Repelita Jakarta - Harga minyak dunia kembali menguat pada perdagangan Jumat 13 Maret 2026 karena Selat Hormuz masih ditutup akibat perang di Timur Tengah yang kini telah memasuki pekan kedua.
Dikutip dari Reuters pada Minggu 15 Maret 2026 kontrak minyak mentah Brent crude untuk pengiriman Mei ditutup di USD 103,14 per barel atau naik USD 2,68 atau 2,67 persen dari perdagangan sebelumnya.
Sementara itu minyak West Texas Intermediate untuk pengiriman April ditutup di USD 98,71 per barel atau naik USD 2,98 atau 3,11 persen menunjukkan tren kenaikan yang signifikan.
Kenaikan harga terjadi setelah sebelumnya sempat turun akibat laporan keliru yang menyebut kapal tanker berbendera India berhasil melintasi Selat Hormuz dengan aman.
Belakangan diketahui kapal tersebut berlayar dari Oman dan tidak melewati selat tersebut sehingga harga minyak kembali naik sebelum tengah hari Jumat.
Secara mingguan Brent telah naik 11,27 persen sejak harga penutupan 6 Maret sementara WTI menguat sekitar 8 persen dibandingkan sepekan lalu.
Di sisi lain pemerintah Amerika Serikat mengeluarkan lisensi selama 30 hari yang memungkinkan sejumlah negara membeli minyak Rusia untuk menekan harga bahan bakar bagi konsumen domestik.
Kebijakan ini diambil untuk menekan harga bahan bakar bagi konsumen Amerika yang mulai merasakan dampak lonjakan harga minyak global.
Lebih lanjut Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengatakan langkah tersebut bertujuan menstabilkan pasar energi global yang terguncang oleh perang antara AS dan Israel dengan Iran.
Utusan presiden Rusia Kirill Dmitriev mengatakan kebijakan itu akan memengaruhi sekitar 100 juta barel minyak mentah Rusia atau setara hampir satu hari produksi minyak global.
Analis komoditas SEB Bjarne Schieldrop mengatakan minyak Rusia sebenarnya sudah memiliki pembeli sehingga kebijakan tersebut tidak menambah pasokan baru ke pasar.
Namun kebijakan itu dapat mengurangi hambatan distribusi dan pembayaran yang selama ini menjadi kendala akibat sanksi Barat terhadap Rusia.
"Pasar mulai sangat khawatir perang ini akan berlangsung lebih lama. Kekhawatiran terbesar adalah kerusakan besar pada infrastruktur minyak yang bisa menyebabkan kehilangan pasokan secara permanen," ujarnya.
Langkah terkait minyak Rusia itu diumumkan sehari setelah Departemen Energi AS menyatakan akan melepas 172 juta barel minyak dari Strategic Petroleum Reserve untuk membantu menekan lonjakan harga.
Rencana tersebut dikoordinasikan dengan International Energy Agency yang sepakat melepas 400 juta barel minyak dari cadangan strategis global termasuk kontribusi dari AS.
Namun sentimen positif dari pelepasan cadangan minyak tersebut kembali memudar setelah risiko geopolitik di Timur Tengah meningkat akibat perang yang terus berlanjut.
Pemimpin tertinggi baru Iran Mojtaba Khamenei mengatakan Iran akan terus berperang dan tetap menutup Selat Hormuz sebagai tekanan terhadap Amerika Serikat dan Israel.
Penutupan Selat Hormuz yang merupakan jalur transit sekitar 20 persen minyak dunia telah memicu kekhawatiran akan kelangkaan pasokan global.
Iran menegaskan bahwa Selat Hormuz hanya akan dibuka kembali jika Amerika Serikat dan Israel menghentikan agresi mereka terhadap Tehran.
Para analis memprediksi harga minyak dapat terus melonjak hingga mencapai USD 120 per barel jika konflik berlanjut dalam waktu lama.
Negara-negara pengimpor minyak mulai merasakan dampak inflasi akibat kenaikan harga energi yang signifikan dalam beberapa pekan terakhir.
Indonesia sebagai negara pengimpor minyak juga merasakan dampak dari lonjakan harga ini dengan meningkatnya beban subsidi energi.
Pemerintah Indonesia terus memantau perkembangan situasi dan menyiapkan langkah antisipasi untuk menjaga stabilitas pasokan dan harga energi dalam negeri.
Masyarakat diimbau untuk tidak panik dan tetap menggunakan energi secara bijak di tengah situasi global yang tidak menentu.
Dunia internasional berharap konflik dapat segera mereda agar stabilitas pasokan energi global dapat pulih kembali.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok

