Repelita Teheran - Perang antara Iran melawan koalisi Amerika Serikat serta Israel telah memasuki hari kedelapan pada 8 Maret 2026 dengan pukulan telak yang terus menimpa pasukan musuh dari berbagai arah.
Intelijen Markhor merilis data mengejutkan mengenai korban jiwa di pihak Amerika Serikat serta Zionis Israel yang mencapai lebih dari seribu seratus lima puluh orang termasuk tujuh jenderal dan tiga puluh enam agen Mossad.
Laporan dari Markas Besar Pusat Khatam Al-Anbiya menyebutkan sebanyak dua ratus orang tewas serta terluka di pangkalan Amerika Al-Dhafra di Uni Emirat Arab yang merupakan markas penting Angkatan Udara AS di kawasan Teluk.
Markas tersebut menjadi target utama serangan balasan Iran sehingga mengalami kerusakan signifikan pada infrastruktur serta sumber daya militer Amerika Serikat.
Markas Besar Pusat Khatam al-Anbiya juga mengonfirmasi bahwa dua puluh satu tentara tewas serta lainnya terluka dari Armada Kelima Angkatan Laut AS di Bahrain dalam kurun waktu dua puluh empat jam.
Armada Kelima yang bermarkas di Bahrain selama ini menjadi ujung tombak kekuatan laut Amerika Serikat di Teluk Persia dan kini mengalami kerugian berat akibat serangan Iran.
Dalam dua puluh empat jam terakhir sebuah kapal tanker minyak milik Amerika Serikat menjadi sasaran di Teluk bagian utara pada Kamis 5 Maret 2026 pagi.
Korps Garda Revolusi Islam Iran mengumumkan bahwa angkatan lautnya meluncurkan rudal ke kapal tanker tersebut sehingga target dilaporkan terbakar hebat sebagai balasan atas serangan torpedo Amerika Serikat terhadap kapal perang IRIS Dena.
Foto udara memperlihatkan luasnya kerusakan akibat serangan drone terhadap gudang milik perusahaan Amerika Halliburton di daerah Al-Burjasiya distrik Al-Zubair sebelah barat Basra pada malam sebelumnya.
Insiden tersebut dikonfirmasi oleh berbagai sumber yang menyebut kebakaran terjadi di kantor serta gudang Halliburton dan KBR setelah serangan drone menargetkan kompleks yang menampung karyawan perusahaan minyak asing.
Halliburton sebagai perusahaan raksasa energi asal Texas yang menjadi kontraktor utama Pentagon di Irak serta kawasan Teluk mengalami kerugian material signifikan.
Menteri Luar Negeri Iran Sayyid Abbas Araghchi menyebut Amerika Serikat melakukan kejahatan perang terang-terangan dengan menyerang pabrik desalinasi air di Pulau Qeshm yang memengaruhi pasokan air bagi tiga puluh desa.
Putus asa dengan menyerang pabrik desalinasi air tawar di Pulau Qeshm yang memengaruhi pasokan air di 30 desa kata Sayyid Abbas Araghchi di akun X pribadinya pada Sabtu 7 Maret 2026.
Menargetkan infrastruktur adalah langkah berbahaya dengan konsekuensi serius dan pendekatan ini ditetapkan oleh Amerika Serikat bukan Teheran tambahnya.
Kementerian Kesehatan Iran mengumumkan sedikitnya sembilan ratus dua puluh enam orang tewas serta enam ribu seratus delapan puluh enam lainnya terluka dalam serangan gabungan Amerika Serikat serta Israel sejak 28 Februari 2026.
Data terbaru menyebutkan korban di pihak Iran mencapai seribu empat puluh lima orang termasuk seratus tujuh puluh lima siswi serta staf yang tewas dalam serangan rudal ke sekolah dasar di Minab pada hari pertama perang.
Di pihak Israel sepuluh warga sipil tewas termasuk sembilan orang dalam serangan rudal Iran di Beit Shemesh dekat Yerusalem pada 1 Maret 2026.
Amerika Serikat melaporkan enam personel layanan tewas menurut US Central Command sementara Kuwait mencatat tiga orang tewas termasuk dua tentara dalam serangan Iran.
Uni Emirat Arab mencatat tiga orang tewas Bahrain satu orang tewas Irak setidaknya tiga belas orang tewas serta Lebanon tujuh puluh tujuh orang tewas dalam serangan Israel.
Iran telah menargetkan setidaknya enam pangkalan militer Amerika Serikat di kawasan Teluk dengan kerusakan signifikan pada markas Armada Kelima di Bahrain Pangkalan Udara Ali Al Salem di Kuwait serta instalasi di Bandara Internasional Erbil Irak.
Serangan tersebut menyebabkan bangunan runtuh terminal komunikasi satelit hancur serta api berkobar hingga keesokan harinya di beberapa lokasi.
Perang ini menunjukkan ketahanan Iran dalam melancarkan serangan balasan presisi meskipun menghadapi tekanan militer besar dari koalisi Amerika Serikat serta Israel.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok

