
Repelita Teheran - Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kini mulai merembet ke dunia sepak bola internasional setelah seorang menteri Iran melontarkan pernyataan keras.
Menteri Olahraga Iran Ahmad Donyamali secara terbuka meluapkan kemarahannya kepada Amerika Serikat dan menyatakan negaranya tidak mungkin ikut serta dalam turnamen sepak bola terbesar dunia.
Kemarahan itu dipicu oleh tewasnya pemimpin tertinggi Iran Ali Khamenei dalam serangan yang menurut Teheran dilakukan oleh Amerika Serikat dan Israel.
"Karena rezim korup itu telah membunuh pemimpin kami, dalam kondisi apa pun kami tidak bisa ikut Piala Dunia," ujar Donyamali dikutip Al Jazeera.
Ia juga menyoroti situasi keamanan di negaranya yang menurutnya tidak memungkinkan untuk memikirkan kompetisi olahraga internasional.
"Anak-anak kami tidak aman. Pada dasarnya tidak ada kondisi yang memungkinkan kami berpartisipasi," tegasnya.
Serangan udara yang dilakukan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran memicu ketegangan besar di kawasan dan menewaskan pemimpin tertinggi negara tersebut.
Konflik tersebut kemudian berkembang menjadi perang terbuka dengan berbagai serangan balasan yang dilaporkan menewaskan ribuan warga Iran.
Donyamali menyebut negaranya dipaksa menghadapi dua perang dalam waktu kurang dari setahun.
"Melalui tindakan bermusuhan terhadap Iran, mereka memaksa kami menghadapi dua perang dalam delapan hingga sembilan bulan terakhir dan ribuan rakyat kami gugur," katanya.
Situasi ini menjadi semakin sensitif karena Piala Dunia 2026 akan digelar bersama oleh Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko pada 11 Juni hingga 19 Juli 2026.
Seluruh pertandingan fase grup Iran dijadwalkan berlangsung di wilayah Amerika Serikat.
Berdasarkan hasil undian turnamen, Iran berada di Grup G bersama Belgia, Mesir, dan Selandia Baru.
Dua pertandingan mereka dijadwalkan berlangsung di Los Angeles, sementara satu laga lainnya digelar di Seattle.
Kondisi inilah yang membuat pemerintah Iran menilai partisipasi tim nasional hampir mustahil terjadi di tengah konflik yang sedang berlangsung.
Sinyal Iran tidak akan tampil di Piala Dunia 2026 sebenarnya juga datang dari otoritas sepak bola negara tersebut.
Presiden Federasi Sepak Bola Iran Mehdi Taj sebelumnya sudah menyampaikan keraguan besar terkait partisipasi tim nasional.
Dalam wawancara dengan media olahraga Iran Varzesh3, Taj menegaskan bahwa kondisi negara saat ini membuat sepak bola bukan lagi prioritas utama.
Ia mengatakan setelah serangan yang terjadi di Iran, masyarakat tidak bisa lagi diharapkan menantikan Piala Dunia dengan penuh harapan.
"Setelah serangan ini, kami tidak bisa diharapkan menantikan Piala Dunia dengan harapan. Mustahil bagi kami untuk fokus bertanding sementara infrastruktur kami hancur dan bangsa sedang dalam masa berkabung nasional," ujar Taj.
Situasi di Iran memang tengah berduka setelah tewasnya pemimpin tertinggi negara itu dalam operasi militer Amerika Serikat.
Pemerintah Iran kemudian menetapkan masa berkabung nasional selama 40 hari.
Dampaknya langsung terasa di dunia olahraga karena seluruh kompetisi domestik dihentikan tanpa batas waktu.
Kondisi tersebut membuat persiapan tim nasional Iran menuju Piala Dunia praktis terhenti.
Persiapan terhenti baik dari sisi latihan, kondisi fisik pemain, hingga kesiapan mental skuad Team Melli.
Selain faktor duka nasional, Taj juga menyoroti kendala lain yang dinilai tidak kalah besar.
Kebijakan pembatasan perjalanan yang diterapkan pemerintah Amerika Serikat membuat proses pengurusan visa bagi delegasi Iran menjadi sangat sulit.
Menurut Taj, situasi tersebut membuat tim nasional Iran hampir mustahil bertanding dengan normal.
"Bagaimana mungkin tim kami bertanding dengan tenang di tanah negara yang baru saja meluncurkan agresi militer terhadap kami?" katanya.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok

