Repelita Washington - Beberapa anggota militer Amerika Serikat melaporkan menerima arahan dari atasan mereka yang menggambarkan operasi militer bersama Israel melawan Iran sebagai bagian dari skenario ilahi yang dirancang untuk memunculkan Armageddon atau hari akhir.
Laporan tersebut berasal dari Military Religious Freedom Foundation lembaga pengawas kebebasan beragama di lingkungan militer yang mencatat lebih dari dua ratus keluhan dari personel di lebih dari lima puluh unit berbeda sejak pengumuman serangan besar-besaran terhadap Iran oleh Presiden Donald Trump pada Sabtu lalu.
Seorang perwira non-komisioner yang menjadi pengadu mengungkapkan bahwa komandannya memulai sesi persiapan pertempuran dengan menenangkan pasukan bahwa misi di Iran merupakan bagian dari rencana Tuhan sehingga tidak perlu ditakuti.
Perwira itu mengklaim komandan juga merujuk ayat-ayat dari Kitab Wahyu dalam Alkitab sambil menyebut Armageddon serta kedatangan kembali Yesus Kristus sebagai konteks dari operasi yang sedang dijalankan.
Dalam laporan tertulis yang diperoleh pihak terkait pengadu menyatakan bahwa pesan serupa disampaikan atas nama dirinya serta lima belas rekan satu unit yang bertugas di area konflik dengan peran pendukung kesiapan tempur.
Ia menambahkan tuduhan bahwa komandan menyebut Presiden Trump telah diurapi Yesus untuk menyalakan api sinyal di Iran demi memicu Armageddon yang membuat sejumlah personel terkejut selama briefing berlangsung.
Identitas pengadu dirahasiakan karena adanya kekhawatiran akan pembalasan atau sanksi dari pihak Pentagon terhadap karir maupun posisi mereka.
Sampai saat ini belum ada pernyataan resmi dari Pentagon terkait permintaan penjelasan mengenai dugaan pengarahan yang mengandung unsur religius tersebut.
Menteri Pertahanan Pete Hegseth sebelumnya diketahui mendorong pelaksanaan doa rutin di lingkungan Departemen Pertahanan yang mendapat sorotan kritis dari berbagai pihak.
Presiden MRFF Mikey Weinstein menilai maraknya retorika keagamaan di institusi militer sebagai bahaya serius bagi prinsip pemisahan antara institusi agama dan negara di Amerika Serikat.
Ketika Anda menemukan nasionalisme Kristen di tempat yang memiliki senjata nuklir dan sistem persenjataan canggih itu menjadi ancaman langsung terhadap keamanan nasional ujar Weinstein.
Retorika bernuansa religius juga terdengar dari kubu Israel di mana Perdana Menteri Benjamin Netanyahu pernah mengutip perintah dalam Taurat yang merujuk musuh kuno bangsa Israel ketika membahas Iran.
Tujuan dinyatakan resmi dari operasi militer Amerika Serikat di Iran adalah menghancurkan kemampuan rudal balistik serta kekuatan laut Teheran memutus rantai proksi regional dan mencegah pengembangan senjata nuklir oleh negara tersebut.
Meski demikian lonjakan pengaduan ke MRFF mencerminkan keresahan di kalangan sebagian prajurit terhadap penyisipan narasi keagamaan dalam konteks operasi militer aktif.
Konflik yang masih berada di tahap awal ini tidak hanya mempertajam ketegangan geopolitik di tingkat dunia tetapi juga memicu diskusi internal mendalam di Amerika Serikat mengenai garis batas antara keyakinan individu dan kebijakan militer negara.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok

