Breaking Posts

10/trending/recent

Hot Widget

Type Here to Get Search Results !

Angkatan Laut AS tolak kawal kapal di Selat Hormuz karena takut rudal Iran

 Repelita Washington DC - Angkatan Laut Amerika Serikat dilaporkan menolak permintaan dari perusahaan minyak dan pelayaran untuk menyediakan pengawalan militer melalui Selat Hormuz karena ancaman rudal Iran yang dinilai terlalu tinggi.

Sebagaimana dilaporkan Reuters, Angkatan Laut AS menolak permintaan dari perusahaan minyak dan pelayaran untuk menyediakan pengawalan melalui jalur air paling strategis di dunia tersebut.

Menurut tiga sumber industri pelayaran yang mengetahui masalah tersebut, Angkatan Laut AS secara rutin mengadakan pengarahan dengan perwakilan industri pelayaran dan minyak untuk membahas situasi keamanan.

Dalam pengarahan tersebut, para pejabat Angkatan Laut AS menyatakan bahwa saat ini mereka tidak dapat menyediakan pengawalan bagi kapal-kapal komersial.

Para pejabat Angkatan Laut AS menilai bahwa risiko serangan di kawasan tersebut saat ini terlalu tinggi untuk operasi pengawalan militer.

Para sumber ini mengatakan bahwa industri pelayaran hampir setiap hari dalam panggilan telepon meminta pengawalan Angkatan Laut AS melalui Selat Hormuz, namun permintaan tersebut selalu ditolak dengan alasan keamanan.

Keputusan ini mencerminkan realitas pahit di lapangan yang tidak bisa diabaikan oleh militer Amerika.

Iran telah berulang kali memperingatkan akan menyerang kapal mana pun yang mencoba melintasi selat tersebut tanpa izin.

Seorang pejabat senior Garda Revolusi Iran, Ebrahim Jabari, bahkan mengatakan bahwa IRGC dan angkatan laut reguler akan membakar kapal-kapal yang nekat melintas.

Situasi ini sangat kontras dengan pernyataan-pernyataan yang selama ini dilontarkan oleh Presiden AS Donald Trump di depan publik.

Pada 3 Maret 2026 lalu, Trump mengatakan bahwa AS siap untuk mengawal kapal tanker melalui Selat Hormuz bila diperlukan dan diminta.

Trump juga telah berulang kali menyatakan bahwa AS akan memastikan aliran energi global tetap lancar demi kepentingan dunia.

"Tidak peduli apa pun, Amerika Serikat akan memastikan ALIRAN ENERGI yang BEBAS ke DUNIA," tulis Trump di Truth Social beberapa waktu lalu dengan huruf kapital.

Namun, sumber-sumber pelayaran mengatakan kepada Reuters bahwa pernyataan Trump tersebut tidak sesuai dengan kenyataan di lapangan yang sebenarnya.

Angkatan Laut AS memiliki penilaian realistis tentang ancaman di kawasan, dan mereka tidak bersedia mempertaruhkan kapal dan personel mereka dalam situasi yang sangat berisiko.

Kebingungan semakin bertambah ketika Menteri Energi AS Chris Wright sempat membuat heboh dunia dengan unggahannya.

Pada Selasa, 10 Maret 2026, Wright memposting di platform X bahwa Angkatan Laut AS telah mengawal sebuah kapal tanker minyak melalui Selat Hormuz untuk memastikan minyak tetap mengalir ke pasar global.

Tak lama kemudian, ia menghapus unggahan tersebut tanpa alasan yang jelas dan meninggalkan banyak pertanyaan.

Juru Bicara Gedung Putih Karoline Leavitt kemudian mengklarifikasi kepada para wartawan bahwa Amerika Serikat belum mengawal satu pun kapal tanker atau kapal melalui Selat Hormuz.

"Saya dapat mengonfirmasi bahwa Angkatan Laut AS belum mengawal satu pun kapal tanker minyak atau kapal melalui Selat Hormuz," kata Leavitt, seperti dikutip dari Reuters.

Mengomentari pernyataan Wright yang kontroversial itu, juru bicara Garda Revolusi Iran Ali Mohammad Naeini membantah adanya kapal minyak yang dikawal oleh Amerika.

"Setiap pergerakan armada AS dan sekutunya akan dihentikan oleh rudal dan drone kami," kata Naeini dalam pernyataan yang disiarkan media pemerintah Iran.

Sebelumnya, Trump mengeluarkan peringatan keras di Truth Social bahwa jika Iran mengganggu aliran minyak di Selat Hormuz, mereka akan dihantam oleh AS dua puluh kali lebih keras daripada yang telah mereka alami sejauh ini.

Trump juga memperingatkan bahwa jika ranjau dipasang di selat tersebut, Iran harus segera menyingkirkannya tanpa menunda.

"Jika karena alasan apa pun ranjau dipasang, dan tidak segera disingkirkan, konsekuensi Militer terhadap Iran akan berada pada level yang belum pernah terlihat sebelumnya," tulis Trump dengan nada mengancam.

Tak lama setelah peringatan tersebut, militer AS bergerak cepat untuk menunjukkan kekuatannya.

Komando Pusat AS (CENTCOM) mengumumkan bahwa mereka telah menenggelamkan 16 kapal penebar ranjau Iran yang beroperasi di dekat Selat Hormuz.

Menteri Pertahanan Pete Hegseth menyatakan bahwa CENTCOM telah melenyapkan kapal-kapal penebar ranjau yang tidak aktif di Selat Hormuz, menghapusnya dengan presisi tanpa ampun atas perintah langsung Trump.

Situasi di Selat Hormuz telah menyebabkan gejolak luar biasa di pasar energi global yang sulit diprediksi.

Harga minyak mentah Brent sempat melonjak hingga di atas 119 dolar per barel pada hari Senin, 9 Maret, level tertinggi sejak Juni 2022.

Setelah pernyataan Trump yang menyatakan perang hampir selesai dan munculnya laporan tentang penolakan pengawalan, harga kembali bergejolak tak menentu.

Kontrak berjangka Brent anjlok lebih dari 11 persen pada hari Selasa, penurunan persentase paling tajam sejak 2022.

Namun, pada Rabu pagi, 11 Maret, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) naik 2,90 dolar per barel atau 3,5 persen menjadi 86,33 dolar karena pasokan dari Teluk tetap terbatas.

Analis pasar dari IG di Sydney, Tony Sycamore, mengatakan bahwa harga minyak akan tetap sangat fluktuatif dalam waktu dekat.

Ia memperkirakan harga akan bergerak dalam kisaran lebar antara 75 hingga 105 dolar per barel dalam sesi mendatang.

Perang di Iran saat ini telah mengurangi pasokan minyak dan produk minyak dari Teluk ke pasar sekitar 15 juta barel per hari.

Menurut perusahaan riset dan konsultasi Wood Mackenzie, hal ini dapat menaikkan harga minyak mentah hingga 150 dolar per barel jika krisis berlanjut.

Para pemimpin Inggris, Jerman, dan Italia telah membahas situasi di Timur Tengah, termasuk Selat Hormuz, dalam beberapa pertemuan darurat.

Mereka sepakat tentang pentingnya kebebasan navigasi bagi kapal-kapal di perairan tersebut dan akan bekerja sama dalam beberapa hari mendatang dalam menghadapi ancaman Iran.

Sementara itu, militer AS mulai mempertimbangkan cara-cara potensial untuk mengawal kapal melalui Selat Hormuz, jika diperintahkan untuk melakukannya oleh presiden.

"Kami sedang mempertimbangkan berbagai opsi di sana," kata Jenderal Dan Caine kepada wartawan di Pentagon.

Berikut adalah tiga poin penting dari krisis pengawalan Selat Hormuz yang perlu diketahui:

1. Angkatan Laut AS menolak permintaan pengawalan dari industri pelayaran karena risiko serangan Iran dinilai terlalu tinggi, dengan sumber Reuters menyebutkan bahwa hampir setiap hari permintaan diajukan namun selalu ditolak.

2. Terjadi kontras dengan pernyataan resmi Gedung Putih, di mana Menteri Energi AS sempat mengklaim telah terjadi pengawalan namun unggahannya dihapus dan Juru Bicara Gedung Putih kemudian membantahnya, sementara Iran juga menegaskan akan menembaki setiap kapal yang mencoba melintas.

3. Dampak besar pada pasar energi global terlihat dari harga minyak yang bergejolak ekstrem, sempat menyentuh 119 dolar per barel, dengan sekitar 15 juta barel per hari pasokan dari Teluk terhenti dan analis memperingatkan harga bisa mencapai 150 dolar per barel jika krisis berlanjut.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.

Top Post Ad

Below Post Ad

ads bottom

Copyright © 2023 - Repelita.id | All Right Reserved