Repelita Jakarta - Anggota Komisi I DPR RI dari Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa, Oleh Soleh, memberikan tanggapan atas informasi yang menyebut pesawat CN-235 produksi Indonesia turut dipakai Amerika Serikat dalam misi penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro baru-baru ini.
Presiden Donald Trump memerintahkan pengerahan sekitar 150 unit pesawat militer untuk operasi tersebut yang berlangsung pada Sabtu (3/1/2026).
Menurut Oleh Soleh, kejadian ini seharusnya dijadikan kesempatan penting bagi pemerintah Indonesia untuk mengevaluasi ulang strategi kebijakan pertahanan negara.
Khususnya dalam hal mempercepat pengembangan serta optimalisasi penggunaan sistem persenjataan buatan dalam negeri.
“Apapun latar belakang geopolitik di balik pemakaian pesawat itu oleh pihak asing, fakta ini membuktikan bahwa alutsista karya bangsa Indonesia memiliki standar mutu serta kompetitif di tingkat internasional,” katanya dalam pernyataan resmi pada Rabu (7/1/2026).
Namun, ia menyayangkan bahwa penerapan produk tersebut di dalam negeri masih belum optimal.
Di tengah situasi geopolitik dunia yang semakin tidak stabil dan berpotensi memicu konflik bersenjata, Indonesia tidak boleh terus-menerus mengandalkan impor alutsista dari luar.
Kemandirian di sektor pertahanan perlu dibangun dengan sungguh-sungguh, terencana, serta berkesinambungan.
“Kedaulatan bangsa tidak hanya bergantung pada kekuatan diplomasi semata, melainkan juga pada kapabilitas kita dalam memproduksi dan menguasai alutsista secara mandiri. Ini telah menjadi prioritas strategis, bukan lagi opsi biasa,” ujarnya tegas.
Ia menambahkan bahwa penguatan basis industri pertahanan dalam negeri selaras dengan visi Asta Cita pada sektor pertahanan, yang menjadikan kemandirian serta kedaulatan sebagai pondasi utama pembangunan nasional.
Oleh Soleh mendesak pemerintah untuk memberikan prioritas alokasi anggaran, dukungan kebijakan, dan komitmen pemesanan alutsista kepada perusahaan nasional seperti PT Dirgantara Indonesia.
Sehingga terbentuk ekosistem pertahanan yang benar-benar berlandaskan produksi lokal.
“Jika karya kita diakui dan diandalkan oleh negara adidaya dalam misi kritis, maka tidak ada alasan bagi kita sendiri untuk meragukan kemampuannya. Sudah waktunya alutsista produksi dalam negeri menjadi pilar utama kekuatan pertahanan negara,” tutupnya.
Sebagaimana dilaporkan media internasional, operasi penangkapan Nicolas Maduro oleh pasukan Amerika Serikat melibatkan setidaknya 150 pesawat tempur dengan salah satu jenisnya adalah CN-235.
Angkatan bersenjata AS diketahui memiliki sekitar 32 unit CN-235 dalam berbagai konfigurasi.
Pesawat CN-235 merupakan produk unggulan dari PT Dirgantara Indonesia yang awalnya dikembangkan bersama CASA Spanyol sejak era 1980-an.
Setelah Airbus mengakuisisi CASA pada akhir 1990-an dan menghentikan lini produksinya, PT Dirgantara Indonesia tetap melanjutkan pembuatan CN-235 sebagai produsen tunggal untuk memenuhi permintaan domestik maupun ekspor.
Editor: 91224 R-ID Elok

