
Repelita Teheran - Pemimpin Tertinggi Revolusi Islam, Mojtaba Khamenei menegaskan bahwa kepemilikan senjata nuklir merupakan hak mutlak Iran yang tidak bisa ditawar oleh pihak mana pun.
Pernyataan ini langsung mengundang perhatian dunia dan mempertegas sikap Teheran di tengah konflik berkepanjangan.
Langkah tersebut sekaligus membatalkan semua perjanjian internasional terkait penghentian program nuklir yang pernah disepakati sebelumnya.
"Mereka membunuh orang yang sedang bernegosiasi. Jadi orang yang membuat bom telah tiba," kata Sayyid Mojtaba, seperti dikutip vanguardngr.com.
Pernyataan ini menandai perubahan haluan drastis dari kebijakan pendahulunya yang masih membuka peluang negosiasi dengan Amerika Serikat.
Mojtaba Khamenei diangkat sebagai pemimpin tertinggi pada 8 Maret, menggantikan ayahnya yang tewas dalam serangan 28 Februari 2026.
Pengangkatannya sekaligus menandakan kelanjutan kebijakan garis keras Teheran dalam menghadapi tekanan asing.
Di sisi lain, Wakil Panglima Tertinggi IRGC, Brigadir Jenderal Ali Fadavi, menyebut bahwa saat ini tidak ada kapal angkatan laut Amerika yang berani melintas di kawasan Selat Hormuz.
"Tidak ada satu pun kapal angkatan laut Amerika dalam radius 700 kilometer dari Iran. Musuh harus mempertimbangkan kemungkinan memasuki perang gesekan yang berkepanjangan yang dapat menyebabkan keruntuhan total ekonomi Amerika dan global," katanya.
Ketua Parlemen Republik Islam, Mohammad Baqer Qalibaf, melontarkan ejekan pedas kepada Amerika Serikat terkait klaim pengawalan kapal tanker di Selat Hormuz.
Ejekan ini menyusul aksi Menteri Energi Amerika, Chris Wright, yang mengunggah lalu menghapus pernyataan bahwa Angkatan Laut Amerika telah mengawal kapal tanker minyak melalui jalur strategis tersebut.
Sebagaimana dilaporkan Daily Ittehad, Qalibaf mengejek Amerika pada Selasa, 10 Maret 2026, atas insiden memalukan itu.
Gedung Putih dengan cepat membantah pernyataan yang dibuat oleh menterinya sendiri dan menyebutnya tidak akurat.
Para pejabat Teheran mengecam Washington karena dianggap menyebarkan informasi palsu untuk memanipulasi pasar minyak global.
Juru Bicara Korps Garda Revolusi Islam Iran, Sardar Ali Mohammad Naeini, dengan tegas membantah klaim adanya pengawalan oleh kapal perang Amerika.
"Tidak ada kapal AS yang berani mendekati Laut Oman, Teluk Persia, atau Selat Hormuz selama perang," kata Naeini dalam pernyataan yang disiarkan oleh lembaga penyiaran publik IRIB.
Naeini menegaskan bahwa Iran akan menghentikan setiap pergerakan armada Amerika dan sekutunya selama operasi militer berlangsung.
"Setiap pergerakan armada AS dan sekutunya akan dihentikan oleh rudal dan drone kami," tegasnya.
Komandan Angkatan Laut IRGC, Alireza Tangsiri, juga angkat bicara melalui akun resminya di X.
Ia memperingatkan akan menghentikan pergerakan armada Amerika Serikat dan sekutunya yang mencoba melintasi Selat Hormuz.
Peringatan itu termasuk untuk misi pengawalan yang akan dihadang menggunakan rudal dan kapal selam.
Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Ali Larijani, menyampaikan peringatan filosofis melalui akun X pribadinya.
"Selat Hormuz akan menjadi selat perdamaian dan kemakmuran bagi semua pihak, atau menjadi selat kekalahan dan penderitaan bagi para penghasut perang," ujarnya.
Juru bicara Garda Revolusi Iran sebelumnya juga menyatakan bahwa pasukan Amerika menderita lebih dari 650 korban tewas dan terluka dalam dua hari pertama operasi True Promise 4.
Namun di sisi lain, data dari Komando Pusat Amerika menunjukkan klaim berbeda dengan menyebut penurunan drastis kemampuan rudal Iran.
Menurut analisis The Jerusalem Post, Iran disebut telah kehilangan lebih dari 60 persen peluncur rudalnya.
Selain itu 43 kapal angkatan laut Iran dikabarkan hancur atau rusak dalam serangan balasan Amerika dan Israel.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok

