Breaking Posts

10/trending/recent

Hot Widget

Type Here to Get Search Results !

Militer Venezuela Lemah: Terlalu Sibuk Kerja Sipil, Profesionalitas Tempur Terabaikan

Repelita Caracas - Angkatan bersenjata Venezuela dikenal memiliki koleksi persenjataan modern yang termasuk salah satu yang paling maju di Amerika Latin, dengan sistem pertahanan udara Rusia seperti S-300VM, Buk-M2E, serta jet tempur dan radar canggih.

Secara spesifikasi, arsenal tersebut tampak mampu menangkal ancaman eksternal dengan efektif.

Namun pengamat militer Erizeli Bandaro menyoroti bahwa kelemahan utama militer Venezuela bukan terletak pada kurangnya senjata, melainkan pada minimnya profesionalitas personel.

Keterlibatan angkatan bersenjata dalam berbagai tugas sipil telah mengalihkan fokus dari pengembangan kemampuan tempur inti.

Militer sering dimanfaatkan untuk proyek infrastruktur, distribusi bantuan sosial, serta aktivitas ekonomi yang seharusnya menjadi domain sektor sipil.

Akibatnya, waktu dan sumber daya yang seharusnya dialokasikan untuk latihan tempur, simulasi perang, serta pemeliharaan kesiapan operasional menjadi terpecah.

Personel militer lebih banyak menghabiskan energi pada pekerjaan non-militer, sehingga kemahiran teknis dalam mengoperasikan sistem kompleks seperti radar terintegrasi atau peluncur rudal menjadi menurun.

Pernyataan Menteri Pertahanan Amerika Serikat Pete Hegseth baru-baru ini semakin mempertegas kondisi tersebut.

Hegseth menilai sistem pertahanan udara Venezuela tidak akan berfungsi optimal saat menghadapi operasi militer tingkat tinggi karena kurangnya pelatihan personel.

Bukan teknologi Rusia yang bermasalah, melainkan operator Venezuela yang tidak memiliki jam latihan cukup untuk menguasai peralatan elektronik modern.

Di era perang kontemporer, profesionalisme manusia menjadi faktor penentu utama dibandingkan kecanggihan alat semata.

Krisis ekonomi berkepanjangan dan sanksi internasional turut memperburuk situasi dengan membatasi anggaran latihan serta pemeliharaan rutin.

Militer yang terbiasa menjalankan tugas sipil cenderung kehilangan etos tempur serta disiplin institusional yang diperlukan untuk menghadapi ancaman nyata.

Erizeli Bandaro membandingkan dengan militer Pakistan yang meski memiliki sumber daya terbatas, tetap mempertahankan profesionalisme tinggi melalui fokus pada pelatihan inti dan doktrin tempur.

Pakistan menghindari penyebaran personel ke sektor sipil sehingga mampu membangun kesiapan menghadapi konflik aktual.

Sebaliknya, Venezuela menggunakan militer sebagai alat politik dan distribusi patronase, yang pada akhirnya mengorbankan fokus pada profesionalitas.

Keterlibatan dalam kerja sipil membuat militer kehilangan identitas sebagai institusi tempur profesional yang netral dan terlatih.

Hasilnya, arsenal modern yang mahal hanya menjadi simbol kedaulatan tanpa didukung kemampuan operasional riil.

Pelajaran dari Venezuela menunjukkan bahwa modernisasi senjata tanpa prioritas pada profesionalisme serta pemisahan tugas militer dari sipil hanya menghasilkan kekuatan semu.

Negara adidaya lebih mewaspadai militer yang terfokus dan terlatih daripada tumpukan peralatan canggih yang dioperasikan personel tanpa disiplin tempur.

Kelemahan struktural ini menjadi faktor utama yang membuat militer Venezuela dinilai lemah meski memiliki katalog persenjataan mengesankan.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok.


Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.

Top Post Ad

Below Post Ad

ads bottom

Copyright © 2023 - Repelita.id | All Right Reserved