Repelita Bandung - Kinerja pemerintahan Prabowo Gibran semakin tidak memberikan harapan bagi masyarakat karena manajemen negara yang amburadul tanpa perencanaan dan pengorganisasian yang efektif efisien.
Kementerian sibuk dengan urusan masing-masing sementara hasil kerja buruk tetap mendapat apresiasi dari Presiden yang hanya mengukur berdasarkan kepatuhan dan dukungan para menteri.
Presiden dan wakil presiden tidak menunjukkan sinergi yang baik karena masing-masing bergerak sendiri seperti kakek pikun dan anak bayi yang belum matang.
Keterpilihan Gibran disorot sejak awal pencalonan dengan rekayasa usia yang vulgar konstitusi yang dimainkan serta penyelenggara pemilu yang tercemar.
Rakyat dipaksa diam menyaksikan kepalsuan sehingga Gibran dianggap wakil presiden cacat yang dipaksakan dan terbaru diketahui tidak memenuhi syarat pendidikan.
Desakan pemakzulan semakin kencang meski Prabowo melindungi karena sadar Gibran adalah gratifikasi untuk dukungan dari ayahnya.
Rakyat memaklumi jika pemakzulan terbatas pada Gibran agar Prabowo bisa memiliki wakil yang lebih cerdas dan berkompeten untuk memperbaiki kinerja.
Prabowo tampak buta dan tuli terhadap aspirasi rakyat karena lebih memilih patuh pada Jokowi daripada mengikuti suara hati nurani.
Sikap serupa terlihat dalam menanggapi tuntutan ganti Kapolri yang berbelit meski Kapolri sudah siap alih profesi menjadi petani.
Prabowo bukan pemimpin yang baik dan berdedikasi karena mimpi tinggi tidak didukung konsistensi diri serta janji kampanye banyak tertinggal tanpa realisasi.
Blunder demi blunder terjadi sehingga kepercayaan publik tergerus dengan kabinet gemuk boros korup hukum berantakan gemar piknik banyak omon serta mengabdi pada Jokowi dan oligarki.
Pengelolaan program unggulan makan bergizi gratis belepotan dan menjadi sarang korupsi bagi instansi relasi serta famili.
Mahasiswa menyebut program ini sebagai maling berkedok gizi yang diprediksi gagal dengan kebocoran besar pada keuangan negara.
Keanggotaan Board of Peace dan perjanjian Agreement on Reciprocal Trade dengan Amerika menjadi blunder abad ini karena Indonesia yang mendukung kemerdekaan Palestina justru menghambatnya.
Misi Board of Peace penuh tipu daya sementara Amerika dan Israel sebagai musuh Palestina kini menjadi sahabat Indonesia yang menunjukkan pengkhianatan Prabowo terhadap bangsa.
Ngotot tetap di Board of Peace mengabaikan desakan rakyat menimbulkan kecurigaan karena The Guardian menyebutnya sebagai klub suap menyuap.
Indonesia berada dalam bahaya di bawah kepemimpinan Prabowo Gibran sehingga penyelamatan hanya melalui pemakzulan keduanya sesuai mekanisme Undang-Undang Dasar 1945.
Rakyat bersiap mendesak penggantian kepemimpinan karena impeachment menjadi keniscayaan di tengah situasi negara yang meluncur ke kegelapan.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok

