Breaking Posts

10/trending/recent

Hot Widget

Type Here to Get Search Results !

Prabowo Ngotot Gabung BoP: Desakan Rakyat Keluar atau Keluar Istana, Sikap Ksatria atau Pengkhianatan Konstitusi?

 

Repelita Bandung - Pemerhati politik dan kebangsaan M Rizal Fadillah mendesak Presiden Prabowo Subianto untuk segera mengeluarkan Indonesia dari Board of Peace atau BoP karena keikutsertaan tersebut dinilai sebagai pengkhianatan terhadap konstitusi dan nilai kemanusiaan.

Kebersamaan dengan Amerika Serikat serta Israel dalam forum tersebut dianggap bertentangan dengan sikap anti-penjajahan yang menjadi dasar negara mengingat Gaza menjadi saksi pembantaian serta genosida yang dilakukan Israel terhadap Palestina.

Perlawanan Hamas terhadap Israel di Gaza masih berlangsung sementara serangan serta pembunuhan massal terus terjadi tanpa henti di wilayah tersebut.

Di tengah situasi tersebut Amerika Serikat membentuk Board of Peace di luar kerangka Perserikatan Bangsa-Bangsa bahkan dituding sebagai tandingan PBB dengan mengundang enam puluh negara namun hanya dua puluh empat yang bersedia bergabung termasuk Indonesia.

Indonesia tidak hanya bergabung tetapi juga menjabat sebagai Deputy Commander dalam International Security Force atau ISF yang berada di bawah komando Amerika Serikat.

Forum tersebut juga disertai paket kerjasama Agreement on Reciprocal Trade atau ART yang dinilai banyak kalangan sebagai perjanjian berat sebelah dan bentuk penyerahan kedaulatan Indonesia kepada Amerika Serikat.

Berbagai elemen masyarakat mulai dari akademisi aktivis ormas ulama tokoh mahasiswa hingga kelompok lainnya telah mendesak agar perjanjian ART dievaluasi dan dibatalkan segera.

Meskipun demikian Prabowo Subianto dikabarkan tetap ngotot melanjutkan program BoP tersebut meski mendapat masukan keras dari berbagai pihak.

Menurut pernyataan yang dikaitkan dengan Nusron Wahid Indonesia harus menjalankan misi perdamaian BoP terlebih dahulu karena belum ikhtiar sudah disuruh keluar.

Indonesia tampaknya hendak menjalankan program percobaan dalam isu sensitif tersebut yang dinilai sebagai sikap naif.

Misi perdamaian yang diusung Amerika Serikat serta Israel dianggap palsu dan mudah terbaca sebagai kedok karena tidak lama setelah pertemuan BoP di Davos kedua negara tersebut menyerang Iran melanggar hukum internasional hingga menewaskan Ayatullah Ali Khamenei serta sejumlah petinggi lainnya.

Serangan tersebut menjadi bukti bahwa perang merupakan nafas utama Amerika Serikat dan Israel sehingga Board of Peace lebih tepat disebut sebagai Board of War atau Blood of Peace.

Narasi perdamaian hanya kedok untuk melumpuhkan serta menghancurkan Palestina dengan memanfaatkan negara-negara anggota BoP termasuk Indonesia.

Desakan agar Indonesia keluar dari BoP serta membatalkan ART diprediksi akan diabaikan oleh Prabowo karena dianggap ciut menghadapi tekanan dari Trump serta Netanyahu.

Prabowo akan tetap melanjutkan misi BoP dan ART dengan sikap ambivalen terhadap slogan kerakyatannya sambil mempertahankan karakter keras kepala.

Sebagai mantan prajurit dengan pengalaman Danjen Kopassus Pangkostrad serta Menteri Pertahanan Prabowo diharapkan bersikap ksatria mengingat motto lebih baik pulang nama daripada gagal tugas.

Oleh karena itu jika ngotot melanjutkan keikutsertaan di BoP dan ternyata gagal maka Prabowo harus siap pulang nama tidak hanya keluar dari BoP melainkan bersama Gibran siap meninggalkan Istana.

Ultimatum rakyat kini berbunyi keluar BoP atau keluar Istana sementara doktrin tentara lebih baik pulang nama menjadi sikap ksatria yang diharapkan diterapkan. (*)

Editor: 91224 R-ID Elok

Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.

Top Post Ad

Below Post Ad

ads bottom

Copyright © 2023 - Repelita.id | All Right Reserved