
Repelita Jakarta - Aksi demonstrasi yang diduga dilakukan oleh kelompok organisasi masyarakat terkait materi stand-up comedy Pandji Pragiwaksono menjadi viral di platform media sosial pada awal Januari 2026.
Rekaman unggahan dari akun Instagram @folkshitt menunjukkan puluhan orang berkumpul di depan gedung Kementerian Komunikasi dan Digital.
Para peserta aksi membawa spanduk yang menyatakan bahwa segmen balas budi dalam pertunjukan Mens Rea dianggap sebagai tuduhan tidak benar serta berpotensi menyesatkan opini publik.
Salah satu spanduk bertuliskan "Menyadarkan masyarakat tidak perlu merendahkan".
Spanduk lain menyatakan "Komedi bukan tameng kezaliman".
Namun, respons netizen terhadap aksi tersebut justru mayoritas mendukung Pandji Pragiwaksono sebagai pelopor komedi berdiri di Tanah Air.
Ribuan komentar di berbagai platform menunjukkan simpati terhadap komika tersebut sambil menyindir para pendemo.
"Berapa bayaran mereka nih?," tanya salah seorang netizen.
"Pandji membuka lapangan pekerjaan," ucap yang lain menyinggung dugaan massa bayaran.
"Sedih, Sakin miskinnya rakyat gampang banget disogok buat nyerang sesama rakyat. Asal bisa makan hari ini," sesalnya.
Pandji Pragiwaksono sendiri menegaskan pada Selasa, 6 Januari 2026, bahwa spesial show Mens Rea tidak ditujukan untuk menyerang pihak atau kelompok spesifik.
Ia menyatakan banyak penonton salah paham mengenai arah satire yang dibawakan.
Menurut Pandji, sasaran utama materi tersebut adalah masyarakat Indonesia secara keseluruhan.
Pertunjukan dirancang untuk meningkatkan kesadaran publik tentang tanggung jawab dalam sistem demokrasi.
Pandji menjelaskan bahwa dari pembuka hingga penutup, isi Mens Rea bertujuan membuat penonton lebih baik dalam berpartisipasi sebagai warga negara demokrasi.
Ia menyoroti bahwa kondisi politik saat ini bukan hanya tanggung jawab elite atau lembaga negara.
Pandji menekankan bahwa masyarakat juga ikut bertanggung jawab atas realitas yang ada.
Ia sering mendengar keluhan publik yang menyalahkan DPR atau pemerintah tanpa menyadari bahwa wakil rakyat merupakan refleksi dari rakyat itu sendiri.
Pandji mengajak introspeksi bahwa jika tidak ingin pemimpin dengan karakter tertentu, maka perbaikan harus dimulai dari diri sendiri.
Ia yakin perubahan positif akan terjadi jika masyarakat mau berbenah secara kolektif.
Pandji juga menyatakan bahwa Mens Rea dibuat accessible bagi semua kalangan, termasuk yang awam politik.
Menurutnya, penonton yang semula tidak memahami isu politik akan keluar dengan pemahaman lebih baik meski belum tentu setuju sepenuhnya.
Polemik ini mencerminkan perdebatan lebih luas mengenai batas kebebasan berekspresi melalui seni komedi dalam konteks sosial-politik Indonesia.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok.

