Breaking Posts

10/trending/recent

Hot Widget

Type Here to Get Search Results !

Herwin Sudikta Kritik Klaim MBG Unggul: Kuantitas Besar Tapi Keracunan Anak Jadi Masalah Serius

 

Repelita Jakarta - Klaim pemerintah bahwa program Makan Bergizi Gratis di Indonesia lebih unggul dibandingkan program serupa di Jepang serta negara-negara Eropa mendapat sorotan tajam dari pegiat media sosial Herwin Sudikta.

Menurutnya keberhasilan program tersebut tidak boleh hanya dinilai dari volume atau jumlah porsi makanan yang telah disalurkan kepada masyarakat.

Herwin menanggapi pernyataan Presiden Prabowo Subianto yang menyatakan capaian statistik MBG lebih baik daripada Jepang dan Eropa dengan menekankan pentingnya aspek kualitas serta dampak nyata bagi penerima manfaat.

Kuantitas boleh besar, ujar Herwin.

Ia menegaskan bahwa ukuran keberhasilan sebuah inisiatif pangan tidak cukup hanya diukur dari banyaknya makanan yang dibagikan tanpa mempertimbangkan mutu serta keamanannya.

Herwin juga menyoroti sejumlah laporan kasus keracunan yang dialami anak-anak sebagai peserta program tersebut yang seharusnya menjadi perhatian utama sebelum program dipuji secara berlebihan.

Tapi kalau kualitasnya sampai bikin anak-anak keracunan, kenapa perbandingannya tidak sekalian saja, tukasnya.

Ia menyarankan agar evaluasi dilakukan secara menyeluruh dengan memasukkan berbagai faktor termasuk risiko kesehatan yang muncul selama pelaksanaan.

Herwin mengusulkan agar perbandingan dengan negara lain mencakup aspek lengkap yakni jumlah porsi yang disalurkan dibandingkan dengan jumlah korban yang terdampak negatif.

Berapa porsi dibagikan vs berapa korban keracunan, tutur Herwin.

Menurutnya membanggakan angka distribusi tanpa melihat kualitas justru berpotensi menimbulkan masalah serius di kemudian hari.

Percuma ngebanggain kuantitas kalau kualitasnya sampai bikin kasus keracunan, tandasnya.

Ia menekankan bahwa parameter keberhasilan seharusnya tidak terbatas pada volume distribusi melainkan juga pada dampak kesehatan serta kesejahteraan penerima manfaat secara keseluruhan.

Harusnya yang perlu dihitung itu bukan cuma jumlah porsinya, tapi jumlah korbannya, pungkasnya.

Sebelumnya Presiden Prabowo Subianto menyampaikan laporan terbaru mengenai pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis saat meresmikan 1.079 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi Polri di Jakarta Barat pada Jumat 13 Februari 2026.

Dalam kesempatan tersebut ia menyebutkan bahwa statistik capaian Indonesia lebih baik dibandingkan Jepang serta sejumlah negara Eropa meski masih perlu diverifikasi lebih lanjut.

Prabowo juga mengakui adanya laporan gangguan kesehatan termasuk keracunan pada penerima manfaat namun menekankan bahwa angka tersebut sangat kecil jika dibandingkan dengan total distribusi.

Sampai hari ini kurang lebih sudah 28 ribu penerima manfaat yang menerima gangguan, dikatakan keracunan, sakit perut dan sebagainya. 28 ribu dari 4,5 miliar. Kalau tidak salah itu adalah 0,006 artinya 99,994, kata Prabowo.

Ia menjelaskan bahwa dari perspektif statistik angka keberhasilan mencapai 99,994 persen yang dibulatkan menjadi sangat tinggi dan sulit ditemukan pada usaha manusia lainnya.

Itu kalau statistik, itu kan dibulatkan ke atas. 99,994 itu berhasil itu. Di mana ada usaha manusia yang 100 persen, lanjutnya.

Prabowo menyatakan bahwa laporan statistik tersebut diterimanya sekitar dua hari sebelum acara peresmian dan berharap capaian tersebut dapat dipertahankan bahkan ditingkatkan.

Saya dapat laporan kemarin, ini tolong diverifikasi. Tapi saya dapat laporan, kita punya statistik hari ini. Insya Allah kita pertahankan, kalau bisa kita kurangi lagi. Kita punya statistik itu lebih baik dari Jepang dan lebih baik dari Eropa, imbuhnya.

Meski demikian ia mengingatkan agar tidak terjebak dalam kesombongan karena sikap tersebut dapat menjadi awal kemunduran.

Jangan kita sombong, jangan kita petantang petenteng. Kesombongan adalah awal dari kehancuran, tegas Prabowo.

Ia menutup dengan mengingatkan pentingnya sikap rendah hati sebagaimana pepatah ilmu padi dari leluhur serta harapan agar program terus diperbaiki ke depannya.

Ingat itu. Semakin berisi, semakin menunduk. Itu adalah ilmu padi dari nenek moyang kita. Itu adalah ilmu pendekar, kuncinya.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok


Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.

Top Post Ad

Below Post Ad

ads bottom

Copyright © 2023 - Repelita.id | All Right Reserved