Breaking Posts

10/trending/recent

Hot Widget

Type Here to Get Search Results !

Guntur Romli Kritik Prabowo Tak Ucapkan Duka atas Wafatnya Khamenei: Etika Diplomatik Dipertanyakan Sebelum Tawaran Jadi Juru Damai

 

Repelita Jakarta - Juru Bicara PDIP Mohamad Guntur Romli mengkritik Presiden Prabowo Subianto karena belum menyampaikan pernyataan duka cita resmi atas wafatnya Pemimpin Tertinggi Iran Sayyid Ali Khamenei pasca serangan militer Amerika Serikat dan Israel.

Menurut Guntur hingga kini belum ditemukan ucapan bela sungkawa dari Presiden Prabowo terhadap kepergian kepala negara Iran tersebut yang dikutip pada Selasa 3 Maret 2026.

Ia menekankan bahwa secara de facto Sayyid Ali Khamenei merupakan kepala negara Iran sementara Prabowo menjabat sebagai kepala negara sekaligus kepala pemerintahan Indonesia.

Hubungan diplomatik antara Indonesia dan Iran dinilai kuat baik secara bilateral maupun di forum internasional sehingga ketiadaan ucapan duka cita dianggap janggal.

Secara etika dan adab ketimuran Guntur mempertanyakan mengapa tidak ada pernyataan kesedihan dari seorang kepala negara sahabat yang wafat.

“Tapi anehnya, ada kepala negara sahabat meninggal, Prabowo tidak mengucapkan kesedihan dan duka cita. Secara etika dan adab ketimuran, raibnya ucapan duka cita itu patut dipertanyakan,” ujarnya.

Guntur juga menyentil tawaran Prabowo menjadi juru damai dalam konflik pasca serangan tersebut termasuk kesiapan berkunjung ke Teheran yang disampaikan melalui Kementerian Luar Negeri.

Ia mempertanyakan bagaimana tawaran mediasi bisa diterima jika aspek dasar tatakrama diplomatik seperti ucapan duka cita saja tidak dilakukan.

“Bagaimana mau diterima di Teheran oleh tuan rumah, kalau tatakrama saja tidak ditunaikan?," imbuhnya.

Kondisi ini menurutnya memunculkan pesimisme dan anggapan bahwa tawaran tersebut lebih bertujuan membangun citra daripada niat tulus perdamaian.

Guntur menduga ada faktor politik yang menghambat Prabowo menyampaikan bela sungkawa mungkin karena kekhawatiran terhadap Donald Trump dan Benjamin Netanyahu.

“Apakah Prabowo merasa tidak enak, atau mungkin takut pada Donald Trump dan Benjamin Netanyahu? Karena meninggalnya Sayyid Ali Khamenei akibat dari serangan militer AS dan Israel,” katanya.

Ia menyoroti apakah afiliasi politik mampu mematikan nurani kemanusiaan hingga mengabaikan ucapan duka cita.

Prinsip politik luar negeri bebas aktif Indonesia disebutnya seharusnya memungkinkan Presiden bebas menyampaikan bela sungkawa tanpa hambatan.

Indonesia tidak sedang berkonflik dengan Iran dan tetap menjalin hubungan baik dengan kedua belah pihak sehingga tidak ada alasan untuk tidak berucap duka.

“Katanya Indonesia punya prinsip bebas aktif tapi presidennya tidak bisa bebas walau hanya mengucapkan duka cita atas berpulangnya kepala negara sahabat,” tegasnya.

Guntur mengingatkan bahwa konflik tidak boleh menghilangkan rasa kemanusiaan dengan mencontoh sikap Nabi Muhammad SAW yang tetap menghormati jenazah meski dalam situasi berbeda keyakinan.

Ia berharap Presiden Prabowo menunjukkan keberanian diplomatik dengan segera menyampaikan duka cita atas wafatnya Sayyid Ali Khamenei demi pertimbangan etik humanistik dan diplomatik.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.

Top Post Ad

Below Post Ad

ads bottom

Copyright © 2023 - Repelita.id | All Right Reserved