Repelita Jakarta - Agresi militer yang dilakukan Amerika dan Israel sejak Februari 2026 lalu nyatanya tidak membuat Iran merasa gentar menghadapi kekuatan koalisi besar itu.
Alih-alih bertekuk lutut, Teheran justru semakin beringas setelah pemimpin tertingginya Ayatollah Ali Khamanei gugur dalam serangan yang dilayangkan zionis di hari pertama perang.
Sejak saat itulah, Republik Islam tersebut melakukan aksi balasan secara nyaris tanpa henti yang membuat Amerika Serikat dan Israel salah prediksi besar-besaran.
Berbekal stok rudal yang melimpah, IRGC membalas serangan dengan menggempur wilayah Israel dan sejumlah pangkalan militer Amerika Serikat yang berada di negara-negara Timur Tengah.
Tidak hanya itu, Teheran juga dilaporkan telah berhasil menghancurkan sistem radar pertahanan Amerika Serikat yang nilainya mencapai 300 juta dolar Amerika.
Pakar Strategi PPAU Marsma TNI AU (Purn) Agung Sasongko Jati mengatakan, serangan awal Amerika maupun Israel memang tepat dengan skor 90 di atas kertas.
Namun menurut Agung, dampak setelah serangan awal itu kurang diperhitungkan secara matang oleh kedua negara tersebut.
"Ternyata Iran masih bisa menyerang dan serangan itu beredar di media sosial yang ternyata diverifikasi bukan propaganda," ujarnya dalam wawancara.
"Itu membuat rakyat di Israel atau di Tel Aviv minta mohon ini (balasan IRGC) tolong dihentikan," katanya dikutip dari kanal YouTube tvOne pada Rabu, 11 Maret 2026.
Kemudian, Agung menilai serangan balasan yang dilancarkan Iran ini menimbulkan kekacauan besar dari sektor ekonomi global, terlebih sejak ditutupnya Selat Hormuz.
"Semua penerbangan kan berhenti, terganggu. Selat Hormuz ditutup, itu membuat terhentinya flow minyak dan itu mengakibatkan kenaikan harga yang melesat dari 70-60 dolar per barel menjadi sekarang 100 atau 200 dolar," tuturnya.
"Kemudian efeknya besar, negara-negara merasakan dampaknya secara langsung," imbuh Agung dalam penjelasannya.
"Nah, itu yang terjadi. Sekarang skornya gimana? Ternyata serangan yang hanya berhasil 30 persen atau 25 persen rudal itu merupakan efek yang grand strategi Iran tercapai secara diplomasi," jelas pakar strategi tersebut.
"Dia meningkat perannya, power-nya," tegas Agung mengenai posisi Iran di kancah internasional.
Agung berpendapat, kini banyak negara justru memilih berhubungan baik dengan Republik Islam tersebut dan enggan ikut campur membantu Amerika.
"Inggris enggak mau mengatakan dukung Amerika. Prancis bilang enggak mau dukung Amerika. Tidak ada negara NATO dukung Amerika," katanya.
Begitu pula dengan negara-negara di kawasan Timur Tengah, di mana tidak ada satu pun yang berani mendukung Amerika secara militer.
"Amerika sendirian dengan Israel. Secara informasional ternyata Iran lebih tangguh," tuturnya.
"Masyarakat dunia tadinya hanya mendapat berita propaganda dari Barat sekarang mereka betul-betul mencari tahu seperti apa dan mereka akan melihat kenyataan bahwa Iran itu tidak seperti yang dikatakan," sambungnya.
Kemudian secara militer, meski Iran sempat diserang di hari pertama, namun ternyata mereka sanggup menghajar dan memberikan hukuman setimpal pada AS dan Israel.
"Dan satu-satunya negara yang tidak ragu-ragu untuk menghantam balik dan dengan berani mengatakan militer dan secara ekonomi Iran ternyata punya power yang membuat ekonomi negara lain bisa terganggu," ungkapnya.
"Jadi sekarang kalau saya skor instrumen of power Amerika berhasil enggak? Ya kelihatannya enggak berhasil. Iran justru malah berbalik," imbuhnya.
Sementara itu, Penasihat Komandan IRGC, Brigadir Jenderal Ibrahim Jabari, menegaskan bahwa pihaknya siap meladeni perang dengan jangka waktu yang panjang tanpa batas.
"Kami siap untuk perang yang berlangsung setidaknya 10 tahun dengan Amerika Serikat, menggunakan metode yang sama seperti yang kami gunakan dengan rudal dan drone kami sekarang," katanya.
"Gudang dan depot amunisi kami penuh dan tersimpan, bahkan melebihi kebutuhan kami, dan pada saat yang sama, produksi segera dimulai oleh para pemuda dan ilmuwan kami yang berdedikasi," sambung dia.
Dalam perkembangan terbaru, Republik Islam kembali melancarkan balasan yang disebutnya sebagai gelombang ke-33 terhadap target-target militer Amerika Serikat dan zionis Israel.
Serangan ini merupakan aksi balasan lanjutan atas agresi militer Amerika Serikat dan zionis sejak 28 Februari 2026 yang membunuh lebih dari 1.000 warga Teheran.
Gelombang balasan ke-33, 32, dan 31 yang diluncurkan ini diberi kode operasi "Labbaik Ya Khamanei" sebagai bentuk penghormatan.
Serangan rudal balasan Iran ini didedikasikan bagi Pemimpin Revolusi Islam sekaligus pemimpin tertinggi komandan angkatan bersenjata Iran Ayatollah Mojtaba Khamenei.
Dilansir dari kanal YouTube Metro TV, rudal-rudal Iran dengan hulu ledak seberat 1 ton ditembakkan ke target-target militer AS dan zionis Israel dalam gelombang balasan ke-33 operasi True Promise 4.
Juru Bicara Markas Pusat Khatam Al-Anbiya Angkatan Bersenjata Iran, Letnan Kolonel Ebrahim Zolfaghari, kembali menegaskan bahwa pihaknya akan terus menggempur kawasan Israel dan basis militer AS di kawasan Timur Tengah.
"Dengan nama Allah yang maha pengasih lagi maha penyayang. Pesan kepada musuh (zionis) adalah, api yang dahsyat akan terus menghujani kalian," katanya dikutip pada Rabu, 11 Maret 2026.
Menurutnya, warga zionis Israel saat ini tengah dilanda ketakutan yang luar biasa setiap harinya.
"Bentrokan para zionis saat melarikan diri dari Bandara Ben Gurion menunjukkan realitas kondisi rezim yang lemah, genting, dan menyedihkan," tuturnya.
"Detik demi detik ruang gerak kalian (zionis), semakin sempit dan melarikan diri ke bunker yang sempit dan gelap akan menjadi kebiasaan baru bagi kalian (zionis)," sambungnya.
Zolfaghari dengan tegas menyatakan bahwa Iran adalah bangsa pejuang yang siap melawan para pembuat onar di kawasan.
"Darah di nadi kami telah menemukan aliran baru. Kami bergegas untuk bertempur melawan para penyerang tanah air kami. Kami memiliki tekad yang kuat sekeras baja dan dengan segenap jiwa kami menjaga keutuhan tanah ini," tegasnya.
"Kami akan bertindak tegas terhadap kalian (zionis) dan nasib buruk telah menanti kalian (zionis) dan Allah yang maha perkasa lagi maha pembalas dan tidak ada kemenangan melainkan dari sisi Allah yang maha perkasa lagi maha bijaksana," pungkasnya.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok

