Breaking Posts

10/trending/recent

Hot Widget

Type Here to Get Search Results !

Rupiah Terdepak ke Rp16.865 dan Kian Dekati Batas Psikologis Rp17.000 per Dolar AS

 

Repelita [Jakarta] - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat mencatat pelemahan sebesar lima poin pada penutupan perdagangan hari ini.

Mata uang nasional tersebut bergerak ke level Rp16.865 per dolar AS dibandingkan posisi sebelumnya di Rp16.860 per dolar AS pada hari Selasa.

Pergerakan ini semakin mendekatkan rupiah menuju batas psikologis penting di kisaran Rp17.000 per dolar Amerika Serikat.

Pengamat ekonomi dan komoditas Ibrahim Assuaibi memperkirakan bahwa nilai tukar rupiah akan tetap berada di zona merah pada hari Kamis tanggal 15 Januari 2026.

"Sedangkan untuk perdagangan besok, mata uang rupiah fluktuatif, namun ditutup melemah di rentang Rp16.860-Rp16.890 per dolar AS," ungkap Direktur PT Traze Andalan Futures tersebut.

Ibrahim menjelaskan bahwa prospek nilai tukar rupiah saat ini dihantui oleh berbagai sentimen politik dan ekonomi di tingkat global.

Secara khusus, perkembangan situasi di Amerika Serikat memberikan pengaruh yang cukup signifikan terhadap pergerakan mata uang.

Indeks harga konsumen inti sebagai indikator inflasi di Amerika Serikat mencatat kenaikan sebesar 0,2 persen pada bulan Desember 2025.

Secara tahunan, indeks tersebut mengalami kenaikan sebesar 2,6 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya.

Pelaku pasar keuangan memperkirakan bahwa bank sentral Amerika Serikat akan menurunkan suku bunga acuannya sebanyak dua kali sepanjang tahun 2026.

Kondisi ini dinilai semakin memperbesar kerentanan nilai tukar rupiah terhadap tekanan pelemahan.

Dinamika geopolitik global turut memberikan kontribusi terhadap tekanan tersebut, khususnya demonstrasi besar-besaran yang terjadi di Iran.

Situasi di Iran meningkatkan kekhawatiran akan meluasnya ketidakstabilan politik dan keamanan di kawasan Timur Tengah.

Dinamika politik dalam negeri Iran diperkirakan akan memicu respons keras dari pemerintahan Presiden Amerika Serikat Donald Trump.

Respons tersebut berpotensi diwujudkan melalui tindakan militer atau penetapan kebijakan perdagangan yang lebih ketat.

Pemerintah Amerika Serikat berpotensi menerapkan tarif sebesar dua puluh lima persen terhadap negara-negara yang tetap menjalin hubungan bisnis dengan Iran.

Ibrahim Assuaibi menerangkan bahwa rupiah juga berpotensi melemah akibat sentimen terkait independensi bank sentral Amerika Serikat.

Independensi The Federal Reserve mulai tergoyahkan setelah pemerintahan Trump mengancam akan menyelidiki kasus yang melibatkan Ketua The Fed Jerome Powell.

"Perkembangan ini membuat investor gelisah, para kepala bank sentral dan eksekutif bank besar dunia.

secara terbuka mendukung Powell.

Ini pesan penting untuk AS agar menjaga otonomi bank sentral dari tekanan politik," kata Ibrahim.

Di sisi lain, Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas Bank Indonesia Erwin G Hutapea menyatakan bahwa pihaknya konsisten menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.

Stabilitas nilai tukar dipandang sangat penting untuk mendukung pertumbuhan ekonomi nasional secara berkelanjutan.

Pergerakan berbagai mata uang di dunia pada awal tahun 2026, termasuk rupiah, banyak dipengaruhi oleh meningkatnya tekanan terhadap pasar keuangan global.

"Tekanan bersumber dari eskalasi tensi geopolitik.

Misalnya, kekhawatiran terhadap independensi bank sentral di sejumlah negara maju, serta ketidakpastian arah kebijakan moneter The Fed ke depan.

Selain itu, kebutuhan valuta asing domestik memang meningkat di awal tahun," terang Erwin.

Dia menegaskan bahwa stabilitas nilai tukar rupiah saat ini masih tetap terjaga berkat konsistensi kebijakan stabilisasi yang dilakukan oleh Bank Indonesia.

Kebijakan tersebut dijalankan secara berkesinambungan melalui intervensi di pasar valuta asing non deliverable forward di kawasan Asia, Eropa, dan Amerika.

Intervensi juga dilakukan di pasar domestik melalui transaksi spot, domestic non deliverable forward, serta pembelian surat berharga negara di pasar sekunder.

Selain itu, Erwin menyebutkan bahwa berlanjutnya aliran masuk modal asing turut mendukung terkendalinya stabilitas nilai tukar rupiah.

Aliran modal asing terutama masuk ke instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia dan pasar saham dengan nilai neto mencapai Rp11,11 triliun pada Januari 2026.

Perkembangan tersebut dinilai masih sejalan dengan persepsi investor global terhadap Indonesia yang tetap positif.

Hal ini tercermin dari premi risiko credit default swap Indonesia tenor lima tahun yang berada pada level rendah sekitar 72 basis poin.

"Ketahanan eksternal tetap baik, tercermin dari cadangan devisa Indonesia pada akhir Desember 2025, tercatat 156,5 miliar dolar AS.

Atau setara 6,4 bulan impor.

Masih sangat memadai untuk buffer saat menghadapi tekanan besar di pasar keuangan global," pungkasnya.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok


Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.

Top Post Ad

Below Post Ad

ads bottom

Copyright © 2023 - Repelita.id | All Right Reserved