
Repelita [Jakarta] - Direktur Eksekutif Jaringan Moderat Indonesia, Islah Bahrawi, membagikan pengalaman pribadinya terkait upaya mengakses tambahan kuota haji melalui mantan Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas.
Pengalaman tersebut disampaikannya dalam tayangan podcast Akbar Faizal Uncensored yang ditayangkan perdana pada Rabu, 14 Januari 2026.
Islah mengungkapkan bahwa terdapat dua anggota keluarganya yang telah lama mendaftar untuk menunaikan ibadah haji namun belum juga mendapat kesempatan.
Salah satunya adalah kakak kandungnya sendiri dan yang lainnya adalah seorang paman yang telah mendaftar sejak tahun 2014.
“Di keluarga besar saya itu ada dua anggota keluarga besar saya yang belum naik haji.
Satu kakak kandung saya.
Yang kedua adalah paman saya.
Nah dia sudah mendaftar dari tahun 2014.
Nggak kunjung-berangkat.
Daftar tunggunya lama sekali,” urainya.
Dia menjelaskan bahwa pada suatu kesempatan, muncul pemikiran untuk memanfaatkan kedekatan pribadinya dengan Yaqut Cholil Qoumas yang saat itu telah menjabat sebagai Menteri Agama.
Harapannya adalah agar saudara-saudaranya tersebut dapat memperoleh akses lebih cepat melalui tambahan kuota haji yang diperoleh pemerintah.
“Nah mumpung saya punya teman, Menteri Agama, dan saya mendengar ada kabar bahwa (Presiden) Jokowi mendapatkan tambahan (kuota) dari Muhammad Bin Salman 20 ribu.
Sehingga saya buru-buru datang ke kantor Kementerian Agama waktu itu,” ujarnya.
Namun, respons yang diterimanya saat bertemu langsung dengan Yaqut di kantor kementerian justru tidak sesuai dengan harapannya.
Islah mengaku sempat tidak percaya dengan perlakuan yang dialaminya dalam pertemuan tersebut.
“Kemudian datang ke Gus Yaqut, ini mumpung ada tambahan 20 ribu kuota ini ya bisa nggak sih paman dan kakak saya ini diselipkanlah sedikit.
Dan jawabannya ternyata memang tidak mengenakan buat saya,” jelasnya.
Dia kemudian memperjelas ceritanya bahwa setelah beberapa kali melakukan pendekatan, permintaannya tetap tidak dapat dipenuhi.
Yaqut menegaskan bahwa sistem antrian haji harus berjalan sesuai dengan mekanisme yang telah ditetapkan tanpa intervensi.
“Karena Gus Yaqut ketika itu bilang, 'Cak ini sistem meskipun kamu itu teman saya, saya nggak bisa intervensi ke dalam sistem haji itu, sehingga kalau ruang tunggu kakakmu itu sekian tahun ya sudah harus mengikuti sistem itu,” ungkapnya.
Islah mengakui bahwa dirinya sempat merasa kecewa dengan respons yang diberikan oleh temannya tersebut.
Namun di sisi lain, dia juga memahami bahwa banyak masyarakat lain yang mengalami situasi serupa terkait antrian haji yang panjang.
“Ya kecewa saya sebagai teman.
Tapi saya kemudian berpikir kan ini ada tambahan 20 ribu, bisa nggak sih dipercepat?
Kita masuk ke situ.
Sebab pada dasarnya cerita ini juga kita rasakan oleh banyak orang.
Salah satunya saya,” pungkas Islah.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok

