Breaking Posts

10/trending/recent

Hot Widget

Type Here to Get Search Results !

Tere Liye Kritik Program Koperasi Merah Putih: Hanya Proyek Seremonial dan Pemborosan Anggaran Tanpa Hasil Nyata

Repelita Jakarta - Penulis Tere Liye menyampaikan kritik pedas terhadap program Koperasi Merah Putih yang digaungkan Menteri Koperasi dan UKM Zulkifli Hasan dengan target tiga puluh ribu koperasi beroperasi per Maret dua ribu dua puluh enam.

Menurut Tere Liye target tersebut telah berulang kali diumumkan sejak tahun lalu namun hingga kini keberadaan koperasi-koperasi tersebut tidak terlihat secara nyata di lapangan.

Ia membandingkan bahwa jaringan Alfamart saja hanya memiliki sekitar dua puluh ribu gerai di seluruh Indonesia dan mudah ditemui di mana-mana sementara koperasi yang digembar-gemborkan justru tidak tampak keberadaannya.

Tere Liye mempertanyakan lokasi pembangunan koperasi-koperasi tersebut jika memang sedang dalam proses konstruksi serta nasib koperasi yang pernah diresmikan secara seremonial sebelumnya.

Ia menilai program ini cenderung menjadi penjual mimpi dan proyek yang hanya mengalirkan dana besar tanpa hasil berkelanjutan.

Tere Liye memperkirakan bahwa bahkan jika sepuluh tahun mendatang hanya lima persen dari delapan puluh ribu koperasi yang direncanakan dapat bertahan hidup maka hal itu sudah dapat dianggap sebagai keberhasilan.

Ia mengingatkan pengalaman Koperasi Unit Desa pada era Soeharto yang digadang-gadang namun hanya tersisa dua hingga tiga persen setelah menghabiskan dana subsidi sangat besar.

Menurut Tere Liye proyek mercusuar seperti ini berulang dengan pembangunan gedung-gedung Koperasi Merah Putih menggunakan anggaran puluhan triliun rupiah yang berpotensi dilupakan setelah selesai.

Ia menilai pembangunan gedung di halaman sekolah lapangan desa serta tanah-tanah milik warga hanya akan menjadi rumah hantu di masa depan tanpa manfaat nyata bagi masyarakat.

Tere Liye menegaskan bahwa keberhasilan koperasi memerlukan peningkatan kualitas sumber daya manusia di desa dan kampung agar masyarakat dapat berpikir mandiri meskipun tanpa modal besar.

Ia menyatakan kekhawatiran bahwa pihak berwenang justru takut jika rakyat Indonesia menjadi lebih pintar dan mampu mengelola sendiri tanpa bergantung pada proyek-proyek seremonial.

Tere Liye menutup kritiknya dengan pandangan bahwa program ini lebih mengutamakan aliran dana besar daripada keberhasilan berkelanjutan bagi masyarakat.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok.

Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.

Top Post Ad

Below Post Ad

ads bottom

Copyright © 2023 - Repelita.id | All Right Reserved