Repelita Timur Tengah - Ketegangan di kawasan Timur Tengah saat ini memasuki fase baru dengan munculnya tudingan bahwa Israel menyebarkan propaganda untuk menyeret negara-negara Arab ke dalam perang melawan Iran.
Sebuah perang opini tengah berlangsung sengit di dunia maya dan media di mana Israel gencar menyebarkan narasi untuk mengubah peta konflik regional.
Langkah ini dibaca sebagai bentuk frustrasi Tel Aviv dalam menghadapi Teheran yang terus menunjukkan kekuatan militer dan pengaruhnya di kawasan.
Salah satu pemicu terbaru adalah laporan yang disiarkan oleh Channel 12 Israel yang mengklaim bahwa Qatar telah melancarkan serangan militer ke wilayah Iran untuk pertama kalinya.
Laporan tersebut dikaitkan dengan sumber-sumber Barat tanpa menyebutkan detail spesifik sebuah metode yang langsung memicu kecurigaan di kalangan pengamat Timur Tengah.
Menurut sejumlah sumber laporan tersebut ditulis oleh jurnalis sayap kanan Emit Segal seorang pendukung Perdana Menteri Netanyahu yang juga karyawan Channel 12 berbahasa Ibrani.
Segal disebut memulai hasutannya terhadap Qatar sebagai salah satu musuh terpenting Israel di kawasan Teluk yang kaya minyak.
Tuduhan ini muncul saat situasi kawasan memanas setelah Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) meluncurkan 15 gelombang serangan balasan.
Serangan itu menyasar berbagai aset militer Amerika Serikat dan Israel di sejumlah negara Teluk termasuk Qatar dan Bahrain.
Klaim Channel 12 ini segera mendapat bantahan keras dari Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Qatar Majed Al Ansari.
Ia menegaskan bahwa negaranya tidak terlibat dalam kampanye militer ofensif terhadap Teheran dan menyebut laporan tersebut tidak akurat.
"Doha hanya menjalankan hak untuk membela diri dari serangan rudal IRGC," tegas Al Ansari dalam pernyataan resminya pada Rabu 4 Maret 2026.
Bantahan cepat dari Qatar menunjukkan betapa berbahayanya narasi tersebut jika dibiarkan menyebar luas di tengah publik internasional.
Narasi itu dapat memecah solidaritas negara-negara Arab yang saat ini berada di garis depan ketegangan dengan Iran.
Fenomena ini bukan sekadar kesalahan jurnalistik biasa karena beberapa sumber Teheran menyebutkan ini adalah bagian dari skenario besar yang tengah dimainkan.
Ada upaya sistematis Israel untuk secara langsung melibatkan negara-negara Arab dalam perang melalui penyebaran propaganda provokatif.
Akun-akun Israel dan media elektroniknya aktif mendorong narasi ini seiring dengan operasi Mossad di lapangan.
Kecurigaan ini mendapat justifikasi dari pernyataan kontroversial komentator politik Amerika Serikat Tucker Carlson.
"Bukankah mereka berada di pihak yang sama Israel ingin menyakiti Iran Qatar UEA Arab Saudi Bahrain Oman dan Kuwait," tegas Carlson dalam acaranya baru-baru ini.
Ia mempertanyakan logika di balik aksi-aksi yang justru merugikan sekutu Amerika di kawasan Timur Tengah.
Di tengah hiruk-pikuk propaganda ini suara keras kembali muncul dari kubu Iran melalui seorang pejabat IRGC.
"Kita sedang menuju perang yang berkepanjangan dan akhirnya akan sangat menakutkan," ucap pejabat IRGC tersebut pada Rabu 4 Maret 2026.
Peringatan serupa sebelumnya juga disampaikan oleh juru bicara IRGC yang menyatakan bahwa gerbang neraka akan terbuka bagi Amerika dan Israel.
Teheran pun telah mengonfirmasi kesiapan penuh mereka untuk melakukan eskalasi dengan pernyataan bahwa perang ini hanya akan berakhir dengan kehancuran Israel.
Ancaman ini muncul di tengah laporan bahwa Iran telah memisahkan sistem komando dan pengendalian rudalnya.
Langkah tersebut memungkinkan militer Iran untuk tetap memiliki daftar target tetap meskipun pusat komando di Teheran terganggu oleh serangan udara lawan.
Situasi saat ini menunjukkan sebuah konflik yang telah melewati batas perang konvensional karena melibatkan perang opini yang sama berbahayanya.
Keterlibatan negara-negara Arab seperti Qatar yang secara geografis dan politis berada di garis depan menjadi sangat krusial dalam dinamika ini.
Tuduhan bahwa Qatar menyerang Iran adalah narasi yang jika dipercaya publik dapat memicu perang saudara di kawasan yang seharusnya bersatu menghadapi ketidakstabilan.
Para analis militer memperingatkan bahwa konflik ini berisiko melebar menjadi all-out war jika Iran menyerang aset-aset strategis seperti kapal induk AS atau situs nuklir sensitif Israel.
Di tengah situasi ini publik global perlu mencermati setiap berita yang beredar karena di balik setiap laporan media ada kepentingan geopolitik yang bermain.
Perang tidak lagi hanya tentang rudal dan pesawat tempur tetapi juga tentang siapa yang berhasil merebut hati dan opini masyarakat dunia.
Yang jelas di tengah ancaman perang panjang dan retorika kehancuran yang dilontarkan para pejabat IRGC langkah waspada dan tidak mudah terprovokasi adalah kunci.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok

