Breaking Posts

10/trending/recent

Hot Widget

Type Here to Get Search Results !

Pangeran Harry dan Inggris Kecam Pernyataan Trump yang Dinilai Remehkan Pengorbanan NATO di Afghanistan

 

Repelita London - Pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengenai peran pasukan NATO dalam perang Afghanistan memicu reaksi keras di Inggris.

Komentar tersebut dinilai meremehkan pengorbanan para tentara dan veteran yang bertugas dalam konflik panjang di Asia Selatan tersebut.

Pangeran Harry secara terbuka mengecam pernyataan yang dianggap tidak menghargai jasa dan pengorbanan para prajurit sekutu.

Dua kali bertugas di Afghanistan Pangeran Harry menegaskan bahwa pengorbanan prajurit pantas dibicarakan secara jujur dan penuh hormat.

Dia mengingatkan bahwa pada tahun dua ribu satu NATO untuk pertama kalinya mengaktifkan Pasal lima tentang pertahanan kolektif.

Aktivasi tersebut mewajibkan seluruh negara anggota berdiri bersama Amerika Serikat setelah serangan teroris sebelas September.

"Sekutu menjawab panggilan itu," ujar Pangeran Harry seperti dikutip dari siaran British Broadcasting Corporation pada hari Sabtu tanggal dua puluh empat Januari.

Dia juga menyebutkan pengalaman pribadinya selama bertugas di medan perang yang penuh dengan risiko dan tantangan.

"Saya bertugas di sana saya menjalin persahabatan seumur hidup di sana dan saya kehilangan teman teman di sana," katanya dengan nada haru.

Dia menegaskan bahwa Inggris kehilangan empat ratus lima puluh tujuh personel militernya dalam konflik di Afghanistan.

Ribuan nyawa lainnya mengalami perubahan selamanya akibat dampak fisik maupun psikologis dari pengalaman di medan pertempuran.

"Pengorbanan pengorbanan itu layak dibicarakan dengan jujur dan penuh hormat," tambah Pangeran Harry dengan penuh penekanan.

Sebelumnya Donald Trump dalam wawancara dengan jaringan televisi Fox News menyampaikan pandangannya tentang peran NATO.

Dia mengklaim bahwa pasukan NATO tetap berada agak jauh dari garis depan selama perang di Afghanistan berlangsung.

Presiden Amerika Serikat juga mengulangi pandangannya bahwa NATO tidak akan membantu Amerika Serikat jika diminta suatu saat nanti.

"Kami tidak pernah membutuhkan mereka," kata Donald Trump dalam wawancara yang dilakukan pada hari Kamis malam.

Menilik sejarah Inggris bersama negara negara sekutu lainnya terlibat dalam perang Afghanistan setelah serangan teroris.

Amerika Serikat mengaktifkan Pasal lima NATO menyusul peristiwa serangan terhadap menara kembar World Trade Center.

Hingga kini Amerika Serikat menjadi satu satunya negara yang pernah menggunakan ketentuan pertahanan kolektif tersebut.

Dalam konflik ini Inggris mencatat jumlah korban militer terbanyak kedua setelah Amerika Serikat sendiri.

Menteri Angkatan Bersenjata Inggris Al Carns yang lima kali bertugas di Afghanistan memberikan tanggapan tegas.

Dia menyatakan bahwa pasukan Inggris menumpahkan darah keringat dan air mata bersama tentara Amerika di garis depan.

Sejumlah tokoh politik lintas partai di Inggris juga menyatakan penolakan terhadap pernyataan Presiden Amerika Serikat.

Ketua Komite Urusan Luar Negeri Parlemen Emily Thornberry menyebut komentar tersebut sebagai lebih dari sekadar kesalahan.

Dia menilai pernyataan itu merupakan penghinaan bagi keluarga tentara yang gugur dalam menjalankan tugas.

Pemimpin Partai Konservatif Kemi Badenoch menegaskan bahwa pernyataan Trump tentang sekutu NATO tidak berdasar.

"Pernyataan Trump bahwa sekutu NATO tidak berada di garis depan adalah omong kosong," tegasnya dengan nada keras.

Reaksi dari berbagai pihak di Inggris menunjukkan betapa sensitifnya isu mengenai pengorbanan militer dalam hubungan internasional.

Pernyataan politisi asing yang dianggap meremehkan pengorbanan sekutu dapat merusak hubungan diplomatik yang telah dibangun.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok


Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.

Top Post Ad

Below Post Ad

ads bottom

Copyright © 2023 - Repelita.id | All Right Reserved