
Repelita Makassar - Seorang perempuan dengan pangkat Kapten Laut bernama Fernanda Stevi Aulia memimpin misi udara dalam pencarian korban kecelakaan pesawat.
Dia merupakan satu-satunya pilot perempuan yang mengendalikan helikopter dalam operasi kemanusiaan tersebut.
Misi pencarian difokuskan pada lokasi jatuhnya pesawat ATR 42-500 di kawasan Gunung Bulusaraung.
Kecelakaan tragis itu terjadi pada hari Sabtu tanggal 17 Januari 2026 dan menewaskan seluruh penumpang serta kru.
Kapten Nanda, sapaan akrabnya, mulai terlibat dalam operasi sejak hari Selasa tanggal 20 Januari 2026.
Setiap kali menerbangkan helikopter menuju koordinat jatuhnya pesawat, dia merasakan pergulatan batin yang mendalam.
"Rasa deg-degan dan khawatir itu selalu ada," aku Nanda dengan jujur saat ditemui di Kantor Basarnas Makassar.
Namun perasaan was-was tersebut selalu dikalahkan oleh tekad kuatnya untuk membantu sesama.
Bagi seorang ibu dengan satu anak ini, menolong rekan sejawat yang tertimpa musibah merupakan panggilan jiwa.
Meski telah berpengalaman dalam berbagai operasi TNI Angkatan Laut, ini menjadi pengalaman pertamanya di tim SAR gabungan.
Operasi ini bertujuan khusus untuk mencari korban kecelakaan pesawat sipil di wilayah pegunungan.
"Kami tetap mengedepankan safety bersama kru lainnya. Keinginan terbesar kami adalah menolong rekan-rekan kita," tambahnya.
Perjalanan misi kemanusiaan ini tidak berjalan mudah dan dihadapi berbagai tantangan alam.
Pada hari Selasa tanggal 20 Januari, dia dan tim berhasil mengevakuasi satu korban di Kecamatan Cenrana, Kabupaten Maros.
Keesokan harinya pada hari Rabu tanggal 21 Januari, kondisi cuaca memburuk secara drastis.
Kabut tebal disertai angin kencang memaksa Nanda mengambil keputusan sulit untuk kembali ke pangkalan.
Keputusan tersebut diambil demi menjaga keselamatan seluruh kru dan kelangsungan operasi.
Pada hari Jumat tanggal 23 Januari, dia memanfaatkan celah cuaca yang membaik untuk kembali terbang.
Dalam dua kali penerbangan pada hari itu, dia berhasil mengevakuasi dua bagian jenazah korban.
Karier militernya dimulai dengan bertugas di berbagai Kapal Republik Indonesia sebelum beralih ke penerbangan.
Pada tahun 2022, dia memantapkan pilihannya untuk bergabung dengan satuan penerbangan TNI Angkatan Laut.
Penugasan militernya pernah membawanya ke berbagai wilayah dari Tanjung Pinang hingga Surabaya.
Kini dia dipercaya mengoperasikan alutsista udara dalam misi-misi kemanusiaan dan operasional lainnya.
TNI Angkatan Laut memiliki satuan penerbangan yang mengoperasikan berbagai jenis pesawat.
Jenis pesawat tersebut meliputi pesawat bersayap tetap, pesawat Casa, dan juga pesawat jenis CN.
Di satuan itu, Nanda membuktikan bahwa ketangguhan dan profesionalisme tidak mengenal jenis kelamin.
Setelah operasi pencarian dinyatakan resmi berakhir oleh Kepala Basarnas, dia merasakan kelegaan.
Meski dihadapkan pada pemandangan pilu selama misi, dia tenang karena telah memberikan usaha maksimal.
"Kami lega bisa menyelesaikan misi kemanusiaan ini. Semoga keluarga korban diberikan ketabahan dan rekan-rekan kita bisa dimakamkan dengan layak," tutupnya dengan nada haru.
Misi pencarian korban kecelakaan pesawat ATR 42-500 telah menorehkan pengalaman mendalam bagi seluruh tim.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok

