![]()
Repelita Jakarta - Klaim Garda Revolusi Islam Iran IRGC bahwa rudal mereka berhasil menghantam kapal pendukung tempur Amerika Serikat hingga mengalami kerusakan parah dan tenggelam kini menjadi sorotan utama di tengah memanasnya situasi di kawasan Teluk Persia.
Penampakan kapal yang diklaim rusak berat tersebut langsung memicu perbincangan luas mengenai dampaknya terhadap keseimbangan kekuatan militer di wilayah strategis tersebut.
IRGC menyatakan serangan rudal tersebut menargetkan kapal pendukung tempur AS dengan kode MST yang akhirnya tenggelam sepenuhnya akibat hantaman tersebut.
Selain itu sistem hidrolik pada kapal induk USS Lincoln dilaporkan mengalami kerusakan total sehingga kapal tersebut tidak lagi mampu meluncurkan maupun mendaratkan pesawat tempur secara efektif.
Kerusakan krusial ini membuat kapal induk Lincoln dianggap kehilangan kemampuan operasional utamanya di tengah operasi militer yang sedang berlangsung.
IRGC menegaskan bahwa aset angkatan laut Amerika Serikat lainnya masih berada dalam jangkauan rudal serta drone Iran selama operasi terus berjalan.
Klaim tersebut muncul bersamaan dengan peningkatan kehadiran armada militer AS di perairan Teluk yang semakin mempertegas eskalasi ketegangan antara kedua pihak.
Hingga saat ini belum ada konfirmasi independen maupun pernyataan resmi dari pihak Amerika Serikat mengenai kebenaran kerusakan atau penenggelaman kapal tersebut.
Pernyataan IRGC ini menguatkan kembali ucapan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Sayyid Ali Khamenei yang sebelumnya memperingatkan bahaya kapal perang AS di dekat wilayah Iran.
"Kita terus mendengar bahwa mereka telah mengirim sebuah kapal perang ke arah Iran. Kapal perang tentu saja merupakan senjata berbahaya, tetapi yang lebih berbahaya adalah senjata yang mampu menenggelamkannya," ujar Khamenei dalam pidato yang dilansir Al Arabiya pada Rabu 18 Februari 2026.
Retorika tersebut dinilai sebagai bagian dari upaya deterensi Iran untuk memperlihatkan kemampuan militernya di hadapan kehadiran militer asing.
Peristiwa ini berlangsung di tengah pembicaraan nuklir yang masih dimediasi Oman antara Iran dan Amerika Serikat meskipun jalur diplomasi belum sepenuhnya tertutup.
Iran tetap menekankan pencabutan sanksi ekonomi sebagai syarat utama dalam setiap kesepakatan baru terkait program nuklirnya sementara Washington terus mendorong pembatasan ketat.
Pengerahan kapal induk AS dalam jumlah besar sebelumnya di kawasan Teluk dilihat sebagai sinyal bahwa opsi militer masih menjadi pilihan yang tersedia.
Kawasan Teluk yang menjadi jalur utama distribusi energi global membuat setiap ketegangan berpotensi memengaruhi stabilitas pasar internasional termasuk fluktuasi harga minyak.
Klaim kerusakan kapal tempur AS akibat rudal Iran tidak hanya berdampak pada ranah militer tetapi juga menjalar ke aspek ekonomi serta politik di tingkat dunia.
Risiko salah persepsi dan respons berantai dalam situasi tegang seperti ini tetap menjadi ancaman serius bagi stabilitas kawasan.
Meskipun retorika militer semakin keras jalur komunikasi diplomatik melalui mediator Oman masih berupaya menjaga dialog tetap terbuka.
Perkembangan ke depan dalam pembicaraan nuklir akan sangat menentukan apakah ketegangan dapat mereda atau justru berlanjut ke eskalasi lebih lanjut.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok

