Breaking Posts

10/trending/recent

Hot Widget

Type Here to Get Search Results !

Prabowo Akhirnya Ucapkan Duka untuk Khamenei: Dede Budyarto Sebut Kehati-hatian Diplomasi, Bukan Keterlambatan

 

Repelita Jakarta - Setelah mendapat sorotan luas atas keterlambatan ucapan duka, Presiden Prabowo Subianto akhirnya menyampaikan belasungkawa atas wafatnya Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei.

Mantan Komisaris PT Pelni Dede Budyarto menilai langkah tersebut mencerminkan kehati-hatian diplomasi Indonesia di tengah situasi sensitif kawasan Timur Tengah.

Menurut Dede eskalasi konflik yang melibatkan Israel Amerika Serikat serta Iran mengharuskan setiap kepala negara menghitung matang sebelum mengeluarkan pernyataan resmi.

“Di tengah eskalasi konflik Timur Tengah yg melibatkan Israel United States dan Iran setiap kata dari seorang kepala negara memiliki konsekuensi geopolitik” ujar Dede dikutip fajar.co.id pada Kamis tanggal 5 Maret 2026.

Ia menegaskan bahwa keputusan Presiden Prabowo untuk tidak terburu-buru menyampaikan ucapan duka bukan tanda ketidakpedulian terhadap peristiwa tersebut.

Justru pendekatan itu dinilai sebagai wujud kedewasaan dalam menjalankan diplomasi internasional.

“Ketika Presiden Prabowo Subianto menyampaikan ucapan duka atas gugurnya Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei tidak secara tergesa-gesa banyak yang mempertanyakan Namun dalam diplomasi kehati-hatian justru sering kali merupakan tanda kematangan” sambungnya.

Dede menjelaskan Indonesia sengaja menunggu situasi lebih stabil serta melakukan verifikasi mendalam sebelum mengambil posisi resmi.

Pendekatan ini menunjukkan bahwa kebijakan luar negeri Indonesia tidak didasarkan pada emosi sesaat melainkan perhitungan strategis yang matang.

“Indonesia memilih menunggu situasi stabil dan melakukan verifikasi sebelum mengambil posisi resmi Ini menunjukkan bahwa negara tidak bergerak berdasarkan emosi tetapi berdasarkan kalkulasi strategis” tegasnya.

Ia juga menyoroti penggunaan frasa “gugur dalam serangan militer” dalam pernyataan resmi Presiden.

Pilihan kata tersebut dianggap mampu menyampaikan empati serta sikap moral tanpa menutup pintu komunikasi dengan pihak-pihak terkait lainnya.

“Dengan tetap menggunakan frasa gugur dalam serangan militer Indonesia mampu menyampaikan empati dan sikap moral tanpa menutup ruang komunikasi dgn pihak lain” imbuhnya.

Dede menambahkan bahwa pengiriman Menteri Luar Negeri secara langsung untuk menyerahkan surat belasungkawa menjadi bukti bahwa dukungan Indonesia bersifat nyata dan substansial.

Langkah itu bukan sekadar reaksi cepat di media sosial melainkan tindakan diplomatik yang terukur.

“Di saat yang sama pengiriman Menlu RI secara langsung menjadi sinyal bahwa dukungan Indonesia bersifat nyata dan substansial bukan sekadar reaksi cepat di media sosial” ungkapnya.

Menurutnya pendekatan tersebut mencerminkan karakter diplomasi Indonesia yang selama ini dikenal tenang berhitung serta tetap menjaga keseimbangan hubungan internasional.

“Inilah wajah diplomasi Indonesia tenang berhitung dan tetap menjaga keseimbangan” tandasnya.

Dede menekankan bahwa dalam dinamika geopolitik global yang rumit tidak semua respons harus disampaikan dengan nada keras atau tergesa-gesa.

“Karena dalam geopolitik global tidak semua hal harus dijawab dgn suara keras Kadang langkah paling kuat justru adalah langkah yang paling terukur” kuncinya.

Surat belasungkawa dari Presiden Prabowo ditujukan kepada Presiden Iran Masoud Pezeshkian dan menyampaikan simpati serta penghormatan atas kepergian Ayatollah Ali Khamenei.

Surat resmi tersebut diserahkan langsung oleh Menteri Luar Negeri Sugiono kepada Duta Besar Iran untuk Indonesia Mohammad Boroujerdi di Jakarta pada Rabu tanggal 4 Maret 2026.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.

Top Post Ad

Below Post Ad

ads bottom

Copyright © 2023 - Repelita.id | All Right Reserved