Breaking Posts

10/trending/recent

Hot Widget

Type Here to Get Search Results !

Pernyataan Trump soal Militer AS Tak Terkalahkan Mirip Kesombongan Kaum 'Aad di Al-Quran

 

Repelita Jakarta - Ustaz Megat Aiman Hakim bin Megat Shariffudin membandingkan pernyataan mantan Presiden Amerika Serikat Donald Trump tentang superioritas militer negaranya dengan sikap sombong kaum 'Aad dalam Al-Quran.

Trump menyatakan bahwa Amerika Serikat memiliki angkatan bersenjata paling kuat, mematikan, canggih, serta ditakuti di dunia tanpa tandingan.

Ungkapan tersebut dianggap mirip dengan perkataan kaum 'Aad: “Siapakah yang lebih besar kekuatannya dari kami?” sebagaimana tercantum dalam Surah Fussilat ayat 15.

Menurut Ustaz Megat, pola kesombongan ini bukan kebetulan semata, melainkan pengulangan tema dalam catatan sejarah manusia.

Ketika suatu kekuatan sedang berada di puncak setelah meraih kemenangan baru, sering kali lupa akan pelajaran kegagalan masa lalu serta realitas yang lebih besar.

Amerika Serikat telah mengerahkan segala sumber daya selama hampir dua tahun untuk mendukung operasi Israel, namun tidak berhasil memulangkan sandera dengan mudah atau menangkap target utama.

Pasukan Amerika sendiri pernah beroperasi di wilayah Gaza seperti Bait Hanun dan Khan Younis, tetapi tetap tidak mencapai sasaran yang diharapkan.

Kekuatan teknologi serta persenjataan ternyata tidak menjamin keberhasilan ketika berhadapan dengan perjuangan yang berlandaskan keyakinan dan ketabahan.

Pemimpin Hamas seperti Yahya Sinwar, Ismail Haniyeh, serta Muhammad Deif gugur di medan tempur, bukan karena menghindar, berbeda dengan sikap pemimpin lawan yang mencari perlindungan di bunker saat ancaman muncul.

Lebih mencengangkan lagi, meski banyak komandan senior syahid, Hamas tetap eksis dan mampu mengelola aspek keamanan, sosial, serta ketahanan masyarakat di Gaza.

Hal ini membuktikan bahwa gerakan berbasis ideologi dan iman tidak runtuh hanya karena hilangnya figur individu.

Ustaz Megat menilai bahwa Trump serta pendukungnya tampak mengabaikan hukum sejarah bahwa tidak ada dominasi yang abadi.

Kerajaan Inggris yang pernah menguasai sebagian besar dunia kini mengalami pergeseran demografi serta pengaruh signifikan dari bekas wilayah jajahannya di berbagai sektor penting.

Kekaisaran itu merosot bukan karena kekurangan militer, melainkan akibat arogansi, ketidakadilan, serta konflik internal.

Contoh serupa terlihat pada Firaun yang di puncak kejayaan mengklaim kepemilikan atas Mesir, namun akhirnya tenggelam bersama pasukannya di laut.

Kaum 'Aad dengan postur fisik luar biasa merasa tak tertandingi, tetapi dihancurkan oleh angin kencang hingga lenyap seolah tidak pernah ada.

Kaum Tsamud yang mahir memahat gunung serta membangun kota maju binasa hanya oleh satu suara dahsyat karena kecongkakan mereka.

Kekaisaran Romawi, baik bagian barat maupun timur, yang pernah menjadi lambang peradaban dan kekuatan militer juga runtuh akibat kezaliman, perebutan tahta, serta kemunduran akhlak dari dalam.

Semua imperium besar menderita penyakit serupa ketika mengandalkan kekuatan semata, mengesampingkan keadilan, serta melupakan Sang Pencipta.

Al-Quran menyampaikan kisah-kisah tersebut bukan sebagai cerita masa lalu belaka, melainkan peringatan bagi generasi yang merasa diri tak terkalahkan.

Kekuatan tanpa landasan benar hanya melahirkan penindasan.

Kemegahan tanpa rasa syukur menghasilkan keangkuhan.

Kekuasaan tanpa prinsip keadilan mengundang keruntuhan.

Sejarah secara konsisten membuktikan bahwa yang abadi bukanlah hegemoni, melainkan prinsip kebenaran.

Yang akhirnya menang bukan yang paling bersenjata, tetapi yang paling sabar serta teguh dalam keyakinan.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok.


Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.

Top Post Ad

Below Post Ad

ads bottom

Copyright © 2023 - Repelita.id | All Right Reserved