mereka dan berperang dengan sangat keras melawan mereka," katanya.
"Suatu hari nanti mereka akan menulis sebuah cerita dan mereka akan mengatakan mengapa mereka melakukan itu tetapi mereka menyerang negara-negara yang tidak ada hubungannya dengan apa yang sedang terjadi mereka seperti meninggalkan segalanya tiba-tiba mereka memiliki rudal di sana," sambung Trump.
Trump kemudian memberikan penjelasan soal asal mula konflik tersebut dimulai dari negosiasi yang berlangsung beberapa waktu lalu.
Dari hasil negosiasi Trump mengambil kesimpulan sepihak bahwa Teheran akan melakukan penyerangan sehingga ia memilih menyerang duluan bersama dengan Israel.
Trump menyebut Israel lebih dulu menyatakan diri siap menyerang Iran dan membantah Amerika Serikat menjadi pihak yang mendorong Israel melakukan penyerangan.
"Mereka akan menyerang duluan saya sangat yakin akan hal itu dan kami memiliki negosiator hebat orang-orang hebat orang-orang yang melakukan ini dengan sangat sukses dan telah melakukannya sepanjang hidup mereka dengan sangat sukses dan berdasarkan cara mereka saya pikir mereka akan menyerang duluan dan saya tidak menginginkan itu."
Sementara itu Korps Garda Revolusi Islam atau IRGC melaporkan bahwa sebanyak 650 personil militer Amerika tewas atau dalam kondisi luka parah dalam dua hari pertama operasi pembalasan.
Dilansir dari kanal berita TasnimNews Juru Bicara IRGC Brigadir Jenderal Ali Mohammad Naeini mengatakan ratusan prajurit Amerika itu terkena serangan dalam dua hari pertama operasi pembalasan Iran berlabel True Promise 4.
Mereka tak berdaya ketika pasukan IRGC menargetkan pangkalan dan kapal perang Amerika di seluruh wilayah Timur Tengah.
True Promise 4 mencakup serangan rudal dan drone terhadap aset angkatan laut AS dan markas militer di Bahrain.
IRGC juga mengklaim aksi balasan ini memaksa mundurnya kapal induk USS Abraham Lincoln dari perairan pesisir Iran.
Mohammad Naeini juga mengkonfirmasi bahwa pasukan IRGC telah menimbulkan kerugian besar pada instalasi militer Amerika di wilayah Teluk Persia.
"Dalam dua hari pertama perang 650 tentara Amerika tewas atau terluka," kata Jenderal Naeini pada Selasa 3 Maret 2026.
Lebih lanjut ia mengatakan laporan ini tentu akan dibantah oleh musuh karena wajar bagi Amerika untuk menyangkal atau menyembunyikan korban jiwa ini.
Namun Jenderal Naeni menekankan bahwa intelijen Iran dan laporan medan perang telah mengkonfirmasi jumlah korban tersebut.
Naeini bahkan merinci bahwa rudal dan drone Iran telah berulang kali menyerang markas Armada Kelima Angkatan Laut AS di Bahrain.
Dalam salah satu serangan 160 personel AS tewas atau terluka ketika pasukan Iran menargetkan fasilitas militer Amerika yang penting di negara tersebut.
Selain itu kapal pendukung tempur MST Angkatan Laut AS mengalami kerusakan parah setelah terkena rudal angkatan laut Iran menurut laporan tersebut.
Juru bicara IRGC itu juga mengungkapkan bahwa angkatan lautnya telah meluncurkan empat rudal jelajah ke USS Abraham Lincoln yang berada sekitar 250 hingga 300 kilometer di lepas pantai Chabahar di Iran tenggara.
Setelah serangan tersebut kapal induk itu melarikan diri ke arah Samudra Hindia bagian tenggara.
Operasi True Promise 4 menandai respons signifikan dari pasukan militer Teheran terhadap agresi berkelanjutan oleh rezim zionis dan AS terhadap rakyat Iran.
Sejumlah laporan menyebutkan AS mulai menarik personel militer dari beberapa pangkalan di Timur Tengah termasuk pangkalan udara Al-Udeid di Qatar.
Penarikan sekitar 1.000 pasukan juga dikabarkan terjadi setelah rencana serangan AS bocor ke publik beberapa waktu lalu.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok

