Repelita Jakarta - Ketua Harian Dewan Pimpinan Pusat Partai Solidaritas Indonesia Ahmad Ali menegaskan bahwa hingga saat ini tidak ada calon wakil presiden yang lebih baik dan berpotensi daripada Gibran Rakabuming Raka.
Ali memandang bahwa Gibran merupakan representasi kaum muda yang tidak hanya cerdas tetapi juga memiliki rekam jejak sebagai petahana dengan pengalaman kepemimpinan nyata di pemerintahan.
Dia menyatakan bahwa tidak ada calon wakil presiden yang lebih baik daripada Gibran saat ini untuk mendampingi calon presiden mana pun.
Menurut Ahmad Ali, Gibran mewakili anak muda, memiliki status incumbent, dan dinilai sebagai pribadi yang pintar serta kompeten.
Lebih lanjut dia menyoroti pengalaman Gibran yang pernah menjabat sebagai Wali Kota hingga Wakil Presiden sebagai nilai tambah yang signifikan.
Dia mempertanyakan keberadaan calon lain yang memiliki portofolio kepemimpinan di tingkat wakil presiden sekaligus menegaskan bahwa status incumbent menjadi indikator utama keunggulan.
Ahmad Ali menegaskan bahwa pengalaman Gibran dalam birokrasi dan pemerintahan menjadi faktor pembeda yang kuat dibandingkan dengan kandidat lainnya.
Menanggapi pandangan tersebut, politisi Partai Solidaritas Indonesia Dedy Nur Palakka membaca pernyataan Ali dalam konteks yang lebih luas sesuai dengan dinamika sejarah politik.
Menurutnya, nama Gibran Rakabuming Raka baru muncul ke permukaan ketika Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan menolak menjadi orang nomor dua di Republik Indonesia melalui tokoh Ganjar Pranowo.
Dedy Nur menyatakan bahwa nama Gibran tidak muncul dalam wacana wakil presiden untuk semua kandidat calon presiden yang hendak bertanding sebelum situasi politik tertentu.
Itulah yang menurutnya menjadi alasan fundamental mengapa pernyataan Ahmad Ali mengenai Gibran menjadi relevan dengan pertanyaan retoris apakah ada calon wapres yang lebih baik.
Dia mencatat bahwa setelah kemunculan nama Gibran sebagai kandidat potensial calon wakil presiden, semua kandidat calon presiden berlomba ingin meminangnya menjadi pasangan.
Dedy Nur menegaskan bahwa Anies Baswedan, Ganjar Pranowo, dan Prabowo Subianto sangat bersemangat membujuk Gibran untuk bersedia menjadi wakil presiden mereka.
Singkat cerita, dari sekian banyak lobi politik yang terjadi, Gibran akhirnya memutuskan untuk berjalan bersama Prabowo Subianto dalam kontestasi pemilihan presiden.
Dari sanalah menurut Dedy semua jenis kejengkelan politik berawal, karena Gibran menjadi penyebab utama mengapa pihak-pihak tertentu merasa sangat kecewa.
Gibran Rakabuming Raka dinilai menjadi penyebab mengapa mereka begitu tantrum dan jengkel bukan main akibat pilihannya yang tidak berjalan bersama mereka.
Kira-kira demikian terjemahan politik yang dibaca oleh Dedy Nur Palakka dari pernyataan Ketua Harian DPP Partai Solidaritas Indonesia Ahmad Ali.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok

