
Repelita Jakarta - Konten kreator Ferry Irwandy yang sebelumnya mendapat apresiasi luas atas kegiatan kemanusiaannya kini menghadapi gelombang kritik keras setelah mengundang anak seorang terpidana korupsi dalam episode podcast terbarunya.
Mantan Komisaris PT Pelni Dede Budiyarto menyoroti perubahan sikap publik yang sangat cepat terhadap Ferry Irwandy melalui pernyataan yang diunggah di platform X pada tanggal tujuh belas Februari dua ribu dua puluh enam.
Ia mengingatkan bahwa ketika Ferry turun langsung ke Aceh Tamiang untuk membantu korban banjir bandang respons masyarakat sangat positif dengan sebutan sebagai content creator paling peduli serta pahlawan kemanusiaan.
Ferry saat itu dipandang sebagai figur yang benar-benar memiliki kepedulian sosial sehingga memperoleh pujian meluas dari berbagai kalangan.
Situasi berubah drastis setelah Ferry menayangkan podcast berjudul Devil’s Advocate Bigmo yang diunggah di kanal YouTube pribadinya pada tanggal tiga belas Februari dua ribu dua puluh enam.
Dalam episode tersebut Ferry mengundang Muhammad Jannah yang akrab disapa Bigmo anak dari terpidana kasus korupsi untuk membahas berbagai hal termasuk kontroversi konten bersama Bintang Emon serta rencana politiknya pada tahun dua ribu dua puluh sembilan.
Kehadiran Bigmo dalam podcast memicu reaksi negatif dan hujatan tajam dari publik terutama karena latar belakang keluarga tamu tersebut.
Ferry dalam perbincangan menegaskan bahwa ia tidak mempermasalahkan status tersebut dengan menyatakan bahwa yang melakukan korupsi adalah ayahnya bukan tamunya sendiri.
Ia juga menambahkan bahwa pandangan moral setiap orang dapat berbeda sehingga jika ada yang menganggap tindakannya negatif maka hal itu harus diterima saja.
Dede Budiyarto menyatakan kekecewaannya atas inkonsistensi sikap warganet yang menurutnya mudah berubah hanya karena satu episode podcast dengan anak koruptor langsung mencaci Ferry secara habis-habisan.
Ia mengkritik bahwa sebagian warganet tidak memiliki standar yang tetap dan pola pikirnya cenderung tidak stabil sehingga mudah terombang-ambing oleh isu terkini.
Kendati demikian sebagian publik menilai sikap Ferry yang vokal mengkritik pemerintah melalui gerakan Malaka Project menjadi tidak konsisten setelah ia mengundang figur kontroversial tersebut sehingga menimbulkan kekecewaan di kalangan pendukungnya.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok.

