Repelita Surakarta - Mantan Wakil Kepala Kepolisian Republik Indonesia Komjen Polisi Purnawirawan Oegroseno kembali hadir sebagai saksi fakta dalam persidangan.
Sidang lanjutan gugatan citizen lawsuit terkait ijazah mantan Presiden Joko Widodo digelar di Pengadilan Negeri Surakarta.
Penggugat menghadirkan dokumen asli ijazah Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada milik Bambang Sugy Harto sebagai pembanding.
Buku album alumni juga diajukan sebagai alat bukti tambahan dalam proses pemeriksaan persidangan.
Dokumen ijazah pembanding tersebut mencantumkan tahun kelulusan yang sama yaitu seribu sembilan ratus delapan puluh lima.
Perbedaan terdapat pada bulan kelulusan dengan ijazah Bambang tercatat bulan Mei sedangkan dokumen Jokowi tertulis November.
Oegroseno melakukan pemeriksaan dan perbandingan langsung terhadap dokumen asli dengan ijazah yang beredar di media sosial.
Ijazah yang dibandingkan adalah dokumen yang diunggah oleh kader Partai Solidaritas Indonesia Dian Sandi Utama.
Kuasa hukum penggugat Wirawan Adnan meminta pendapat saksi mengenai perbedaan yang ditemukan setelah melakukan perbandingan.
Oegroseno menyatakan terdapat sejumlah perbedaan mencolok antara kedua dokumen ijazah yang diperbandingkan.
Perbedaan pertama terletak pada keberadaan hologram pengaman di sisi kiri dokumen asli.
Kemudian terdapat perbedaan nilai materai dengan dokumen pembanding menggunakan materai lima ratus rupiah.
Sementara dokumen yang diduga milik Joko Widodo menggunakan materai senilai seratus rupiah.
Oegroseno menyebut perlu pemeriksaan khusus terhadap cap resmi yang terdapat pada kedua dokumen.
Analisis tanda tangan menunjukkan perbedaan pada titik-titik tertentu dalam tarikan garis tanda tangan.
Saksi juga menemukan perbedaan sangat jelas pada foto yang tertera di dalam dokumen ijazah.
Ia menyatakan foto pada ijazah tidak mirip sama sekali dengan wajah asli Joko Widodo yang pernah ditemuinya.
Pertemuan langsung antara Oegroseno dengan Joko Widodo terjadi pada tahun dua ribu lima belas.
Perbandingan dengan foto masa kecilnya sendiri justru menunjukkan tingkat kemiripan yang lebih tinggi.
Tidak ditemukan kemiripan sama sekali antara foto di ijazah dengan penampilan fisik Joko Widodo yang dikenal publik.
Oegroseno menegaskan perbedaan materai menunjukkan ketidakseragaman dalam dokumen resmi tahun yang sama.
Dokumen yang diterbitkan pada bulan Mei menggunakan materai lima ratus rupiah sesuai ketentuan.
Sedangkan dokumen yang diterbitkan November justru menggunakan materai seratus rupiah yang dianggap tidak wajar.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok

