Repelita Jakarta - Penulis Tere Liye menyampaikan pandangan kritis terhadap program Makan Bergizi Gratis atau MBG yang dianggapnya lebih berorientasi bisnis ketimbang kebutuhan sosial murni.
Menurutnya program tersebut bersifat bisnis sehingga harus beroperasi tanpa henti sepanjang tahun tanpa pengecualian libur apapun.
Ia membandingkan bahwa bisnis pada umumnya tidak pernah tutup selama bulan Ramadhan maupun hari libur lainnya seperti halnya kantor pabrik atau toko yang tetap berjalan normal.
Tere Liye menyoroti bahwa bahkan pada masa libur sekolah pun pembagian makanan dalam program MBG tetap dilaksanakan karena arus operasional harus terus berlangsung tanpa terkait langsung dengan kebutuhan gizi peserta.
Ia menekankan bahwa jika arus program dihentikan maka akan menimbulkan kerumitan besar terutama bagi pihak pengelola atau pemilik dapur sentral.
Karyawan level bawah disebutnya tidak akan terlalu terganggu karena tetap mendapat upah dan bahkan senang jika diberi libur tambahan.
Namun yang paling repot justru pemilik atau pengelola dapur yang wajib menjaga arus pengiriman makanan tetap deras meskipun peserta murid absen atau makanan tidak termakan.
Pandangan ini disampaikan Tere Liye melalui unggahan di akun media sosialnya yang menekankan sifat komersial program tersebut.
Ia menyindir bahwa pengiriman makanan terus dilakukan secara masif tanpa mempedulikan apakah murid hadir atau makanan dimakan sehingga menyerupai pesta pora yang tidak terkendali.
Tere Liye juga menyinggung angka besar yang disebut-sebut dalam program ini dengan nada skeptis bahwa satu triliun rupiah per hari untuk memasak makanan tersebut apakah bisa begitu saja dilewati atau di-skip.
Unggahan Tere Liye tersebut mencerminkan kritik publik terhadap efisiensi dan motif di balik pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis yang sedang menjadi perbincangan hangat di masyarakat.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok

