
Repelita [Jakarta] - Pengamat hubungan internasional dari Universitas Indonesia Hikmahanto Juwana menyarankan pemerintah untuk memperhatikan berbagai dampak geopolitik yang mungkin timbul dari ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat.
Dia menyoroti perlunya kewaspadaan nasional dalam menyikapi dinamika global yang dapat mempengaruhi posisi dan kepentingan Indonesia.
Menurut analisisnya, situasi geopolitik global dapat berubah secara drastis dan memaksa berbagai negara untuk memilih pihak di antara kekuatan besar yang berseteru.
Situasi semacam ini menimbulkan tantangan tersendiri bagi Indonesia dalam menentukan sikap diplomatik yang tepat.
Tekanan dari berbagai blok kekuatan internasional berpotensi mempengaruhi kebijakan luar negeri dan hubungan strategis yang telah dibangun.
Fenomena konflik geopolitik yang memaksa negara untuk memilih dukungan bukanlah hal baru dalam sejarah hubungan internasional.
Indonesia perlu mempersiapkan strategi yang matang untuk menghadapi situasi global yang semakin tidak stabil.
Konflik di suatu kawasan tertentu dapat memicu reaksi berantai yang meluas ke berbagai wilayah lain di dunia.
Contohnya adalah ketika negara-negara di belahan dunia lain mengalami protes besar terhadap pemerintah mereka.
Protes tersebut dapat mendorong negara-negara tersebut untuk mencari dukungan atau melakukan balasan terhadap campur tangan kekuatan global.
Dampak semacam ini berpotensi memperluas ketegangan dan memengaruhi iklim politik global secara keseluruhan.
Pada gilirannya, kondisi tersebut dapat memberi tekanan terhadap keamanan regional dan stabilitas kawasan.
Lebih lanjut, potensi terganggunya rantai pasok global dan kenaikan harga minyak mentah menjadi ancaman nyata bagi perekonomian nasional.
Konflik yang intens di kawasan Timur Tengah berpotensi mempengaruhi alur pasokan energi dunia secara signifikan.
Jalur pengapalan utama seperti Selat Hormuz yang menjadi rute penting ekspor minyak global sangat rentan terhadap gangguan.
Gangguan di jalur strategis tersebut dapat memicu lonjakan harga energi yang berdampak luas.
Dampak tersebut mencakup kenaikan biaya produksi, tekanan inflasi, dan gangguan terhadap stabilitas ekonomi domestik.
Situasi global semacam ini pernah menunjukkan pola di mana harga minyak dunia mengalami lonjakan akibat ketegangan serupa.
Lonjakan tersebut menimbulkan tekanan besar terhadap sektor energi serta sektor logistik nasional.
Situasi geopolitik yang terus memanas ini memunculkan kekhawatiran bahwa konflik antara Iran dan Amerika Serikat tidak akan berhenti di kawasan Timur Tengah.
Jika eskalasi konflik terus berlanjut, efek domino yang timbul dapat mengarah pada gangguan pertumbuhan ekonomi global.
Gangguan tersebut dapat mencakup sektor perdagangan, energi, dan pasar finansial yang saling terhubung.
Sebagai negara yang bergantung pada impor energi dan terintegrasi dengan pasar global, Indonesia harus mempersiapkan langkah mitigasi.
Langkah mitigasi yang komprehensif diperlukan untuk menghadapi berbagai kemungkinan dampak negatif dari ketegangan global.
Dalam konteks negosiasi, peluang dialog antara pihak yang berkonflik masih tetap terbuka meskipun situasi memanas.
Namun para ahli menilai bahwa negosiasi harus melibatkan pihak yang diakui secara sah dalam lingkup internasional.
“Trump harus bernegosiasi dengan pihak pemerintahan yang sah.
Dan kalau misalnya terjadi deadlock, di sinilah peran Indonesia.
Karena kita punya konstitusi yang menuntut agar Indonesia ikut berperan dalam ketertiban dunia,” ungkap Hikmahanto seperti dikutip dari YouTube official iNews.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok

