
Repelita Jakarta - Para pakar intelijen internasional menduga Iran memanfaatkan sistem navigasi satelit BeiDou milik China untuk mengarahkan serangan ke pangkalan militer Israel serta Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah.
Mantan kepala intelijen luar negeri Prancis bernama Alain Juillet menyampaikan kepada sebuah podcast independen di Prancis baru-baru ini bahwa Iran kemungkinan besar memperoleh akses ke BeiDou sehingga ketepatan sasaran rudalnya meningkat tajam setelah konflik 12 hari melawan Israel pada Juni lalu.
Menurutnya salah satu hal mengejutkan dari pertempuran tersebut adalah rudal Iran menunjukkan presisi jauh lebih baik dibandingkan delapan bulan sebelumnya sehingga memunculkan berbagai tanya mengenai teknologi panduannya.
Sebagai balasan atas serangan gabungan AS-Israel yang dimulai akhir Februari serta pembunuhan sejumlah tokoh kunci Iran termasuk Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei Iran melepaskan ratusan rudal balistik dan drone menuju Israel serta instalasi AS di negara-negara Teluk.
Meski banyak rudal berhasil dicegat oleh Israel dan sekutunya di kawasan tersebut beberapa tetap lolos dan menimbulkan kerusakan besar serta korban jiwa.
Amerika Serikat mampu mengacaukan atau memblokir sinyal GPS miliknya yang dulu sering dipakai militer Iran namun sulit melakukan hal serupa terhadap BeiDou karena merupakan milik China.
Iran belum memberikan konfirmasi resmi terkait dugaan penggunaan sistem tersebut.
BeiDou merupakan sistem navigasi satelit generasi terbaru China yang mulai beroperasi penuh pada 2020 dan diposisikan sebagai saingan GPS Amerika Serikat.
Presiden China Xi Jinping meresmikan sistem ini secara resmi pada Juli 2020 di Beijing setelah pengembangan dimulai akibat kekhawatiran atas kemungkinan pembatasan akses GPS oleh Washington selama krisis Taiwan 1996.
Sistem BeiDou mengandalkan lebih banyak satelit yakni sekitar 45 unit dibandingkan GPS yang hanya 24 satelit serta GLONASS Rusia dan Galileo Uni Eropa yang masing-masing juga 24 satelit.
BeiDou terdiri dari tiga bagian utama yaitu segmen luar angkasa segmen darat serta segmen pengguna yang mencakup berbagai perangkat penerima dan layanan.
Sistem ini bekerja dengan mengirim sinyal waktu dari satelit ke penerima di bumi sehingga posisi dapat dihitung berdasarkan selisih waktu tiba sinyal dari beberapa satelit.
Akurasi posisi bergantung pada jenis layanan di mana sinyal sipil biasanya mencapai lima hingga sepuluh meter sementara layanan khusus untuk pengguna berwenang memberikan ketepatan jauh lebih tinggi.
Beberapa analis menilai Iran telah merencanakan integrasi BeiDou sejak lama termasuk melalui nota kesepahaman pada 2015 untuk BeiDou-2 guna meningkatkan panduan rudal.
Proses tersebut dipercepat setelah kesepakatan kemitraan strategis komprehensif China-Iran pada 2021 yang diduga memberikan akses ke sinyal militer terenkripsi BeiDou.
Iran mulai mengurangi ketergantungan pada GPS sekitar 2021 dan diyakini menyelesaikan transisi penuh ke BeiDou termasuk untuk keperluan sipil pada Juni 2025 tepat setelah konflik 12 hari di mana gangguan GPS sempat mengganggu operasi rudal serta drone mereka.
Penggunaan BeiDou memungkinkan rudal balistik Iran mencapai presisi lebih tinggi karena menggabungkan navigasi inersia dengan koreksi sinyal satelit sehingga mengatasi akumulasi kesalahan seiring jarak dan waktu.
Analis menekankan bahwa pendekatan multi-sistem satelit memberikan ketahanan lebih baik terhadap gangguan elektronik karena sinyal dari lebih banyak satelit meningkatkan geometri dan akurasi secara keseluruhan.
BeiDou diklaim memiliki margin kesalahan di bawah satu meter serta kemampuan koreksi otomatis jika sasaran bergerak sehingga jauh melampaui sinyal GPS sipil yang dibatasi Amerika Serikat.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok

