
Repelita Davos - Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali memicu ketegangan dengan negara-negara sekutu NATO.
Dalam sebuah wawancara dengan Fox News di Davos, Swiss, Trump meragukan komitmen negara sekutu dalam membela AS.
“Saya selalu bertanya, ‘Apakah mereka akan ada di sana jika kita membutuhkan mereka?’ Dan saya tidak yakin akan hal itu,” kata Trump.
Pernyataan itu dikutip dari CNN pada hari Sabtu tanggal 24 Januari 2026 dan langsung memantik reaksi.
Dia juga mengklaim bahwa pasukan NATO berada agak jauh dari garis depan selama perang di Afghanistan.
“Mereka memang mengirim pasukan ke Afghanistan, tetapi mereka tetap berada sedikit di belakang, agak jauh dari garis depan,” ujarnya.
Pernyataan tersebut dinilai meremehkan pengorbanan yang telah diberikan oleh negara-negara sekutu.
Padahal setelah serangan teroris 11 September 2001, Amerika Serikat mengaktifkan Pasal 5 NATO.
Pasal tersebut menyatakan bahwa serangan terhadap satu anggota dianggap sebagai serangan terhadap seluruh aliansi.
Negara-negara NATO kemudian bertempur bersama AS di Afghanistan selama hampir dua puluh tahun.
Trump juga menyatakan bahwa Amerika Serikat tidak pernah benar-benar membutuhkan dukungan NATO.
Dia menilai kontribusi para sekutu sangat terbatas dalam berbagai operasi militer bersama.
Komentar ini muncul di tengah hubungan AS dan Eropa yang telah memanas dalam beberapa waktu.
Ketegangan juga dipicu oleh ancaman Trump untuk mengambil alih Greenland beberapa waktu lalu.
Greenland merupakan wilayah semi-otonom Denmark yang juga merupakan anggota NATO.
Fakta di lapangan menunjukkan pengorbanan sekutu NATO tidaklah kecil selama perang Afghanistan.
Sekitar tiga ribu lima ratus tentara sekutu tewas dalam konflik yang berlangsung lama tersebut.
Termasuk di dalamnya adalah dua ribu empat ratus lima puluh enam tentara Amerika Serikat.
Serta empat ratus lima puluh tujuh tentara Inggris yang gugur dalam berbagai operasi militer.
Negara kecil seperti Denmark dengan populasi lima juta jiwa kehilangan lebih dari empat puluh prajurit.
Banyak pasukan Inggris dan Denmark ditempatkan di Provinsi Helmand yang sangat berbahaya.
Wilayah tersebut dikenal sebagai basis kuat kelompok Taliban selama konflik berlangsung.
Perdana Menteri Inggris Keir Starmer mengecam keras pernyataan Trump yang dinilai menghina.
“Saya tidak heran jika komentar itu melukai perasaan keluarga mereka yang tewas atau terluka. Jika saya mengucapkan kata-kata seperti itu, saya pasti akan meminta maaf,” kata Starmer.
Namun Gedung Putih menepis berbagai kritik yang dilontarkan oleh para pemimpin sekutu.
Juru bicara Gedung Putih Taylor Rogers menegaskan bahwa Trump tidak keliru dalam pernyataannya.
“Presiden Trump sepenuhnya benar. Amerika Serikat telah berbuat lebih banyak untuk NATO dibandingkan seluruh negara anggota lainnya jika digabungkan,” ujarnya.
Ketegangan antara Amerika Serikat dan sekutu NATO diprediksi akan terus berlanjut ke depan.
Dinamika hubungan transatlantik ini akan mempengaruhi stabilitas keamanan global.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok

