Breaking Posts

10/trending/recent

Hot Widget

Type Here to Get Search Results !

Hadapi Dendam Putra Khamenei, Ini Cara Iran Permalukan Amerika

 

Repelita Timur Tengah - Aksi saling serang yang terjadi antara Iran melawan Amerika dan Israel membuat kawasan Timur Tengah berada dalam situasi yang semakin mengkhawatirkan.

Peristiwa wafatnya Ayatollah Ali Khamanei akibat agresi militer zionis Israel dan Amerika nyatanya sama sekali tidak membuat Iran berada dalam posisi lemah.

Momen yang tadinya dikira bisa jadi titik balik pemicu keruntuhan rezim Khamanei dari dalam ternyata justru menunjukkan hal yang sebaliknya.

Sebelas hari setelah perang dimulai pada 28 Februari 2026, sistem pemerintahan di Teheran tidak berhenti dan tidak menunjukkan kepanikan berarti.

Mesin perang Republik Islam tersebut tetap berjalan seolah masih ada yang mengkomandoi meskipun pemimpin tertinggi mereka sudah tiada.

Bahkan dalam hitungan hari, suksesi kepemimpinan dilakukan dengan mulus tanpa hambatan berarti di internal pemerintahan.

Mojtaba Khamenei resmi dipilih menjadi pemimpin tertinggi Iran yang baru, melanjutkan kekuasaan ayahnya dengan dukungan penuh dari Majelis Ahli.

Inilah yang membuat perang terasa seperti tamparan strategis bagi Amerika Serikat dan Israel yang mengira Iran akan lumpuh.

Dikutip dari YouTube Kompas, Iran selalu bisa membalas serangan udara dan cepat beradaptasi ketika dihadapkan pada situasi yang mengancam.

Perang ini seolah menunjukkan bahwa Amerika Serikat bisa saja mengeklaim menang secara taktis, tapi gagal mencapai kemenangan strategis.

Semua yang dilakukan Republik Islam saat ini merupakan rencana yang sudah dirancang matang, bukan sekadar bentuk improvisasi di medan perang.

Setelah perang dua belas hari pada Juni 2025, para pemimpin Teheran menarik satu kesimpulan pahit bahwa cara lama mereka tidak lagi bekerja.

Selama bertahun-tahun, Republik Islam Iran merespons serangan asing dengan balasan yang terbatas dan sangat terukur.

Mereka sengaja memberi sinyal sebelum menyerang, sengaja meredam dampak agar konflik tidak meledak terlalu jauh dan meluas.

Hasilnya mereka selamat, tapi keluar dari setiap babak peperangan dalam kondisi lebih lemah, lebih rentan, dan berhadapan dengan musuh yang semakin berani.

Sesuatu harus diubah, maka Ali Khamenei dan para komandan tertingginya pun merancang pendekatan baru yang jauh lebih agresif.

Bukan lagi respons terbatas, melainkan eskalasi penuh ke seluruh kawasan, terutama menyasar negara-negara teluk yang terintegrasi erat dengan rantai pasokan ekonomi global.

Pesannya jelas, kalau Teheran kembali diserang maka mereka akan membakar seluruh kawasan Timur Tengah.

Logikanya sederhana tapi mematikan, kalau Teluk terganggu maka ekonomi dunia ikut terganggu.

Tekanan politik terhadap Donald Trump untuk menghentikan perang akan datang dari mana-mana, termasuk dari dalam Washington sendiri.

Rencana itu juga mencakup penerapan strategi pertahanan lama yakni mosaic defense, sistem komando yang sepenuhnya terdesentralisasi.

IRGC membagi 32 unit independen mandiri di seluruh wilayah mereka, dan masing-masing berwenang mengambil alih kendali jika rantai komando di atasnya terputus.

Ketika perang benar-benar pecah pada 28 Februari 2026, rencana itu langsung berjalan mulus bahkan tanpa Khamenei yang sudah tewas di hari pertama.

Profesor di King's College London, Andreas Krieg bahkan terkejut Republik Islam sama sekali tak mengalami kelumpuhan satu hari pun sejak perang pecah.

Mesin perang tetap bergerak, taktik dijalankan sesuai rencana, dan pemimpin baru pun segera ditunjuk tanpa gejolak berarti.

Majelis Ahli memilih Mojtaba Khamenei, putra kedua Ayatollah Ali Khamenei sebagai pemimpin tertinggi yang baru bagi Republik Islam.

Bagi banyak pengamat, ini bukan sekadar suksesi kekuasaan biasa karena Mojtaba adalah sosok yang memiliki visi sama dengan ayahnya.

Mojtaba selama puluhan tahun membangun jaringan yang kuat di dalam tubuh IRGC dan lembaga-lembaga strategis lainnya.

Dari balik layar, ia terlibat dalam penindakan demonstran gerakan hijau pada tahun 2009 yang menjadi catatan kelam bagi Barat.

Ia dikenai sanksi langsung oleh Amerika Serikat pada tahun 2019 karena dinilai memajukan kebijakan destabilisasi yang dirancang ayahnya.

Pengangkatannya bukan kebetulan dan bukan juga hasil kompromi dengan pihak-pihak tertentu di internal pemerintahan.

Trump pernah berkata tegas bahwa putra Khamenei tidak dapat diterima oleh Amerika Serikat dalam kondisi apa pun.

Mojtaba adalah sosok yang tidak disukai Amerika Serikat dan itulah yang justru dibutuhkan Republik Islam saat ini.

Dengan keputusan itu, pesan Teheran kepada Washington menjadi sangat jelas dan tidak bisa ditafsirkan lain.

Perang ini belum selesai dan Iran tidak berencana mengakhirinya dengan cara yang diinginkan Amerika Serikat.

Perang kali ini bukan hanya urusan Republik Islam, Amerika Serikat, dan Israel, tapi sudah menyeret berbagai negara karena meluasnya serangan Iran.

Setidaknya dua belas negara sudah terseret dalam perang ini karena Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) memperluas serangannya ke negara-negara tetangganya.

Rudal-rudal Iran menghantam setiap negara di kawasan Teluk yang memiliki kepentingan strategis dengan Barat.

Selat Hormuz, jalur yang dulunya dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam cair dunia, kini tersumbat total.

Bahkan Eropa mulai terseret ketika Iran menembakkan rudal ke pangkalan militer di Siprus yang menjadi target pertamanya di tanah Eropa.

IRGC juga melancarkan rudal ke arah pangkalan militer Amerika Serikat di Turkiye yang menyimpan senjata nuklir, meski akhirnya berhasil dicegat.

Dampak ekonominya pun sudah terasa bukan hanya di Timur Tengah tapi juga di Amerika Serikat sendiri.

Harga bensin di seluruh Amerika Serikat naik hampir 27 sen dalam minggu pertama perang saja.

Hal ini memicu tekanan politik yang semakin keras terhadap Trump dari berbagai kalangan di dalam negeri.

Inilah yang sejak awal diperhitungkan Iran, bahwa memperluas medan perang ke kawasan teluk jauh lebih efektif daripada hanya berhadapan langsung dengan Amerika Serikat dan Israel.

Amerika Serikat dan Israel boleh mengeklaim langit Iran sudah mereka kuasai, tapi langit yang dikuasai tidak otomatis berarti perang sudah dimenangkan.

Sejarah sudah membuktikan hal ini berulang kali bahwa kekuatan udara saja tidak cukup.

Belum pernah sekalipun kekuatan udara tanpa pasukan darat berhasil menggulingkan sebuah pemerintahan yang berdaulat.

IRGC masih berdiri kokoh dengan 190.000 tentara aktif, belum termasuk 300.000 tentara konvensional dan 600.000 milisi basit yang bisa dimobilisasi sewaktu-waktu.

Tidak ada pembelotan massal, tidak ada pemogokan pekerja minyak, tidak ada tanda-tanda signifikan keruntuhan dari dalam negeri Iran.

Para analis menilai opsi paling masuk akal bagi Washington bukan kemenangan telak, melainkan semacam penyelesaian yang bersifat fakta di lapangan.

Amerika Serikat harus menurunkan egonya untuk menyamakan pemahaman dengan elemen-elemen rezim yang bersedia memberikan konsesi soal nuklir dan rudal.

Sederhananya, Amerika Serikat harus membiarkan Iran tetap memiliki program nuklirnya dengan batasan dan kesepakatan tertentu.

Menurut peneliti Institut Pakistan Cina, Mustafa Haider Sayid, hal itu cukup untuk memberi Trump klaim kemenangan di depan publik Amerika Serikat.

Tapi bahkan skenario itu pun tidak mudah untuk diwujudkan dalam waktu dekat.

Mojtaba Khamanei yang baru saja kehilangan seluruh keluarganya dalam serangan Amerika Serikat dan Israel hampir mustahil untuk diajak berunding.

Sebelas hari perang dan satu hal sudah menjadi jelas, Amerika Serikat dan Israel mungkin unggul dalam segala hal yang bisa diukur di atas peta militer.

Mulai dari kecanggihan teknologi hingga kendali penuh atas langit Iran.

Tapi Iran tidak merancang strategi untuk mengalahkan Amerika Serikat dalam pertempuran terbuka.

Mereka merancangnya untuk membuat musuhnya itu kelelahan secara ekonomi, politik, dan secara psikologis dalam jangka panjang.

Sejauh ini rencana itu berjalan sesuai dengan apa yang diharapkan oleh para pemimpin Teheran.

Selama Washington masih mencari formula kemenangan yang belum juga mereka temukan, Teheran cukup melakukan satu hal, yakni bertahan dan terus bertahan.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok



Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.

Top Post Ad

Below Post Ad

ads bottom

Copyright © 2023 - Repelita.id | All Right Reserved