Repelita Jakarta - Wakil Kepala Badan Gizi Nasional Bidang Komunikasi dan Investigasi Nanik Sudaryati Deyang menyoroti maraknya isu dan narasi berlebihan terkait program makan bergizi gratis yang sering muncul di ruang publik.
Ia menyatakan bahwa sejumlah kejadian memang tercatat di lapangan namun tidak sedikit yang berkembang menjadi hoaks atau informasi yang dilebih-lebihkan.
Nanik memberikan contoh menu MBG yang sempat viral karena dianggap hanya terdiri dari mie dan satu buah pisang.
Setelah diverifikasi langsung ke satuan pelayanan pemenuhan gizi serta pihak sekolah penerima manfaat ternyata menu tersebut juga mencakup ayam sebagai lauk pendamping.
Contoh lain adalah video penolakan program MBG di MTs 4 dan MAN 8 Cilincing Jakarta Utara yang ramai beredar.
Pengecekan mendalam menunjukkan bahwa di wilayah Cilincing tidak ada sekolah dengan nama MTs 4 maupun MAN 8 sehingga narasi tersebut tidak sesuai fakta.
Nanik juga menyinggung dugaan temuan benda asing dalam makanan serta isu keracunan massal di beberapa daerah yang sempat menjadi perbincangan hangat.
Setelah ditelusuri sebagian besar kasus tersebut tidak sepenuhnya sesuai dengan narasi yang tersebar luas di media sosial.
Pernyataan tersebut disampaikan Nanik dalam workshop Penguatan Strategi Komunikasi dan Implementasi Kehumasan yang diikuti lebih dari seribu empat ratus sarjana penggerak pembangunan Indonesia pada Sabtu 7 Maret 2026 di Jakarta.
Peserta workshop terdiri dari kepala satuan pelayanan pemenuhan gizi pengawas keuangan serta pengawas gizi yang bertugas di berbagai wilayah.
Ia mencontohkan kasus di Purworejo yang sempat dikaitkan dengan program MBG namun setelah diteliti ternyata berkaitan dengan konsumsi makanan pada acara hajatan masyarakat.
Nanik menekankan bahwa pengelolaan makanan dalam skala besar memiliki tantangan khusus terutama dalam menjaga tingkat kematangan serta standar kebersihan.
Seluruh pengelola satuan pelayanan pemenuhan gizi diminta memperketat proses pengolahan agar kualitas dan keamanan pangan tetap terjamin.
Ini sudah masaknya pakai ini ono ini ya kan sudah pakai alat modern tapi masih ada keracunan ya kan. Sebetulnya bukan keracunan kalau menurut saya adalah lebih pada sistem tata kelola ujar Nanik.
Ia juga menyoroti pentingnya standar sanitasi peralatan makan dengan menanyakan langsung kepada peserta mengenai penggunaan water heater untuk mencuci ompreng di dapur SPPG.
Badan Gizi Nasional berharap para sarjana penggerak pembangunan tidak hanya menjalankan operasional program dengan baik melainkan juga memiliki kemampuan komunikasi yang efektif.
Mereka diharapkan dapat menyampaikan informasi akurat kepada masyarakat serta menangkal misinformasi yang berpotensi menggerus kepercayaan publik terhadap program makan bergizi gratis.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok

