Breaking Posts

10/trending/recent

Hot Widget

Type Here to Get Search Results !

AS Kewalahan Hadapi Rudal Iran, Tarik Sistem THAAD dari Korsel, Warga Panik di Tengah Uji Coba Rudal Korut

 Komposisi geopolitik militer

Repelita Seoul - Bukti di lapangan semakin memperkuat bahwa Amerika Serikat semakin kewalahan menghadapi serangan balas dendam yang dilakukan Iran dengan lebih dari 500 rudal telah diluncurkan ke wilayah Israel dan aset-aset militer AS di sejumlah negara Timur Tengah.

Kondisi ini memaksa AS harus mengambil langkah atau tindakan yang justru membuat warga Korea Selatan panik karena sistem pertahanan udara mereka dipindahkan ke Timur Tengah.

Seoul panik atas tindakan AS yang terjadi pada saat Korea Utara baru saja melakukan uji coba dengan meluncurkan 10 rudal balistik di dekat perairan Korea Selatan dan Jepang.

Analisa sejumlah kalangan ternyata memang kenyataan bahwa sebelumnya banyak para analisis militer memperkirakan AS dan Israel akan menghadapi krisis rudal pencegat untuk mengantisipasi serangan rudal dan drone kamikaze Iran.

Terbukti rudal-rudal yang diluncurkan Iran tak mampu sepenuhnya dihalau sistem pertahanan udara Israel dan AS yang selama ini dianggap canggih.

Israel yang memiliki sistem pertahanan udara berlapis yakni Iron Dome, David's Sling, Arrow dan terminal bantuan AS THAAD ternyata tak mampu menahan gempuran rudal Iran yang menghajar wilayah Israel.

Bahkan bukti terbaru seorang jurnalis Israel mengakui bahwa sistem pertahanan udara Israel tak mampu menghalau rudal-rudal Iran yang terus menghajar wilayah Israel.

Menurutnya rudal-rudal Iran mampu menghadapi rudal-rudal pencegat Israel karena rudal Iran mampu memecah menjadi 6 bagian saat akan menghantam wilayah Israel.

AS juga menghadapi kewalahan menghadapi rudal-rudal Iran yang telah menghancurkan sejumlah aset militer mereka di sejumlah negara di Timur Tengah.

Sebuah laporan memperkirakan hingga hari ke-4 perang saja AS sudah mengalami kerugian mencapai sekitar 2 miliar dolar atau setara Rp34 triliun akibat kerusakan aset-aset militer AS.

Akibat kewalahan menghadapi Iran dan menghadapi krisis rudal pencegat memaksa AS harus mengambil tindakan dengan memindahkan sistem pertahanan udara mereka yang telah ditempatkan di sejumlah negara sekutunya.

Washington Post melaporkan bahwa pada Selasa 10 Maret 2026 AS telah merelokasi sistem pertahanan udara mereka dari Korea Selatan ke wilayah Timur Tengah.

Relokasi ini terjadi pada hari ke-12 perang Iran versus AS dan Israel dan menyusul laporan terbaru bahwa Iran telah menghancurkan radar utama yang digunakan oleh sistem THAAD di Yordania yang bernilai 300 juta dolar AS.

THAAD pertama kali dikerahkan ke Korea Selatan pada tahun 2017 untuk melindungi diri dari ancaman Korea Utara yang memiliki senjata nuklir dan rudal balistik.

Relokasi tersebut ditanggapi dengan kemarahan dan protes dari warga Korea Selatan yang khawatir tindakan tersebut akan menjadikan mereka target yang lebih besar dari Korea Utara.

Sementara Tiongkok memperingatkan bahwa tindakan tersebut dapat mengganggu stabilitas kawasan Asia Timur yang sudah rapuh.

Dibuat oleh perusahaan AS Lockheed Martin sistem anti-rudal ini mencakup enam peluncur terpasang dengan delapan pencegat pada setiap peluncur dan sistem radar untuk deteksi dini.

Rudal ini dapat menembak jatuh rudal balistik jarak pendek dan menengah menggunakan teknologi hit-to-kill yang berarti energi kinetik menghancurkan hulu ledak yang masuk.

Rudal ini dapat melakukan hal ini di ketinggian bahkan di luar atmosfer bumi yang dianggap sangat berguna di Korea Selatan untuk mencegat dan menghancurkan hulu ledak nuklir.

Media Korea Selatan termasuk SBS dan Yonhap melaporkan bahwa peluncur THAAD sudah diangkut keluar dari pangkalan udara Seongju di selatan Seoul.

Presiden Lee Jae-myung mengakui bahwa Seoul telah "menyatakan penolakan" terhadap penarikan senjata AS tersebut namun tetap tidak dapat mencegahnya.

"Tampaknya ada kontroversi baru-baru ini mengenai pasukan AS di Korea yang mengirimkan sejumlah senjata seperti baterai artileri dan senjata pertahanan udara ke luar negeri," katanya dalam rapat kabinet.

Kepanikan Korea Selatan wajar karena beberapa hari sebelumnya Korea Utara baru saja melakukan uji coba dengan meluncurkan 10 rudal balistik ke wilayah dekat perairan Korea Selatan dan Jepang.

Sumber militer Korea Selatan menyatakan bahwa Korea Utara menembakkan lebih dari 10 rudal balistik ke laut pada hari Sabtu saat pasukan AS dan Korea Selatan melakukan latihan militer bersama.

Pasukan penjaga pantai Jepang mengatakan telah mendeteksi sesuatu yang kemungkinan adalah rudal balistik yang jatuh ke laut di luar zona ekonomi eksklusif Jepang.

Rudal-rudal tersebut diluncurkan dari daerah dekat ibu kota Pyongyang sekitar pukul 13.20 waktu setempat menuju laut di lepas pantai timur negara itu.

Korea Utara telah melakukan uji coba peluncuran berbagai macam rudal balistik dan rudal jelajah selama lebih dari dua dekade.

Hal ini dilakukan dalam upaya mengembangkan sarana untuk mengirimkan senjata nuklir yang diyakini telah berhasil dibangunnya.

Situasi ini semakin memperumit dinamika keamanan di kawasan Asia Timur yang harus menghadapi ketidakpastian akibat ulah Korea Utara.

Sementara AS yang selama ini menjadi payung keamanan bagi sekutunya justru menarik sistem pertahanannya di saat yang paling dibutuhkan.

Korea Selatan kini harus menghadapi ancaman Korea Utara tanpa perlindungan penuh dari sistem THAAD yang telah dipindahkan ke Timur Tengah.

Dunia internasional terus memantau perkembangan situasi yang semakin kompleks ini dengan kekhawatiran akan terjadi eskalasi di berbagai kawasan.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.

Top Post Ad

Below Post Ad

ads bottom

Copyright © 2023 - Repelita.id | All Right Reserved