Breaking Posts

10/trending/recent

Hot Widget

Type Here to Get Search Results !

Ketua Parlemen Tolak Gencatan Senjata, Soroti Tanggapan Keras Iran terhadap Agresi!

Tokoh Iran berdampingan, podium seragam dan rapi

Repelita Teheran - Di tengah gempuran rudal dan drone yang terus dilancarkan tanpa henti, Iran menunjukkan sikap yang semakin tidak kenal kompromi terhadap setiap upaya perdamaian yang ditawarkan oleh mediator internasional.

Ketua Parlemen Mohammad Baqer Qalibaf secara terbuka menolak semua usulan gencatan senjata dan menegaskan bahwa pihaknya akan terus melawan hingga agresor benar-benar mendapat pelajaran setimpal atas kejahatan mereka.

Baqer Qalibaf dengan tegas menolak semua usulan gencatan senjata yang masuk, seraya menekankan perlunya menghadapi agresor secara tegas untuk mencegah ancaman di masa depan terhadap Teheran.

"Kami tentu saja tidak mencari gencatan senjata; kami percaya bahwa kami harus menyerang agresor di mulut agar mereka mendapat pelajaran dan tidak pernah lagi berpikir untuk melakukan agresi terhadap Iran tercinta kami," kata Qalibaf dalam sebuah unggahan di akun X miliknya pada Rabu 11 Maret 2026.

Pernyataan keras ini dikutip secara luas oleh media termasuk Tasnim News yang selama ini dekat dengan pemerintahan Iran dan memiliki akses ke sumber-sumber terpercaya.

Ia lebih lanjut mencatat bahwa rezim Zionis melihat keberadaannya yang memalukan dalam kelanjutan siklus perang negosiasi gencatan senjata dan kemudian perang lagi untuk mengkonsolidasikan dominasinya di kawasan Timur Tengah.

"Kita akan memutus siklus ini," tegas Qalibaf dengan nada penuh keyakinan yang mencerminkan tekad bulat pemerintah Iran.

Pernyataan tegas Qalibaf ini bukan sekadar retorika politik biasa mengingat latar belakangnya yang kuat di militer dan pengaruhnya yang besar di pemerintahan.

Sebagai mantan komandan tinggi Korps Garda Revolusi Islam atau IRGC dan tokoh konservatif garis keras, ia memiliki pengaruh besar dalam menentukan arah kebijakan perang Iran.

Qalibaf yang juga pernah menjabat sebagai panglima Angkatan Udara IRGC dikenal sebagai figur yang selalu mendukung kebijakan keras terhadap Amerika Serikat dan Israel tanpa kompromi.

Sikapnya yang tanpa kompromi ini sejalan dengan keputusan baru-baru ini yang mengangkat Sayyid Mojtaba Khamenei sebagai pemimpin tertinggi menggantikan ayahnya.

Hal ini menandai semakin solidnya kekuatan garis keras di Teheran dalam menghadapi tekanan internasional yang datang dari berbagai arah.

Apa yang dimaksud Qalibaf dengan siklus perang-negosiasi perlu dipahami dalam konteks sejarah panjang konflik di Timur Tengah yang penuh intrik.

Sepanjang sejarah konflik di kawasan tersebut Israel memang kerap terlibat dalam pola yang berulang secara konsisten selama beberapa dekade terakhir.

Pola tersebut dimulai ketika perang berkobar dengan hebat kemudian negosiasi dilakukan di tengah tekanan internasional yang semakin meningkat.

Setelah itu gencatan senjata disepakati oleh kedua belah pihak yang bertikai dengan pengawasan dunia internasional.

Namun beberapa waktu kemudian perang kembali pecah dengan intensitas yang sama atau bahkan lebih dahsyat dari sebelumnya.

Namun kali ini Iran menegaskan dengan sangat jelas tidak akan terjebak dalam permainan itu selamanya seperti yang terjadi di masa lalu.

"Kami akan memutus siklus ini," kata Qalibaf seperti dikutip dari Washington Examiner yang meliput perkembangan terbaru di Timur Tengah.

Ini berarti Iran bertekad untuk terus melancarkan perlawanan hingga mencapai titik akhir yang menentukan dalam konflik ini.

Iran tidak ingin mengulang sejarah dengan gencatan senjata sementara yang hanya menunda pertempuran berikutnya tanpa solusi nyata.

Pemerintah Iran melalui juru bicaranya Fatemeh Mohajerani juga menegaskan bahwa diplomasi hanya bisa dilakukan setelah pertempuran benar-benar berhenti total.

"Kami tidak memulai perang, tapi kamilah yang akan mengakhirinya," kata Mohajerani dalam siaran langsung yang disiarkan media pemerintah Iran IRNA.

Amerika Serikat dan rezim Zionis melancarkan kampanye militer skala besar terhadap Teheran menyusul pembunuhan Pemimpin Revolusi Islam Ayatollah Sayyid Ali Khamenei.

Pembunuhan tersebut juga menewaskan beberapa komandan militer senior dan warga sipil pada tanggal 28 Februari 2026 lalu yang menjadi titik balik konflik.

Serangan-serangan tersebut melibatkan serangan udara besar-besaran terhadap lokasi militer dan sipil di seluruh Republik Islam tanpa pandang bulu.

Akibatnya banyak korban jiwa berjatuhan dan kerusakan infrastruktur yang meluas di berbagai kota penting Iran seperti Teheran dan Isfahan.

Sebagai tanggapan Angkatan Bersenjata Iran telah melakukan operasi pembalasan secara besar-besaran di berbagai front pertempuran.

Mereka menargetkan posisi Amerika dan Israel di wilayah pendudukan dan di pangkalan-pangkalan regional dengan gelombang rudal dan drone.

Hingga hari ke-12 perang Republik Islam terus melancarkan serangan tanpa menunjukkan tanda-tanda akan berhenti atau melunak.

Militer Teheran mengumumkan pada Selasa 10 Maret 2026 bahwa mereka menggunakan drone bunuh diri untuk menyerang fasilitas manufaktur senjata.

Mereka juga menyerang pusat penerima intelijen satelit di Haifa yang menjadi saraf vital militer Israel selama ini.

Sementara itu IRGC meluncurkan gelombang ke-35 serangan rudal yang menghantam berbagai target di Tel Aviv dan Beit Shemesh.

Serangan juga menyasar pangkalan-pangkalan Amerika Serikat di kawasan seperti Pangkalan Udara Al Dhafra di UEA dan pangkalan militer di Bahrain.

Di pihak Amerika Presiden Donald Trump merespons dengan nada yang tidak kalah keras dan mengancam melalui media sosialnya.

Trump memperingatkan bahwa Teheran tidak boleh mengganggu jalur pelayaran di Selat Hormuz yang merupakan jalur energi paling vital di dunia.

“Jika Iran melakukan apa pun yang menghentikan aliran minyak di Selat Hormuz mereka akan dihantam oleh Amerika Serikat DUA PULUH KALI LEBIH KERAS daripada yang telah mereka alami sejauh ini,” tulis Trump di Truth Social.

Ia bahkan menyebut akan menghancurkan target-target yang mudah dihancurkan di Republik Islam sehingga negara itu sulit untuk membangun kembali.

Trump menyebut peringatannya ini sebagai hadiah dari Amerika Serikat kepada China dan negara-negara lain yang sangat bergantung pada pengiriman energi melalui Selat Hormuz.

Juru Bicara Gedung Putih Karoline Leavitt juga menegaskan bahwa AS tidak akan membiarkan teroris Iran mengganggu kebebasan navigasi dan aliran energi.

“Jika mereka (Iran) melakukan apa pun untuk menghentikan aliran minyak atau barang di Selat Hormuz mereka akan dihantam oleh militer paling kuat di dunia dua puluh kali lebih keras daripada yang telah mereka alami sejauh ini,” ancam Leavitt.

Di balik perlawanan militer yang terus berlangsung Teheran juga mengadopsi strategi ekonomi untuk menekan Amerika Serikat dan sekutunya.

Juru bicara IRGC Ali Mohammad Naeini menyatakan bahwa Teheran tidak akan mengizinkan satu liter minyak pun diekspor dari kawasan ke pihak musuh dan mitra-mitranya.

Sementara itu analis energi dari Center for Strategic and International Studies atau CSIS Clayton Seigle memperingatkan bahwa Iran belum benar-benar memainkan kartu terakhirnya.

Kartu terakhir yang dimaksud adalah kemungkinan menyerang fasilitas ekspor minyak negara-negara Teluk yang selama ini menjadi tulang punggung ekonomi mereka.

Jika itu terjadi dampaknya terhadap pasar energi global akan sangat parah dan berkepanjangan selama berbulan-bulan.

Sementara itu perang tersebut telah menimbulkan korban jiwa yang besar di pihak sipil dari kedua belah pihak yang bertikai.

Iran melaporkan sedikitnya 1.332 warga sipil tewas termasuk tragedi mengenaskan di Minab yang mengguncang dunia.

Di Minab sebanyak 175 siswi menjadi korban serangan rudal Amerika dan Israel yang menghantam sekolah mereka saat belajar.

Ribuan rumah hancur dan fasilitas umum seperti rumah sakit dan sekolah juga menjadi sasaran serangan tanpa pandang bulu.

Kementerian Kesehatan Israel mencatat 2.339 warga Israel telah dirawat di rumah sakit sejak awal perang pecah.

Dari jumlah tersebut sebanyak 95 orang di antaranya masih menerima perawatan intensif di berbagai rumah sakit rujukan.

Dalam 24 jam terakhir saja 191 warga dilarikan ke rumah sakit dengan 4 di antaranya mengalami luka serius.

Penolakan tegas terhadap gencatan senjata disuarakan Ketua Parlemen Mohammad Baqer Qalibaf sebagai sikap resmi negara.

Iran menganggap siklus perang-negosiasi-gencatan senjata yang selama ini dimainkan Israel harus diputus selamanya.

Iran bertekad melanjutkan perang hingga tuntas tanpa kompromi sedikit pun terhadap agresor.

Pemerintah Iran menegaskan bahwa mereka tidak memulai perang tapi akan menjadi pihak yang menentukan akhirnya.

Serangan rudal dan drone terus dilancarkan ke wilayah Israel dan pangkalan AS di kawasan secara bergantian.

Ancaman keras dilontarkan kedua belah pihak tanpa ada yang menunjukkan keinginan untuk mundur selangkah pun.

Trump memperingatkan akan menghantam Iran 20 kali lebih keras jika mengganggu Selat Hormuz.

Sementara Iran mengancam akan memblokade ekspor minyak dari kawasan dan telah menyerang infrastruktur energi musuh.

Editor: 91224 R-ID Elok

Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.

Top Post Ad

Below Post Ad

ads bottom

Copyright © 2023 - Repelita.id | All Right Reserved