
Repelita Teheran - Republik Islam Iran kembali melancarkan serangan balasan terhadap Amerika Serikat dan Israel yang disebutnya sebagai gelombang ke-33 terhadap target-target militer Amerika Serikat dan zionis Israel di kawasan Timur Tengah.
Serangan ini merupakan aksi balasan lanjutan atas agresi militer Amerika Serikat dan zionis sejak 28 Februari 2026 yang telah membunuh lebih dari seribu warga Teheran dan sekitarnya.
Gelombang balasan ke-33, 32, dan 31 yang diluncurkan secara beruntun ini diberi kode operasi Labbaik Ya Khamanei sebagai bentuk penghormatan kepada pemimpin baru mereka.
Serangan rudal balasan Iran ini didedikasikan bagi Pemimpin Revolusi Islam sekaligus pemimpin tertinggi komandan angkatan bersenjata Iran Ayatollah Mojtaba Khamenei yang baru dilantik.
Dilansir dari kanal YouTube Metro TV, rudal-rudal Iran dengan hulu ledak seberat satu ton ditembakkan ke target-target militer Amerika Serikat dan zionis Israel dalam gelombang balasan ke-33 operasi True Promise 4.
Juru Bicara Markas Pusat Khatam Al-Anbiya Angkatan Bersenjata Iran, Letnan Kolonel Ebrahim Zolfaghari, kembali menegaskan bahwa pihaknya akan terus menggempur kawasan Israel dan basis militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah.
"Dengan nama Allah yang maha pengasih lagi maha penyayang. Pesan kepada musuh (zionis) adalah, api yang dahsyat akan terus menghujani kalian," katanya dalam pernyataan yang dikutip pada Rabu 11 Maret 2026.
Menurut pengamatannya, warga zionis Israel saat ini tengah dilanda ketakutan yang luar biasa akibat serangan bertubi-tubi dari militer Iran.
"Bentrokan para zionis saat melarikan diri dari Bandara Ben Gurion menunjukkan realitas kondisi rezim yang lemah, genting, dan menyedihkan," tuturnya dengan nada penuh keyakinan.
"Detik demi detik ruang gerak kalian (zionis), semakin sempit dan melarikan diri ke bunker yang sempit dan gelap akan menjadi kebiasaan baru bagi kalian (zionis)," sambungnya dalam pernyataan yang disiarkan luas.
Zolfaghari menegaskan bahwa Iran adalah bangsa pejuang yang siap melawan para pembuat onar dan pengganggu kedaulatan.
"Darah di nadi kami telah menemukan aliran baru. Kami bergegas untuk bertempur melawan para penyerang tanah air kami. Kami memiliki tekad yang kuat sekeras baja dan dengan segenap jiwa kami menjaga keutuhan tanah ini," tegasnya.
"Kami akan bertindak tegas terhadap kalian (zionis) dan nasib buruk telah menanti kalian (zionis) dan Allah yang maha perkasa lagi maha pembalas dan tidak ada kemenangan melainkan dari sisi Allah yang maha perkasa lagi maha bijaksana," sambungnya mengutip ayat suci.
Sebelumnya dalam gelombang balasan ke-32, Teheran juga berhasil menghancurkan daerah utara dan pusat wilayah pendudukan zionis menggunakan rudal Qader dan rudal Khorramshahr-4 yang mematikan.
Pada gelombang balasan ke-31, Iran meluncurkan rudal-rudal ultra heavy ke target militer musuh yang tersebar di berbagai lokasi strategis.
Gelombang-gelombang balasan atas agresi Amerika Serikat dan zionis ini membuat penduduk Israel berbondong-bondong untuk kabur kembali ke negara asal mereka melalui bandara zionis Ben Gurion.
Situasi itu digambarkan oleh para pengamat sebagai ketidaksanggupan rezim zionis dalam menghadapi perlawanan sengit dari Iran.
Pada Senin 9 Maret 2026, IRGC merilis video peluncuran rudal menuju Israel dan aset Amerika Serikat di kawasan yang langsung viral di media sosial.
Dalam gelombang serangan ke-31, rudal-rudal yang diluncurkan didedikasikan untuk Pemimpin Tertinggi Revolusi Islam yang baru yakni Mojtaba Khamenei putra dari pemimpin sebelumnya.
Rudal yang dilesatkan kali ini adalah rudal Khorramshahr-4, rudal balistik dengan hulu ledak lebih dari satu setengah ton yang sangat mematikan.
Sebelumnya pada Kamis 5 Maret 2026, IRGC juga merilis video peluncuran rudal balistik Khorramshahr-4 yang menargetkan Bandara Ben Gurion Tel Aviv dengan akurasi tinggi.
Rudal balistik ini diklaim paling canggih di antara koleksi rudal-rudal Iran dengan jarak jangkau hingga dua ribu kilometer dan berhulu ledak seribu lima ratus kilogram.
Khorramshahr-4 dirancang khusus untuk berpenetrasi menembus sistem pertahanan udara tercanggih milik Amerika Serikat dan sekutunya.
Iran juga telah mengembangkan daftar target potensial termasuk aset ekonomi Amerika Serikat yang akan diserang jika agresi terus berlanjut.
Bahkan Teheran juga telah merevisi target-target serangan lainnya sehingga tak lagi fokus pada aset militer Amerika Serikat dan Israel di Timur Tengah saja.
Korps Garda Revolusi Islam Iran dilaporkan telah meluncurkan balasan gelombang ke-30 yang menargetkan sejumlah kota di Israel dan fasilitas militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah.
Hingga kini Republik Islam tersebut masih terus melancarkan serangan sebagai balasan atas agresi Amerika Serikat dan Zionis yang membunuh lebih dari seribu warga Teheran.
Disitat dari kanal YouTube Metro TV, gelombang ke-30 dan 29 balasan Iran telah diluncurkan dengan rudal-rudal Next Generation berkode Ali Wali Allah dan Ya Ali bin Abi Thalib.
Rudal-rudal tersebut menargetkan wilayah pendudukan zionis di Tel Aviv hingga sejumlah pangkalan militer Amerika Serikat di kawasan Teluk.
Gelombang ke-30 ini diluncurkan pada malam ke-19 bulan Ramadan yang dianggap sebagai malam mustajab bagi umat Islam.
Korps Garda Revolusi Islam atau IRGC menyebut sejumlah rudal termasuk rudal Khorramshahr, Emad, Kader hingga Kheibar Shekan menghantam target militer Amerika Serikat dan kota-kota di Israel dengan mudah.
Sejumlah rudal tersebut memanfaatkan menurunnya efisiensi pertahanan Amerika Serikat dan Zionis Israel akibat serangan bertubi-tubi.
Rudal-rudal dengan hulu ledak tujuh ratus kilogram hingga satu ton itu meluncur dengan jangkauan hingga sekitar seribu empat ratus lima puluh kilometer dan kemampuan manuver tinggi.
IRGC memastikan bahwa peluncuran rudal-rudal ini bagian dari Operasi True Promise 4 atau Janji Sejati 4 yang memanfaatkan rudal-rudal berhulu ledak majemuk mencapai sepuluh hingga dua puluh hulu ledak.
Selain itu rudal Kheibar Shekan yang merupakan generasi awal rudal Fattah-1 mencatat tingkat keberhasilan tertinggi selama gelombang balasan sebelumnya.
Sementara itu Tel Aviv dilaporkan gelap gulita akibat pemadaman listrik menyusul pembalasan Iran atas agresi zionis ke wilayah kedaulatan Republik Islam.
Sirene berbunyi nyaring di sejumlah wilayah pendudukan zionis seperti Tel Aviv, Ashdod, Rishon LeZion, dan Petah Tikva tanpa henti.
Dalam gelombang ke-29 balasan Republik Islam, sedikitnya enam belas titik di Tel Aviv terkena hantaman dan mencapai target-target militer zionis dengan akurat.
Sebagai informasi zionis menempatkan markas pusat militernya di tengah Kota Tel Aviv yang kerap dikritik oleh para pemukim zionis sendiri karena berisiko tinggi.
Akibat balasan IRGC ini sejumlah pemukim zionis pun melarikan diri melalui Bandara David Ben-Gurion ke negara asal mereka masing-masing dengan tergesa-gesa.
Para pemukim itu berasal dari berbagai negara seperti Amerika Serikat dan sejumlah negara Eropa yang sebelumnya datang ke Israel.
Juru Bicara IRGC Ali-Mohammad Naeini menyatakan angkatan bersenjata Iran siap menghadapi perang skala penuh berintensitas tinggi hingga enam bulan ke depan.
Menurutnya kemampuan militer IRGC masih jauh dari batas maksimal dan belum menunjukkan seluruh kekuatan yang dimiliki.
"Senjata, strategi, taktik, inisiatif guna senjata rudal berat balistik dan jelajah bersama dengan berbagai jenis drone dan kapal serang telah disiapkan sesuai untuk perang skala besar, perang habis-habisan dan konflik yang berkepanjangan," katanya.
"Angkatan Bersenjata Republik Islam yang cakap dan kuat sepenuhnya siap untuk tidaknya perang skala penuh intensitas tinggi selama enam bulan dengan kecepatan saat ini," sambung dia penuh percaya diri.
Naeini juga menyebut rudal yang digunakan Iran sejauh ini sebagian besar merupakan generasi lama yang diproduksi sekitar tahun 2012 hingga 2013.
Menurutnya Iran bahkan belum menggunakan rudal yang diproduksi dalam satu dekade terakhir yang teknologinya jauh lebih canggih.
"Rudal yang telah kami gunakan sejauh ini sebagian besar termasuk generasi pertama dan kedua sebagian besar diproduksi sekitar tahun 2012 dan 2013."
"Bahkan, kami sama sekali tidak menggunakan rudal yang telah diproduksi selama sepuluh tahun terakhir, meskipun produksi dalam beberapa tahun terakhir telah meningkat beberapa kali lipat," timpalnya lagi.
Ia menambahkan produksi rudal Iran meningkat signifikan dalam beberapa tahun terakhir dan mengklaim negara itu mampu memproduksi dalam jumlah besar.
"Dalam periode antara perang dua belas hari dan perang Ramadan, rudal yang setara dengan produksi beberapa tahun telah diproduksi," tuntasnya mengakhiri pernyataan.
Editor: 91224 R-ID Elok

