Breaking Posts

10/trending/recent

Hot Widget

Type Here to Get Search Results !

Iran Kini Ingin Hancurkan Ekonomi AS, Bank Amerika di Timur Tengah Jadi Sasaran

 Pasang logo Repelita

Repelita Timur Tengah - Perang antara Iran melawan koalisi Amerika Serikat dan Zionis Israel memasuki babak baru yang lebih luas dan berbahaya.

Tidak lagi terbatas pada instalasi militer dan infrastruktur energi, medan tempur kini merambah ke sektor ekonomi paling vital.

Militer Republik Islam secara resmi memperingatkan bahwa bank yang terkait dengan Amerika Serikat dan Israel di kawasan Timur Tengah akan menjadi target serangan berikutnya.

Teheran telah memperingatkan masyarakat untuk menjaga jarak setidaknya satu kilometer dari bank-bank yang terkait dengan Amerika di Timur Tengah, dengan menyatakan bahwa bank-bank tersebut akan menjadi sasaran operasi militer.

Markas Besar Pusat Khatam al-Anbiya, komando tertinggi militer Republik Islam yang berada di bawah naungan Angkatan Bersenjata dan bertanggung jawab atas perencanaan dan pengawasan operasi gabungan, mengeluarkan pernyataan penting pada Selasa, 10 Maret 2026 waktu setempat.

Dalam pernyataan yang disiarkan media pemerintah Teheran, seorang juru bicara Markas Besar Pusat Khatam al-Anbiya mengatakan bahwa militer kini telah memasukkan bank-bank dan lembaga keuangan yang menjadi simbol kehadiran ekonomi Amerika dan Israel di kawasan Timur Tengah ke dalam daftar target operasi militer.

"Dengan tindakan perang yang ilegal dan tidak lazim ini, musuh telah memberi kami lampu hijau untuk menargetkan pusat-pusat ekonomi dan bank-bank milik Amerika dan rezim Zionis di kawasan," kata juru bicara tersebut seperti dikutip Telegrafi, Rabu, 11 Maret 2026.

"Orang-orang Amerika harus mengharapkan tindakan pembalasan yang menyakitkan dari kami," tambahnya dalam pernyataan yang sama.

Langkah drastis ini merupakan respons langsung atas serangan Amerika dan Israel terhadap fasilitas perbankan di dalam wilayah Teheran pada Senin, 10 Maret 2026.

Menurut pernyataan resmi militer Republik Islam, Amerika dan Israel melancarkan serangan yang menargetkan sebuah fasilitas perbankan milik negara.

Sebagaimana dikutip dari laporan news.qq.com, Juru Bicara Khatam al-Anbiya menegaskan bahwa serangan terhadap fasilitas perbankan ini merupakan tindakan ilegal dan tidak lazim dalam hukum perang.

Ia menyatakan bahwa dalam situasi di mana target militer tidak mencapai tujuan yang diinginkan, musuh beralih menyerang fasilitas ekonomi yang seharusnya dilindungi.

"Dengan tindakan ilegal dan tidak lazim dalam perang ini, musuh telah membuka ruang bagi Iran untuk menyerang lembaga-lembaga ekonomi dan target perbankan milik Amerika dan rezim Zionis di kawasan," tegas pernyataan tersebut.

Sebagai konsekuensi dari keputusan ini, Teheran mengeluarkan imbauan keselamatan yang sangat serius bagi masyarakat di kawasan Timur Tengah, terutama warga sipil di negara-negara yang menjadi lokasi bank-bank tersebut.

Juru bicara Khatam al-Anbiya secara khusus memperingatkan warga di kawasan untuk menjauhi bank-bank dalam radius satu kilometer dari lokasi gedung.

Peringatan ini menunjukkan bahwa serangan yang direncanakan Republik Islam kemungkinan akan menggunakan rudal atau drone dengan daya ledak besar yang dapat menimbulkan kerusakan luas di area sekitar target.

Dengan radius aman sejauh satu kilometer, dampak ledakan diprediksi akan sangat signifikan dan berpotensi meratakan bangunan di sekitarnya.

Sebelumnya, Presiden Masoud Pezeshkian telah menegaskan bahwa Teheran hanya menargetkan basis-basis yang digunakan Israel dan Amerika untuk melancarkan serangan ke wilayah Republik Islam.

Namun, serangan terhadap fasilitas perbankan Iran telah mengubah peta permainan secara drastis dalam beberapa hari terakhir.

Pengamat militer menilai langkah ini sebagai eskalasi signifikan yang mengubah karakter perang.

Dengan memasukkan target ekonomi, Iran ingin menunjukkan bahwa serangan terhadap infrastruktur sipilnya akan dibalas dengan cara yang sama persis.

"Ini adalah aturan main baru. Jika mereka menyerang bank kami, maka bank mereka juga tidak akan aman," ujar seorang analis militer.

Target-target potensial meliputi kantor-kantor cabang bank-bank besar Amerika dan Israel yang beroperasi di negara-negara Teluk, seperti Uni Emirat Arab, Bahrain, Qatar, dan Kuwait.

Keberadaan pangkalan militer Amerika di negara-negara tersebut selama ini sudah menjadi sasaran rudal Iran.

Kini, simbol-simbol ekonomi juga masuk dalam garis bidik militer Republik Islam.

Keputusan untuk menargetkan sektor perbankan ini terjadi di tengah eskalasi perang yang semakin tidak terkendali.

Sejak Amerika dan Israel melancarkan agresi militer terhadap Iran pada 28 Februari 2026 yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran Sayyid Ali Khamenei, Iran telah melancarkan puluhan gelombang serangan balasan dengan nama sandi Operasi Janji Sejati 4.

Serangan Iran sebelumnya telah menargetkan pangkalan-pangkalan militer Amerika di Irak, Kuwait, Bahrain, Qatar, dan UEA, serta infrastruktur strategis Israel seperti kilang minyak di Haifa dan pusat komunikasi satelit di selatan Tel Aviv.

Kini, target ekonomi menjadi prioritas baru dalam strategi perang Iran.

Harga minyak dunia terus bergejolak di tengah konflik ini, dengan Brent sempat menyentuh level tertinggi di atas 110 dolar Amerika per barel sebelum akhirnya terkoreksi.

Kekhawatiran akan meluasnya perang ke sektor energi dan ekonomi kawasan menjadi momok bagi pasar global yang sudah tidak stabil.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada tanggapan resmi dari Gedung Putih atau Pentagon mengenai ancaman Iran untuk menyerang bank-bank Amerika di kawasan.

Namun, militer Amerika sebelumnya telah meningkatkan kewaspadaan di semua instalasinya di Timur Tengah.

Beberapa jam sebelum pernyataan Iran, Presiden Donald Trump mengancam akan menghancurkan Iran jika negara itu mengganggu jalur pelayaran di Selat Hormuz.

Trump mengatakan pasukan Amerika siap menghadapi setiap kemungkinan yang akan terjadi ke depan.

Sementara itu, Angkatan Laut Amerika dilaporkan menolak permintaan pengawalan kapal tanker di Selat Hormuz karena risiko serangan Iran yang terlalu tinggi.

Seorang senator Amerika bahkan mengakui bahwa pemerintah tidak memiliki rencana untuk membuka kembali Selat Hormuz yang saat ini diblokade Iran.

Ancaman Iran untuk menyerang bank-bank Amerika di kawasan tentu akan berdampak besar pada negara-negara Teluk yang menjadi tuan rumah institusi keuangan internasional.

Uni Emirat Arab, misalnya, adalah pusat keuangan regional dengan ribuan perusahaan multinasional dan bank asing beroperasi di Dubai dan Abu Dhabi.

Jika serangan benar-benar terjadi, bukan tidak mungkin negara-negara Teluk akan semakin terdesak untuk mengambil sikap tegas.

Sejauh ini, mereka berusaha menjaga netralitas, meskipun pangkalan-pangkalan militer Amerika di wilayah mereka telah berulang kali menjadi sasaran rudal Iran.

Militer Iran memasukkan bank-bank terkait Amerika dan Israel di Timur Tengah ke dalam daftar target setelah serangan terhadap fasilitas perbankan Iran.

Masyarakat di kawasan diminta menjauhi bank dalam radius satu kilometer karena serangan akan menggunakan rudal dengan daya ledak besar.

Perang memasuki fase baru dengan target ekonomi, di mana simbol-simbol kehadiran ekonomi Amerika dan Israel di kawasan menjadi sasaran utama.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.

Top Post Ad

Below Post Ad

ads bottom

Copyright © 2023 - Repelita.id | All Right Reserved