Breaking Posts

10/trending/recent

Hot Widget

Type Here to Get Search Results !

[HEBOH] Dokter Tifa Nilai Pernyataan Tompi soal Ptosis Mata Gibran Sebagai Blunder Medis

Bukan Cari Jabatan, Tompi Ungkap Misi Kemanusiaan di Balik Pertemuannya  dengan Wapres Gibran - TribunTrends.com

Repelita Jakarta - Pernyataan dokter bedah plastik Tompi yang menyebut kondisi mata Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka sebagai ptosis dinilai blunder oleh Dokter Tifa.

Dokter Tifa menyarankan lebih baik disebut mengantuk daripada ptosis karena implikasi medis istilah tersebut jauh lebih berat.

Ia mengacu pada prinsip Evidence Based Medicine yang menjadi standar dokter di seluruh dunia.

Bukti ilmiah menunjukkan ptosis sering terkait dengan gangguan mental seperti depresi, bipolar, skizofrenia, serta penggunaan psikotropika atau narkoba.

Penelitian besar dengan lebih dari empat ribu subjek membuat temuan ini sangat valid dan sulit dibantah.

Dokter Tifa mempertanyakan pilihan kata Tompi dalam menjelaskan kondisi Gibran.

Menurutnya, Gibran pasti lebih nyaman disebut mengantuk seperti dalam satire Pandji Pragiwaksono daripada ptosis seperti diungkap Tompi.

Pernyataan ini disampaikan pada 8 Januari 2026 disertai cuplikan jurnal penelitian dari Amerika Serikat tahun 2025.

Jurnal tersebut membahas hubungan ptosis dengan prevalensi gangguan kesehatan mental pada orang dewasa.

Dokter gigi Hanum Salsabiela juga ikut menyuarakan kritik serupa dengan mencari referensi jurnal akademik.

Ia menemukan artikel yang menyatakan ptosis bisa sangat terkait dengan penggunaan narkoba suntik, khususnya heroin.

Hanum menegaskan bahwa masyarakat perlu lebih kritis dalam menerima informasi medis.

Ia menyindir agar tidak mudah percaya pada kalimat dokter, terutama yang lebih sering berada di istana daripada rumah sakit.

Kedua dokter ini merujuk pada publikasi terindeks Scopus Q1 dari Taylor and Francis serta sumber ilmiah lain.

Polemik bermula dari kritik Tompi terhadap materi stand-up comedy Mens Rea yang menyindir mata Gibran terlihat mengantuk.

Tompi menganggap guyonan tersebut sebagai bentuk perendahan fisik yang tidak cerdas.

Ia menjelaskan ptosis sebagai kondisi anatomis bawaan, fungsional, atau medis yang tidak pantas dijadikan bahan lelucon.

Tanggapan Dokter Tifa serta Hanum justru membalik narasi dengan menyoroti konotasi negatif ptosis berdasarkan bukti ilmiah.

Debat ini semakin memperpanjang kontroversi seputar batas humor politik versus akurasi informasi medis di ruang publik.

Publik terbelah antara yang mendukung penjelasan Tompi sebagai pembelaan kondisi fisik dengan yang mempertanyakan relevansi istilah ptosis pada kasus Gibran.

Isu blunder Tompi menjadi trending karena dianggap malah membawa implikasi lebih berat bagi figur yang ingin dibelanya.(*)


Editor: 91224 R-ID Elok.


Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.

Top Post Ad

Below Post Ad

ads bottom

Copyright © 2023 - Repelita.id | All Right Reserved