Fenomena tak biasa ini sempat direkam oleh warga dan membuat sejumlah pengendara terkejut karena terkena butiran es yang berjatuhan.
Dalam rekaman yang beredar, suara hujan deras awalnya dikira berasal dari intensitas air yang tinggi.
Namun, ternyata butiran es berjatuhan cukup lama dan menimbulkan suara benturan yang khas.
Seorang pengendara motor mengaku kepalanya terasa sakit akibat terkena pecahan es berukuran kecil hingga besar.
Meski tidak berlangsung lama, warga diminta tetap waspada apabila fenomena ini kembali terjadi.
Prakirawan cuaca BMKG, Iqbal Fatoni, menjelaskan bahwa hujan es umumnya muncul pada masa peralihan musim kemarau ke musim hujan maupun sebaliknya.
Fenomena ini dipicu oleh pembentukan awan kumulonimbus yang membawa uap air dalam jumlah besar ke lapisan atmosfer atas.
BMKG menegaskan bahwa hujan es sulit diprediksi karena durasinya sangat singkat dan intensitasnya tidak merata.
Namun, dalam tiga hari ke depan, potensi hujan lebat disertai angin kencang bahkan hujan es diperkirakan masih bisa terjadi di wilayah Sumatera bagian selatan, sebagian besar Jawa, Papua, Kalimantan Barat, Bali, dan Maluku.
Indonesia sebagai negara tropis memang rawan mengalami hujan es terutama pada masa transisi musim.
Awan kumulonimbus yang terbentuk dengan intensitas tinggi sering memicu hujan deras, angin kencang, hingga turunnya butiran es ke permukaan.
BMKG mengimbau masyarakat untuk tetap waspada terhadap perubahan cuaca ekstrem, terutama di wilayah padat penduduk seperti Jakarta.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok

