Breaking Posts

10/trending/recent

Hot Widget

Type Here to Get Search Results !

[GEGER] Dokter Gigi Hanum Sindir Tompi: Ptosis Lebih Cocok untuk Pengguna Narkoba, Jangan Asal Diagnosa Gibran

 Tompi Kritik Materi Stand Up Pandji di Netflix: Singgung Fisik Gibran,  Dokter Tegaskan Ptosis Bukan Bahan Lelucon - TriTimes.id

Repelita Jakarta - Dokter gigi Hanum Salsabiela Rais turut memberikan tanggapan kritis terhadap penjelasan medis Tompi mengenai kondisi mata Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka yang disebut ptosis.

Hanum menyatakan bahwa istilah ptosis lebih tepat digunakan dalam konteks tertentu berdasarkan referensi ilmiah, bukan sekadar untuk menjelaskan penampilan mengantuk.

Ia merujuk pada artikel jurnal terindeks Scopus Q1 berjudul "PTOSIS in an IV drug User" yang diterbitkan oleh Taylor and Francis.

Menurut Hanum, masyarakat perlu lebih kritis dalam menerima informasi medis tanpa verifikasi mendalam.

Pernyataan ini disampaikan melalui akun X @hanumrais pada 8 Januari 2026.

Hanum menekankan pentingnya tidak mudah percaya pada narasi yang disampaikan, terutama dari figur medis tertentu.

Ia menyindir bahwa ada dokter yang lebih sering beraktivitas di lingkungan kekuasaan daripada di fasilitas kesehatan.

Komentar Hanum ini merespons kritik Tompi terhadap materi stand-up comedy Pandji Pragiwaksono yang menyindir mata Gibran terlihat mengantuk.

Tompi pada Rabu, 7 Januari 2026, menilai guyonan tersebut telah melampaui batas dan mengarah pada perendahan kondisi fisik seseorang.

Menurut Tompi, apa yang tampak sebagai mata mengantuk sebenarnya adalah ptosis, yaitu kelainan anatomis pada kelopak mata yang bisa bawaan sejak lahir, fungsional, atau akibat faktor medis.

Ia menegaskan bahwa menjadikan kondisi tersebut sebagai bahan humor bukanlah bentuk kritik intelektual, melainkan kemalasan berpikir.

Tompi mengajak publik untuk mengarahkan satire pada kebijakan, ide, serta tindakan pejabat, bukan pada ciri fisik yang tidak dapat diubah.

Ia menambahkan bahwa martabat manusia tidak seharusnya menjadi punchline dalam pertunjukan komedi.

Polemik ini semakin memperpanjang perdebatan mengenai batas antara kebebasan berekspresi melalui humor dengan penghormatan terhadap kondisi pribadi figur publik.

Tanggapan Hanum dengan dukungan referensi ilmiah menambah dimensi medis dalam diskusi yang sebelumnya lebih berfokus pada etika komedi.

Publik terbelah antara yang mendukung penjelasan klinis Tompi dan yang mempertanyakan konteks penggunaan istilah ptosis pada kasus Gibran.

Debat ini mencerminkan sensitivitas masyarakat terhadap isu body shaming versus hak kritik dalam ruang publik.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok.

Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.

Top Post Ad

Below Post Ad

ads bottom

Copyright © 2023 - Repelita.id | All Right Reserved