Repelita - Seorang aktivis menyampaikan kritiknya terhadap dua jenis golongan yang ia sebut dengan istilah metafora tertentu melalui platform media sosial.
Muhammad Said Didu membagikan pandangannya tersebut melalui akun X miliknya pribadi pada hari Senin tanggal 12 Januari 2025.
Dalam unggahannya, ia menjelaskan dan membenarkan ciri-ciri yang melekat pada apa yang dinamakannya sebagai cendekiawan kanebo dan aktivis kecoa buntung.
Terdapat tiga ciri utama yang disebutkannya untuk menggambarkan golongan pertama, yaitu cendekiawan kanebo.
Ciri pertama adalah peran mereka yang cenderung menjadi penampung sekaligus pembersih berbagai kotoran atau masalah yang berasal dari kalangan penguasa.
Selain itu, Said Didu menyebut bahwa tipe cendekiawan seperti ini biasanya akan bersuara sangat keras dan kritis saat kondisi keuangannya sedang kering atau mengalami kesulitan.
Namun, suara lantang dan kritis tersebut akan segera berhenti atau menjadi lembek setelah mereka diberikan sejumlah uang atau imbalan materi tertentu.
“Cendekiawan KANEBO, menjadi penampung dan pembersihan kotoran penguasa, keras saat lagi kering, lembek saat ada (yang) bikin basah, ” tulis Said Didu.
Untuk golongan kedua yang ia sebut sebagai aktivis kecoa buntung, mantan Sekretaris Kementerian Badan Usaha Milik Negara ini merinci empat ciri yang menonjol.
Ciri pertama adalah kebiasaan hidup dan mencari makan atau penghidupan di tempat-tempat yang kotor secara moral maupun politis.
Ciri kedua adalah mereka tidak pernah berusaha atau memiliki inisiatif untuk membersihkan tempat kotor tersebut, bahkan cenderung betah dan menikmatinya.
Ciri ketiga adalah sikap mereka yang mudah menyerah dan pasrah ketika menghadapi tekanan atau "disiram" dengan berbagai tantangan, dengan sikap seperti membalikkan badan dan telentang.
Ciri keempat adalah perilaku mereka yang cenderung melepaskan tanggung jawab atau kaki ketika terdesak, lalu berubah menjadi seperti kecoa buntung dan memohon untuk dikasihani.
“Hidup dan cari makan di tempat kotor. 2) tidak pernah membersihkan tempat kotor tersebut. 3) menyerah saat ‘disiram’ air dengan menjadi telentang 4) saat disiram akan melepaskan kaki jadi kecoa buntung dan minta dikasihani,” tandasnya.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok

