Breaking Posts

10/trending/recent

Hot Widget

Type Here to Get Search Results !

Emil Salim Kritik Politisi Masa Kini: Berjuang Bukan untuk Rakyat, Tapi untuk Kembalikan Modal

Indonesia Dinilai Krisis Kepemimpinan, Emil Salim Sebut Negara Punya Ketua,  Bukan Pemimpin - About Malang

Repelita Jakarta - Sejarawan ternama Profesor Emil Salim memberikan pandangan kritis mengenai kualitas para politisi yang aktif pada masa kini.

Menurut penilaiannya, para tokoh politik saat ini sudah tidak lagi mencerminkan sosok politisi profesional yang berjuang untuk kepentingan rakyat.

Pernyataan tersebut disampaikannya dalam sebuah wawancara yang diunggah pada kanal YouTube Akbar Faizal Uncensored pada Senin (26/1/2026).

“Saya lihat para tokoh politisi sekarang ini bukan politisi profesional,” kata Emil Salim.

“Bukan politisi by perjuangan akibat dari zaman muda kecil berjuang terus,” tegasnya lebih lanjut.

Ia berpendapat bahwa mayoritas politisi masa kini berasal dari kalangan yang memiliki peluang lebih besar karena didukung oleh modal finansial yang kuat.

“Tapi by opportunity, mereka menjadi pemimpin karena kebetulan punya uang,” jelas Profesor Emil Salim.

“Punya dana menang dalam pemilihan di tingkat kabupaten, daerah macam-macam,” ucapnya.

“Naik tingkat macam-macam itu,” tambah sang sejarawan.

Akibatnya, motivasi utama mereka ketika memasuki dunia politik bukan lagi didasari oleh ide atau gagasan besar untuk memajukan bangsa.

Dorongan yang lebih dominan justru adalah keinginan untuk mengembalikan segala modal yang telah dikeluarkan selama proses pemilihan.

“Jadi dorongannya bukan dari ide, gagasan, cita-cita untuk membangun suatu kesejahteraan bagi orang,” ujarnya.

“Tapi mungkin lebih banyak bagaimana saya bisa membayar kembali ongkos pemilihan,” imbuh Emil Salim.

Fenomena inilah yang kemudian melatarbelakangi banyaknya kasus korupsi yang melibatkan para politisi di berbagai tingkatan.

Tindakan koruptif tersebut sering kali dimotivasi oleh kebutuhan untuk menutupi biaya politik yang sudah dikeluarkan sebelumnya.

“Jadi rupanya ada motivasi mengumpulkan uang untuk dipilih gitu,” paparnya.

“Jadi bukan uang itu untuk saya bagi masyarakat, tapi bagi masyarakat milik saya,” lanjut Emil Salim.

“Tapi tentu tidak semua begitu,” katanya memberikan catatan.

Kondisi ini sangat berbeda dengan realitas politik yang terjadi pada masa lampau di mana para tokoh lebih mengedepankan perjuangan ideologis.

Ia menyebutkan contoh dari era kepemimpinan Presiden Soekarno dan Wakil Presiden Muhammad Hatta sebagai representasi ideal.

“Tapi suasana itu perjuangan, seperti zamannya Bung Karno, Pak Hatta, dan sebagainya,” kenangnya.

“Dosisil dengan Pak Juanda, macam-macam,” ujar Emil Salim.

Semangat kepemimpinan pada masa itu lebih berorientasi pada pengabdian untuk rakyat daripada keinginan untuk memperkaya diri.

“Suasana di orang pemimpin bekerja bukan jadi kaya, tapi untuk rakyat,” tegasnya.

“Spirit itu saya lihat yang agak kerlap-kerlip,” tutup Profesor Emil Salim menyayangkan memudarnya nilai-nilai luhur tersebut.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.

Top Post Ad

Below Post Ad

ads bottom

Copyright © 2023 - Repelita.id | All Right Reserved