
Repelita Solo - Ketua Umum Partai Solidaritas Indonesia Kaesang Pangarep menargetkan peningkatan signifikan perolehan kursi partainya di Jawa Tengah pada Pemilu 2029 mendatang. Pernyataan ini disampaikannya saat membuka Rapat Koordinasi Wilayah Dewan Pimpinan Wilayah PSI Jawa Tengah di Kota Solo pada hari Kamis tanggal 8 Januari 2025.
Kaesang menyatakan bahwa saat ini PSI memiliki dua belas anggota di DPRD Provinsi Jawa Tengah, namun jumlah tersebut dinilai masih terlalu kecil. Dia menargetkan peningkatan menjadi tujuh belas kursi di tingkat provinsi serta minimal seratus fraksi di tingkat kabupaten dan kota pada pemilihan umum lima tahun mendatang.
“Jujur saja, 12 kursi itu masih terlalu kecil untuk Jawa Tengah. Target kita ke depan 17 kursi di tingkat provinsi. Untuk kabupaten/kota, minimal 100 fraksi harus terisi,” kata Kaesang Pangarep.
Dia menegaskan komitmen PSI untuk terus hadir dan berkontribusi bagi masyarakat Jawa Tengah yang disebutnya sebagai kandang gajah. Kaesang meminta seluruh kader dan simpatisan untuk bekerja sama dalam mencapai target ambisius tersebut melalui gotong royong dan gerakan bersama.
“Jawa Tengah ini kandang gajah. PSI hadir untuk masyarakat Jawa Tengah. Tolong bantu kami bekerja dan bergerak bersama menuju Pemilu 2029,” tegasnya.
Dia berharap semakin banyak kader PSI yang dapat lolos baik di lembaga legislatif maupun eksekutif pada kontestasi politik tahun 2029. Optimisme tersebut diwujudkan dalam seruan untuk mempersiapkan segala kebutuhan dengan matang sejak dini.
Menanggapi target ambisius yang ditetapkan Kaesang, pengamat politik Jamiluddin Ritonga memberikan analisis yang lebih realistis. Menurutnya, sebagai ketua umum partai memang wajar memberikan motivasi dan target tinggi kepada kader, namun perlu dipertimbangkan kesesuaian dengan realitas politik di lapangan.
“Kaesang tampaknya coba menanamkan optimistis dengan memberi target tinggi ke kadernya di Jawa Tengah. Meskipun semua orang tahu target menjadikan Jawa Tengah sebagai kandang gajah tidak realistis,” katanya melalui pesan singkat pada Senin tanggal 12 Januari 2026.
Jamiluddin menilai PSI tidak memiliki sosok dengan nilai jual yang cukup kuat untuk merebut hati pemilih di Jawa Tengah. Bahkan Ketua Umum partai sendiri, Kaesang Pangarep, dinilai belum memiliki daya tarik yang memadai di wilayah yang dikenal sebagai basis kuat partai tertentu.
Dia juga menyoroti ketergantungan PSI pada figur Presiden Joko Widodo yang menurutnya semakin menurun nilai jualnya pasca masa jabatan berakhir. Tren penurunan popularitas tersebut diprediksi akan mencapai titik terendah pada tahun 2029, justru ketika PSI membutuhkan daya dukung maksimal.
“Bahkan dilihat dari trennya, nilai jual Jokowi akan sampai titik terendah pada tahun 2029. Karena itu, berharap Jokowi dapat mendongkrak suara PSI di Jawa tengah, apalagi menjadikan kandang Gajah, kiranya hanya mimpi di siang bolong,” lanjut Jamiluddin.
Perbandingan antara PSI dengan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan sebagai penguasa tradisional Jawa Tengah dinilai sangat timpang. Kapasitas kader, kedalaman ideologi, serta pengakuan masyarakat menjadi faktor pembeda yang sulit dijembatani dalam waktu singkat.
“Kapasitas kadernya juga belum setara. Kader PDIP lebih ideologis dibandingkan kader PSI, sehingga berpeluang lebih diterima di Jawa Tengah,” terangnya.
Jamiluddin menegaskan bahwa PDIP memiliki akar yang sangat kuat di Jawa Tengah sehingga sulit bagi partai manapun, termasuk PSI, untuk menggusur dominasi partai tersebut. Faktor historis, kultural, dan struktural menjadi penghalang signifikan bagi partai baru yang ingin menancapkan pengaruh.
Meskipun demikian, target yang ditetapkan Kaesang dapat menjadi pendorong bagi kader PSI untuk bekerja lebih keras dalam membangun basis di akar rumput. Konsistensi dalam pelayanan masyarakat menjadi kunci untuk memperluas penerimaan pemilih terhadap partai yang relatif masih muda ini.
Proses menuju Pemilu 2029 masih menyisakan waktu cukup panjang bagi PSI untuk memperkuat organisasi dan merumuskan strategi yang lebih efektif. Evaluasi terhadap kekuatan dan kelemahan partai perlu dilakukan secara berkala untuk menyesuaikan dengan dinamika politik yang terus berubah.
Masyarakat Jawa Tengah diharapkan dapat menilai setiap partai berdasarkan rekam jejak dan kontribusi nyata bagi pembangunan daerah. Transparansi dan akuntabilitas menjadi faktor penting dalam membangun kepercayaan publik terhadap para calon wakil rakyat.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok

