![]()
Repelita Jakarta - Iran telah melancarkan serangkaian aksi balasan yang cukup mengerikan ke Israel dan pangkalan militer Amerika di Timur Tengah sebagai respons atas serangan yang menewaskan pemimpin tertingginya.
Sejumlah rudal yang diluncurkan telah menghantam objek vital termasuk di antaranya kantor Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan markas intelejen zionis.
Rupanya serangan ini masih sekadar pemanasan karena Iran diyakini belum mengeluarkan senjata sesungguhnya dalam gudang persenjataan mereka.
Hal itu diungkap pakar pertahanan militer dari Lembaga Kajian Pertahanan Strategis (KERIS) Adrianus Prisma yang memprediksi perang akan berlangsung cukup lama.
Amerika kemungkinan bakal mengerahkan pasukan darat ke Teheran jika eskalasi terus berlanjut di kawasan Timur Tengah.
"Jadi memang terbuka peluang untuk melakukan operasi darat nah di sisi lain tentu saja ini akan membuka kotak pandora ya karena selama ini kan Trump sendiri berjanji dia tidak akan menjadi presiden yang gemar perang," katanya dikutip dari kanal YouTube Kompas TV.
Jika itu terjadi maka menurut Adrianus akan berdampak negatif bagi karir politik Trump di mata publik Amerika Serikat.
"Kalau dia sampai menerjunkan tentara di darat dengan skala besar tentu saja akan menjadi hal yang baru dia mematahkan janjinya sendiri dan kira-kira nanti reaksi publik Amerika ini adalah hal yang menarik untuk kita tunggu," jelasnya.
Adrianus meyakini Iran akan terus melakukan balasan dengan perlawanan mengerikan karena melimpahnya stok rudal memungkinkan bagi Teheran untuk meladeni perang jangka panjang.
Saat ini IRGC hanya menghabiskan stok lama namun bikin Amerika dan Israel rugi besar sementara Teheran masih menyimpan senjata sesungguhnya untuk waktu yang tepat.
"Ya kalau dari analisis kami dan diskusi di dalam lembaga kami ini memang salah satu hal yang dapat kita amati ya bahwa memang strategi yang dilakukan tahun lalu strategi saturasi itu masih sama," ujarnya.
"Iran mengeluarkan rudal-rudal tua dengan akurasi yang tidak terlalu tinggi kita masih belum melihat secara empirik Rudal Fattah-1 apalagi Fattah 2 yang memiliki kemampuan hipersonik itu belum digunakan," sambung pakar tersebut.
Strategi ini nampaknya cukup berhasil karena sudah ada pernyataan dari Amerika bahwa mereka akan berencana menggeser peluncur dan stok Rudal Patriot dan THAAD dari Korea ke Timur Tengah.
Hal itu secara strategis mungkin akan berisiko untuk Korea Selatan yang menjadi sekutu Amerika jika rudalnya digeser ke Timur Tengah.
AS kian terpojok lantaran Iran terus membombardir aset aset militer Amerika yang berada di kawasan Teluk dengan serangan bertubi-tubi.
Diberitakan sebelumnya Jenderal IRGC Iran Ebrahim Jabbari dengan tegas memperingatkan Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Israel akan ada balasan yang mengerikan.
Jabbari mengatakan bahwa negaranya siap mengerahkan rudal paling canggihnya terhadap AS setelah serangan oleh Washington dan Israel menargetkan para pemimpin tertinggi.
"Trump harus paham hari ini kami dilengkapi dengan perlengkapan paling mutakhir untuk melawanmu untuk waktu yang lama," katanya pada Senin 2 Maret 2026.
Ia mengungkapkan bahwa serangan awal beberapa hari ini hanyalah sisa-sisa stok rudal lama yang sudah usang.
"Tapi dengan berlanjutnya perang kami akan menggunakan misil paling kuat sesuatu yang kami punya yang belum pernah terlihat yang masih disimpan di dalam bungkusan kami akan menggunakannya sekarang ini," janji dia.
Sebagaimana diketahui Iran terus melakukan serangkaian aksi balasan dengan target Israel dan sejumlah pangkalan militer Amerika di negara kawasan Timur Tengah.
Drone Shahed milik Iran bahkan dikabarkan telah menempuh jarak hampir 2.000 kilometer melintasi Laut Mediterania.
Drone tersebut menghantam Pangkalan Udara RAF Akrotiri Inggris di Siprus dan tidak satu pun sistem pertahanan udara NATO yang melihatnya datang.
Aksi balasan ini terus berlanjut setelah AS dan Israel menyerang Teheran dan membunuh Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei pada 28 Februari 2026.
Menurut informasi yang beredar Korps Garda Republik Islam atau IRGC membalas dengan menyerang 15 negara 27 pangkalan militer AS dan sebuah pangkalan Inggris di Siprus semuanya dalam waktu 24 jam.
Upaya Presiden AS Donald Trump untuk menuai simpati nampaknya bakal menemui jalan buntu karena sejumlah negara NATO kini ramai-ramai menolak membantu serangan ke Teheran.
Perdana Menteri Inggris Keir Starmer bahkan mengatakan bahwa pihaknya tidak akan bergabung dengan serangan ofensif Israel dan AS terhadap Iran.
Hal itu ia sampaikan saat sidang bersama anggota parlemen usai desakan agar Inggris tidak terseret lebih jauh ke dalam konflik tersebut.
PM Starmer mengatakan bahwa dia tidak akan mempertaruhkan nyawa personel militer Inggris kecuali jika operasi tersebut memiliki dasar hukum yang sah.
Pemerintah Inggris juga menolak memberikan izin kepada militer Amerika Serikat untuk menggunakan pangkalan Inggris dalam kemungkinan serangan terhadap Teheran.
Keputusan tersebut dilaporkan meningkatkan ketegangan antara London dan Washington serta memicu kritik dari Presiden AS Donald Trump.
Berdasarkan perjanjian lama antara kedua negara pesawat Amerika dapat beroperasi dari RAF Fairford di Gloucestershire yang menjadi lokasi penempatan pesawat pengebom berat AS.
Serta dari pangkalan militer gabungan AS–Inggris di Diego Garcia di Samudra Hindia namun hanya dengan persetujuan terlebih dahulu dari pemerintah Inggris.
Meski demikian London disebut belum memberikan izin untuk tindakan hipotetis apa pun terhadap Iran karena mengkhawatirkan pelanggaran hukum internasional.
Senada dengan Inggris penolakan yang cukup menohok datang dari Spanyol yang tak sudi pangkalannya digunakan AS untuk menyerang Teheran.
Spanyol telah mengusir 15 pesawat tanker KC-135 USAF dari Pangkalan Udara Rota dan Moron dengan melakukan perintah pemindahan paksa terhadap armada tersebut.
Situs pelacakan penerbangan Flightradar24 mencatat sebanyak 15 pesawat tanker KC-135 telah meninggalkan pangkalan militer Rota dan Moron di Spanyol selatan sejak AS dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada 28 Februari 2026.
Menteri Luar Negeri Spanyol Jose Manuel Albarez mengatakan bahwa Spanyol tidak akan mengizinkan pangkalan militernya yang dikelola bersama dengan AS tetapi di bawah kedaulatan Spanyol untuk digunakan menyerang Iran.
Laporan menyebut tujuh pesawat telah dipindahkan AS ke Pangkalan Udara Ramstein di Jerman dan dua pesawat lain menuju Prancis.
Terkait penolakan itu Presiden AS Donald Trump mengaku kecewa lantaran para sekutu mengalami keraguan untuk mendukung operasi militernya.
"Jadi kami akan memutus semua perdagangan dengan Spanyol kami tidak ingin berurusan apapun dengan Spanyol," katanya dengan nada sewot.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok

