Breaking Posts

10/trending/recent

Hot Widget

Type Here to Get Search Results !

Peneliti ISEAS Analisis PSI: Dari Partai Progresif Berubah Jadi Kendaraan Dinasti

 

Repelita Jakarta - Peneliti dari ISEAS Yosuf-Ishak Institute Made Supriatma memberikan analisis mendalam mengenai prospek dan perkembangan Partai Solidaritas Indonesia. Ulasan ini disampaikannya melalui akun media sosial pribadi pada hari Sabtu tanggal 10 Januari 2026, menanggapi pernyataan Ketua Umum PSI Kaesang Pangarep tentang target menguasai Jawa Tengah.

Made Supriatma membuka ulasannya dengan sebuah anekdot mengenai seekor gajah untuk menggambarkan kondisi partai tersebut. Dia mengungkapkan bahwa sejak awal telah memiliki firasat tertentu mengenai masa depan politik PSI di tengah kompleksitas sistem politik Indonesia.

"Entah kenapa. Dari sejak awal, saya sudah berfirasat bahwa partai ini, PSI, tidak punya prospek dalam politik Indonesia. Ia salah desain. Salah kedaden," sambung Made dalam tulisannya.

Pada fase awal berdirinya partai ini, Made menganggapnya sebagai sebuah eksperimen politik yang cukup berani. Dia menghargai keberanian pendiri partai yang mencoba sesuatu yang berbeda dengan menempatkan seorang perempuan dari golongan minoritas sebagai ketua umum.

Target pasar yang dituju pada masa awal adalah generasi muda atau Gen Z yang diharapkan dapat memberikan warna baru dalam politik praktis. Pengamatan Made selama pemilu 2019 di Sumatera memberikan kesan tentang kader-kader muda partai ini yang antusias namun minim pengalaman politik.

Dia menceritakan pengalamannya bertemu dengan seorang kader lokal yang maju sebagai calon legislatif dengan kampanye yang sangat simpatik. Kader tersebut melakukan aktivitas sosial seperti menambal panci dan memperbaiki sepatu secara gratis sebagai bagian dari pendekatan kampanyenya.

Meskipun terharu dengan dedikasi kader tersebut, Made secara realistis meramalkan bahwa pendekatan seperti itu tidak akan berhasil dalam sistem politik Indonesia. Ramalannya terbukti ketika kader tersebut hanya memperoleh ratusan suara dan akhirnya memutuskan keluar dari partai.

"Politik itu kejam. Darwinisme sangat ketat diterapkan disana. Survival the fhe fittest. Siapa kuat, dia menang. Ini lebih-lebih berlaku di Republik ini. Jadi kaya saja tidak cukup. Anda harus jadi bagian dari oligarki -- kaya dan punya kekuasaan. Itu dua hal yang tak terpisahkan. Kekuasaan menciptakan kekayaan dan kekayaan untuk membeli kekuasaan," tulis Made.

Setelah mengalami kekalahan dalam beberapa kontestasi, partai ini dinilai kehilangan arah dan mulai mencari penyelamat dengan mendekati oligarki tertentu. Made menyoroti masuknya pengaruh keluarga tertentu yang kemudian melakukan takeover terhadap kendali partai.

Perubahan mendasar terjadi dalam ideologi dan platform partai yang semula progresif berubah menjadi fokus pada satu figure tertentu. Made menyebut transformasi ini sebagai pergeseran menjadi partai dinasti yang dikendalikan oleh satu keluarga yang sangat berpengaruh.

"Dulu, agenda-agendanya sangat progresif. Bahkan beberapa kolega saya pun sempat terkesima. Muda, berani, progresif. Kini ideologinya berubah menjadi satu saja: Jokowisme. Apapun artinya itu. Seperti gajah patah, ia tidak nyambung," paparnya.

Dalam diskusi sebelum pemilu 2019, Made telah memprediksi bahwa partai ini akan kesulitan mencapai ambang batas parlemen. Dia memberikan tiga alasan utama yaitu basis pasar yang terbatas, kurangnya organisasi yang solid, dan popularitas yang hanya terkonsentrasi di kalangan menengah perkotaan tertentu.

"Captive marketnya sangat terbatas, kata saya. Ia tidak punya organisasi yang solid. Bahkan organisasi seperti Ansor itu lebih terorganisir dari partai ini. Kedua, dia hanya populer di kalangan sedikit urban middle class. Lebih kecil lagi, dari kalangan minoritas. Dan, godam terakhir saya keluarkan, dapat 1 persen suara saja sudah untung. Sayangnya ramalan saya itu mendekati kebenaran," ungkap Made.

Peningkatan performa pada pemilu 2024 dinilai bukan berasal dari perbaikan organisasi internal melainkan karena dukungan dana dan pengaruh dari keluarga oligarki yang telah mengambil alih kendali. Faktor kampanye visual yang masif dengan gambar figur tertentu juga disebut berkontribusi pada peningkatan tersebut.

Mengenai target menguasai Jawa Tengah pada 2029, Made menyatakan tidak berhak membuat prognosis tertentu. Dia mengakhiri analisisnya dengan kembali pada anekdot pembuka mengenai gajah yang secara implisit menggambarkan kondisi partai yang dianggapnya tidak memiliki fondasi yang kuat dan jelas.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.

Top Post Ad

Below Post Ad

ads bottom

Copyright © 2023 - Repelita.id | All Right Reserved