Repelita [Singapura] - Made Supriatma, seorang peneliti dari ISEAS Yusof Ishak Institute, memberikan tanggapan kritis atas pernyataan Ketua Harian Partai Solidaritas Indonesia, Ahmad Ali, terkait kelayakan Gibran Rakabuming Raka sebagai calon Wakil Presiden.
Dalam pernyataannya yang dikutip pada Rabu, 14 Januari 2026, Made menyoroti kecenderungan kalangan elite politik yang mengesampingkan integritas dan nurani demi meraih atau mempertahankan kekuasaan.
Dia mengibaratkan bahwa dunia politik menghadirkan jenis profesi tertentu dengan karakteristik yang sangat unik dan penuh paradoks.
“Ada banyak pekerjaan di dunia ini yang tidak perlu mempermalukan diri sendiri serendah ini.
Tapi bayarannya mungkin sedikit,” ujar Made Supriatma.
Namun, dia melanjutkan dengan menggambarkan adanya bidang lain yang menawarkan kompensasi material sangat tinggi namun mensyaratkan pengorbanan moral yang tidak sedikit.
“Tapi ada pekerjaan yang bayarannya tinggi sekali.
Modalnya cukup cuman nggak tau malu.
Bisa bohong sehebat-hebatnya,” sebutnya.
Made kemudian menjelaskan bahwa untuk mendapatkan keuntungan dalam bidang tersebut, seseorang harus memiliki kemampuan untuk mendistorsi kebenaran secara ekstrem.
“Mematikan nurani sehabis-habisnya sehingga bisa bilang matahari adalah bulan,” ucapnya.
Dia memperjelas kritiknya dengan menggunakan beberapa metafora yang tajam mengenai praktik manipulasi dalam dunia politik kekuasaan.
“Kuda lumpuh bisa dijual sebagai kuda balap yang menang di setiap pertandingan.
Bebek dikatakan elang yang terbang agung,” Made menuturkan.
Menurut analisisnya, kemampuan untuk membentuk atau memutar balikkan persepsi publik merupakan suatu keahlian yang memiliki nilai ekonomi dan politik sangat tinggi.
“Kemampuan seperti itu mahal sekali harganya.
Untuk dirinya sendiri tapi terlebih untuk orang lain,” tandasnya.
Made Supriatma menekankan bahwa keuntungan yang diraih oleh para elite tersebut justru berbanding terbalik dengan kerugian yang diderita oleh masyarakat luas.
“Untuk dirinya keuntungan, untuk orang lain kerugian luar biasa,” tegasnya.
Dia menyimpulkan bahwa kondisi tersebut menggambarkan realitas dunia politik elite yang tengah berkuasa di Indonesia saat ini.
“Inilah isi dunia elit Indonesia yang berkuasa atas ratusan juta rakyat yang jinak,” kuncinya.
Pernyataan Made ini merupakan respons atas pendapat Ahmad Ali yang sebelumnya menyatakan tidak ada sosok yang lebih baik dari Gibran Rakabuming Raka untuk mendampingi calon presiden pada Pilpres 2029.
Ahmad Ali menilai Gibran merupakan representasi dari kaum muda yang cerdas dan memiliki pengalaman nyata dalam kepemimpinan pemerintahan.
“Emang masih ada Calon Wapres yang lebih baik dari pada Gibran?
Mewakili anak muda, incumbent, pintar,” terangnya.
Dia juga menyoroti rekam jejak Gibran yang telah menjabat sebagai Wali Kota Solo dan kini sebagai Wakil Presiden sebagai modal berharga.
“Pengalaman pasti (karena) pernah jadi wali kota, pernah jadi wapres,” imbuhnya.
Lebih lanjut, Ahmad Ali menegaskan bahwa status incumbent yang melekat pada Gibran merupakan keunggulan yang sulit ditandingi oleh calon-calon potensial lainnya.
“Emang calon-calon lain pernah jadi wapres?,” tandasnya.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok

